Tak matang berencana, kepuasanpun berkurang

<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Bicara tentang Bromo, siapakah yang tidak kenal Bromo? Bromo adalah salah satu destinasi impian bagi kebanyakan orang.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Mengunjungi destinasi impian ternyata harus disertai pengetahuan. Tanpa memiliki pengetahuan yang cukup atas destinasi tersebut maka tingkat pengalaman dan kepuasan saat mengunjungi destinasi impian tersebut menjadi tidak maksimal.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Bromo setelah sekian lama dari kunjungan pertama. Jeda kunjungan pertama dengan kedua cukup jauh waktunya. Dan kunjungan pertama, sangat tergantung pada EO. Sementara kunjungan saya kali ini adalah kunjungan mandiri bersama keluarga. Ingatan kunjungan pertama telah memudar dan menghilang karena jeda waktu yang demikian lamanya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Maka mulailah kami mencari-cari informasi dari Mbah Google tentang bagaimana mengatur perjalanan ke Bromo (apakah via Malang dan menginap di dalam kota Malang atau menginap dekat jalur penanjakan Bromo dari arah Malang atau via Lumajang) dan mencari mobil sejenis Jeep menuju lokasi-lokasi menarik di seputar Bromo. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di dalam kota Malang dan selanjutnya mencari tambahan informasi tentang pemilihan Jeep yang harus dikendarai untuk menikmati pemandangan Bromo.  </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kami masuk Malang menjelang magrib dan sesampai hotel, kami segera menghubungi penyedia mobil sejenis Jeep untuk perjalanan ke Bromo. Penyedia mobil menyatakan bahwa kami akan dijemput di hotel untuk diantar ke titik temu dan selanjutnya dari titik temu tersebut akan menuju lokasi wisata Bromo. Kamipun dijanjikan setelah kembali dari Bromo, akan dijemput kembali di titik temu untuk diantar kembali ke hotel.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kami mengira bahwa kami akan langsung dijemput dengan mobil Jeep namun saat dijemput jam setengah 12 malam, ternyata mobil yang dipakai untuk menjemput kami adalah sejenis city car. Padahal kami sudah membayangkan bakal menelusuri jalanan kota Malang dengan mobil Jeep.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Setelah mencapai titik kumpul yang dituju, barulah kami bertemu dengan sejumlah mobil sejenis Jeep yang berjejer. Kami bertemu dengan beberapa kelompok lain dengan tujuan yang sama. Setelah sekian lama menunggu (kurang lebih hampir satu jam), kami berlima akhirnya masuk ke mobil.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sekian jam kami menembus kegelapan malam nan sepi namun ramai, ramai dengan konvoi mobil sejenis Jeep. Jalanan datar yang bergelombang dilalui dengan penuh goncangan hingga mencapai kontur jalanan menaik dan menurun dengan berbagai kelokan yang tajam serta diantaranya dilengkapi dengan jurang-jurang yang dalam (baru terlihat saat perjalanan balik meninggalkan Bromo di pagi menjelang siang hari). Goncangan demi goncangan harus kami rasakan di tengah kegelapan malam.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kurang lebih 1,5 jam sebelum subuh kami diturunkan di sebuah lokasi. Sang pengemudi mengatakan bahwa silahkan beristirahat sejenak sebelum ke puncak untuk melihat matahari terbit. Saat kami tanya, berapa jauh perjalanan ke puncak? Jalan kaki saja, tidak sampai 500 meter kok. Setelah selesai menikmati puncak, silahkan kembali ke mobil. Selanjutnya pengemudi langsung menggulung sarung yang ada di dirinya dan tiduran di mobil. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kami dibiarkan sendirian. Akhirnya kami istirahat di warung saja dulu sambil memesan makanan dan minuman hangat serta mencari aksesoris tambahan untuk mengurangi hawa dingin yang amat sangat menyengat. Dengan PD-nya kami tidak mencari informasi tambahan di warung singgah pertama tersebut. Kami masih percaya dengan sang pengemudi bahwa jarak menuju puncak hanyalah perlu jalan 500 meteran.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Setelah menikmati makanan dan minuman hangat, kami jalan menuju puncak. Kami mengikuti jalur jalanan besar. Semakin lama kami berjalan semakin sepi dan hanya sekali-kali dilalui oleh sejumlah motor dan beberapa mobil sejenis Jeep. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">500 meter lebih sudah kami tempuh namun kemana kami mengarah tidak jelas benar. Kamipun semakin panik karena hanya terlihat 2 kelompok yang seperti kami. Banyak diantara pengendara motor (ojek) yang menawarkan jasa ke kami dan bilang bahwa jarak menuju puncak masih sangat jauh. Kami langsung tak percaya dan dengan PD-nya terus berjalan di kegelapan. Namun setelah melihat jalur keatas dimana lampu-lampu motor dan mobil semakin mengecil maka kamipun menjadi ragu… Jangan-jangan apa yang dikatakan para pemotor benar.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Akhirnya kami-pun mengiyakan penawaran pemotor berikutnya. Untung tidak dalam waktu lama 5 pemotor datang secara hampir berbarengan sehingga cukup untuk menaikkan kami semua. Kamipun diturunkan di suatu tempat dan karena hari masih gelap gulita maka kami mampir lagi ke salah satu dari deretan warung yang ada. Sambil menghangatkan diri dari perapian anglo yang tersedia sambil minum minuman hangat pesanan, kamipun bertanya: apakah puncak terbaik untuk melihat matahari terbit sudah dekat? </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Pengelola warung menyatakan bahwa puncak dengan pemandangan terbaik masih jauh. Pengelola warung bercerita bahwa ada 3 lokasi untuk melihat pemandangan matahari terbit yakni bukit Cinta, bukit Kinkong, dan puncak Pananjakan. Saat ini kami ada di bukit Kinkong.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kekecewaan kembali menerpa kami. Kamipun harus naik motor lagi untuk menuju puncak Penanjakan. Kamipun harus kembali keluar ongkos lagi untuk naik ojek motor. Kamipun bertanya ke pengelola warung tentang biaya normal untuk mengendarai mobil hingga ke puncak Penanjakan. Saat kami sampaikan berapa biaya mobil, sang pengelola warung mengatakan bahwa itu sebetulnya harga normal yang sudah bisa sampai lokasi dekat puncak Penanjakan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dengan memendam kekecewaan, kamipun akhirnya bayar ojek motor lagi menuju puncak Penanjakan. Ternyata di area dekat Pananjakan telah berjejer mobil sejenis Jeep. Kekecewaan kamipun bertambah, kenapa Jeep kami tidak mengantar kami hingga ke lokasi Penanjakan?</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dengan memendam kekecewaan, kamipun mengikuti jalan setapak naik menuju puncak Penanjakan untuk melihat matahari terbit. Ditengah hawa dingin yang sangat menyengat, kami sempatkan sholat subuh dulu ditempat yang seadanya (tidak di musholla karena musholla letaknya ada di awal jalan naik menuju Penanjakan). </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Lokasi pengamatan matahari terbit sudah penuh sesak dan hanya menyisakan beberapa tempat yang kurang strategis. Tempat duduk berupa undakan semen bertingkatpun juga penuh sesak. Berbagai jenis kamera sudah nongkrong di lokasi-lokasi strategis. Sayangnya matahari terbit tidak terlihat karena terlindungin oleh awan tebal. Lagi-lagi kami harus kecewa karena waktu berkunjung kami ternyata salah: ingin melihat matahari terbit kok disaat musim hujan. Waktu kunjungan yang paling tepat adalah disaat musim kemarau agar mendapatkan pemandangan yang memukau.  </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kekurangtahuan kami menyebabkan sejumlah kekecewaan. Kami harus membayar tambahan ratusan ribu untuk ojek motor karena kesepakatan penawaran yang kurang jelas alias kesepakatan abu-abu dengan agen yang menghubungkan kami dengan mobil Jeep. Dan kesempatan melihat terbit matahari serta melihat pemandangan menawan dari puncak Penanjakan-pun menghilang.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kamipun harus bayar lagi ojek motor untuk turun menuju bukit cinta dan mencari mobil untuk turun ke padang savana Bromo. Kamipun akhirnya protes ke pengemudi Jeep kenapa kami tidak dibawa ke puncak Penanjakan 1. Pengemudi dengan santainya mengatakan bahwa agen tidak menyampaikan permintaan tersebut sehingga kami hanya diturunkan di bukit cinta. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Mendapat respon pengemudi, kami diam saja karena sebelumnya (saat mampir di warung ke 2) kami sudah dapat informasi bahwa ternyata hubungan pengemudi dan agen adalah bersifat partner lepas (owh-owh ternyata yang kami hubungi dari kota Malang adalah agen dan bukan pemilik Jeep langsung). Informasi ini kami dapatkan dari pengelola warung diatas. Menurut pengelola warung, sejumlah pengemudi lebih senang menurunkan tamu di bukit cinta agar turunnya tidak antri panjang alias menghemat waktu turun. Alasan yang masuk akal namun alasan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan kami. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Protes dan kekecewaan yang ada kami pendam saja karena masih ada padang savana. Dan entah karena apa, pengemudi kami menjadi amat sangat ramah dari sebelumnya. Saat turun ke padang savana, beliau banyak ber-cerita dan mengantarkan kami ke spot-spot yang menarik di berbagai sudut padang savana Bromo. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Pemandangan di padang savana Bromo betul-betul luar biasa, apalagi di kala musim hujan. Pemandangan hijau nan menawan menjadi mengelilingi padang pasir yang mengendap akibat musim hujan. Walaupun kami tidak menikmati momen pasir berbisik (hanya ada di kala musim kemarau) namun kami sangat puas dengan spot-spot pilihan lokasi foto yang direkomendasikan pengemudi. Saat-saat tertentu kami berhenti cukup lama untuk bisa menikmati pemandangan yang spektakuler. Kekecewaan kamipun akhirnya cukup terobati. Dan pengemudi kami mengatakan bahwa tidak semua pengemudi Jeep membawa tamu-nya ke spot-spot menarik di seputar padang savana. Thanks Mas Apri (081357536468) yang telah membawa kami menuju spot-spot spektakuler di padang savana Bromo.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Walaupun kami memutuskan tidak naik melihat kawah Bromo karena diantara rombongan kami ada yang tidak cukup kuat menaiki tangga kawah Bromo yang tinggi namun kami sangat puas menikmati berbagai spot spektakuler di seputar padang savana yang amat luas. Setelah sekian lama menikmati padang savana, kamipun meluncur turun menuju lokasi titik temu di kota Malang.</font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Lagi-lagi kami harus kecewa karena sesampai di titik temu, mobil jemputan kami yang bertugas mengantar kembali ke hotel belum nongol. Kamipun harus menunggu cukup lama dan baru datang setelah berkali-kali dihubungi. Sepertinya tidak ada koordinasi antara pengemudi Jeep dengan yang mengantar kami ke hotel. </font></span></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; min-height: 12px;"><font face="Verdana"><span style="font-kerning: none"></span><br></font></p>
<p style="margin: 0px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal;"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Kekurangcermatan merencakan perjalanan wisata ternyata bisa mengurangi tingkat kepuasan wisata itu sendiri. Pelajaran yang bisa kami ambil dari perjalanan kami adalah bila suatu saat ingin kembali ke Bromo, ada baiknya langsung saja menghubungi pemilik Jeep yang juga sekaligus pengemudi Jeep agar tidak terjadi mispersepsi seperti kami.  </font></span></p>

Bicara tentang Bromo, siapakah yang tidak kenal Bromo? Bromo adalah salah satu destinasi impian bagi kebanyakan orang.


Mengunjungi destinasi impian ternyata harus disertai pengetahuan. Tanpa memiliki pengetahuan yang cukup atas destinasi tersebut maka tingkat pengalaman dan kepuasan saat mengunjungi destinasi impian tersebut menjadi tidak maksimal.


Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Bromo setelah sekian lama dari kunjungan pertama. Jeda kunjungan pertama dengan kedua cukup jauh waktunya. Dan kunjungan pertama, sangat tergantung pada EO. Sementara kunjungan saya kali ini adalah kunjungan mandiri bersama keluarga. Ingatan kunjungan pertama telah memudar dan menghilang karena jeda waktu yang demikian lamanya.



Maka mulailah kami mencari-cari informasi dari Mbah Google tentang bagaimana mengatur perjalanan ke Bromo (apakah via Malang dan menginap di dalam kota Malang atau menginap dekat jalur penanjakan Bromo dari arah Malang atau via Lumajang) dan mencari mobil sejenis Jeep menuju lokasi-lokasi menarik di seputar Bromo. 


Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di dalam kota Malang dan selanjutnya mencari tambahan informasi tentang pemilihan Jeep yang harus dikendarai untuk menikmati pemandangan Bromo.  


Kami masuk Malang menjelang magrib dan sesampai hotel, kami segera menghubungi penyedia mobil sejenis Jeep untuk perjalanan ke Bromo. Penyedia mobil menyatakan bahwa kami akan dijemput di hotel untuk diantar ke titik temu dan selanjutnya dari titik temu tersebut akan menuju lokasi wisata Bromo. Kamipun dijanjikan setelah kembali dari Bromo, akan dijemput kembali di titik temu untuk diantar kembali ke hotel.


Kami mengira bahwa kami akan langsung dijemput dengan mobil Jeep namun saat dijemput jam setengah 12 malam, ternyata mobil yang dipakai untuk menjemput kami adalah sejenis city car. Padahal kami sudah membayangkan bakal menelusuri jalanan kota Malang dengan mobil Jeep.


Setelah mencapai titik kumpul yang dituju, barulah kami bertemu dengan sejumlah mobil sejenis Jeep yang berjejer. Kami bertemu dengan beberapa kelompok lain dengan tujuan yang sama. Setelah sekian lama menunggu (kurang lebih hampir satu jam), kami berlima akhirnya masuk ke mobil.


Sekian jam kami menembus kegelapan malam nan sepi namun ramai, ramai dengan konvoi mobil sejenis Jeep. Jalanan datar yang bergelombang dilalui dengan penuh goncangan hingga mencapai kontur jalanan menaik dan menurun dengan berbagai kelokan yang tajam serta diantaranya dilengkapi dengan jurang-jurang yang dalam (baru terlihat saat perjalanan balik meninggalkan Bromo di pagi menjelang siang hari). Goncangan demi goncangan harus kami rasakan di tengah kegelapan malam.


Kurang lebih 1,5 jam sebelum subuh kami diturunkan di sebuah lokasi. Sang pengemudi mengatakan bahwa silahkan beristirahat sejenak sebelum ke puncak untuk melihat matahari terbit. Saat kami tanya, berapa jauh perjalanan ke puncak? Jalan kaki saja, tidak sampai 500 meter kok. Setelah selesai menikmati puncak, silahkan kembali ke mobil. Selanjutnya pengemudi langsung menggulung sarung yang ada di dirinya dan tiduran di mobil. 


Kami dibiarkan sendirian. Akhirnya kami istirahat di warung saja dulu sambil memesan makanan dan minuman hangat serta mencari aksesoris tambahan untuk mengurangi hawa dingin yang amat sangat menyengat. Dengan PD-nya kami tidak mencari informasi tambahan di warung singgah pertama tersebut. Kami masih percaya dengan sang pengemudi bahwa jarak menuju puncak hanyalah perlu jalan 500 meteran.


Setelah menikmati makanan dan minuman hangat, kami jalan menuju puncak. Kami mengikuti jalur jalanan besar. Semakin lama kami berjalan semakin sepi dan hanya sekali-kali dilalui oleh sejumlah motor dan beberapa mobil sejenis Jeep. 


500 meter lebih sudah kami tempuh namun kemana kami mengarah tidak jelas benar. Kamipun semakin panik karena hanya terlihat 2 kelompok yang seperti kami. Banyak diantara pengendara motor (ojek) yang menawarkan jasa ke kami dan bilang bahwa jarak menuju puncak masih sangat jauh. Kami langsung tak percaya dan dengan PD-nya terus berjalan di kegelapan. Namun setelah melihat jalur keatas dimana lampu-lampu motor dan mobil semakin mengecil maka kamipun menjadi ragu… Jangan-jangan apa yang dikatakan para pemotor benar.


Akhirnya kami-pun mengiyakan penawaran pemotor berikutnya. Untung tidak dalam waktu lama 5 pemotor datang secara hampir berbarengan sehingga cukup untuk menaikkan kami semua. Kamipun diturunkan di suatu tempat dan karena hari masih gelap gulita maka kami mampir lagi ke salah satu dari deretan warung yang ada. Sambil menghangatkan diri dari perapian anglo yang tersedia sambil minum minuman hangat pesanan, kamipun bertanya: apakah puncak terbaik untuk melihat matahari terbit sudah dekat? 


Pengelola warung menyatakan bahwa puncak dengan pemandangan terbaik masih jauh. Pengelola warung bercerita bahwa ada 3 lokasi untuk melihat pemandangan matahari terbit yakni bukit Cinta, bukit Kinkong, dan puncak Pananjakan. Saat ini kami ada di bukit Kinkong.


Kekecewaan kembali menerpa kami. Kamipun harus naik motor lagi untuk menuju puncak Penanjakan. Kamipun harus kembali keluar ongkos lagi untuk naik ojek motor. Kamipun bertanya ke pengelola warung tentang biaya normal untuk mengendarai mobil hingga ke puncak Penanjakan. Saat kami sampaikan berapa biaya mobil, sang pengelola warung mengatakan bahwa itu sebetulnya harga normal yang sudah bisa sampai lokasi dekat puncak Penanjakan.


Dengan memendam kekecewaan, kamipun akhirnya bayar ojek motor lagi menuju puncak Penanjakan. Ternyata di area dekat Pananjakan telah berjejer mobil sejenis Jeep. Kekecewaan kamipun bertambah, kenapa Jeep kami tidak mengantar kami hingga ke lokasi Penanjakan?


Dengan memendam kekecewaan, kamipun mengikuti jalan setapak naik menuju puncak Penanjakan untuk melihat matahari terbit. Ditengah hawa dingin yang sangat menyengat, kami sempatkan sholat subuh dulu ditempat yang seadanya (tidak di musholla karena musholla letaknya ada di awal jalan naik menuju Penanjakan). 


Lokasi pengamatan matahari terbit sudah penuh sesak dan hanya menyisakan beberapa tempat yang kurang strategis. Tempat duduk berupa undakan semen bertingkatpun juga penuh sesak. Berbagai jenis kamera sudah nongkrong di lokasi-lokasi strategis. Sayangnya matahari terbit tidak terlihat karena terlindungin oleh awan tebal. Lagi-lagi kami harus kecewa karena waktu berkunjung kami ternyata salah: ingin melihat matahari terbit kok disaat musim hujan. Waktu kunjungan yang paling tepat adalah disaat musim kemarau agar mendapatkan pemandangan yang memukau.  


Kekurangtahuan kami menyebabkan sejumlah kekecewaan. Kami harus membayar tambahan ratusan ribu untuk ojek motor karena kesepakatan penawaran yang kurang jelas alias kesepakatan abu-abu dengan agen yang menghubungkan kami dengan mobil Jeep. Dan kesempatan melihat terbit matahari serta melihat pemandangan menawan dari puncak Penanjakan-pun menghilang.


Kamipun harus bayar lagi ojek motor untuk turun menuju bukit cinta dan mencari mobil untuk turun ke padang savana Bromo. Kamipun akhirnya protes ke pengemudi Jeep kenapa kami tidak dibawa ke puncak Penanjakan 1. Pengemudi dengan santainya mengatakan bahwa agen tidak menyampaikan permintaan tersebut sehingga kami hanya diturunkan di bukit cinta. 


Mendapat respon pengemudi, kami diam saja karena sebelumnya (saat mampir di warung ke 2) kami sudah dapat informasi bahwa ternyata hubungan pengemudi dan agen adalah bersifat partner lepas (owh-owh ternyata yang kami hubungi dari kota Malang adalah agen dan bukan pemilik Jeep langsung). Informasi ini kami dapatkan dari pengelola warung diatas. Menurut pengelola warung, sejumlah pengemudi lebih senang menurunkan tamu di bukit cinta agar turunnya tidak antri panjang alias menghemat waktu turun. Alasan yang masuk akal namun alasan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan kami. 


Protes dan kekecewaan yang ada kami pendam saja karena masih ada padang savana. Dan entah karena apa, pengemudi kami menjadi amat sangat ramah dari sebelumnya. Saat turun ke padang savana, beliau banyak ber-cerita dan mengantarkan kami ke spot-spot yang menarik di berbagai sudut padang savana Bromo. 


Pemandangan di padang savana Bromo betul-betul luar biasa, apalagi di kala musim hujan. Pemandangan hijau nan menawan menjadi mengelilingi padang pasir yang mengendap akibat musim hujan. Walaupun kami tidak menikmati momen pasir berbisik (hanya ada di kala musim kemarau) namun kami sangat puas dengan spot-spot pilihan lokasi foto yang direkomendasikan pengemudi. Saat-saat tertentu kami berhenti cukup lama untuk bisa menikmati pemandangan yang spektakuler. Kekecewaan kamipun akhirnya cukup terobati. Dan pengemudi kami mengatakan bahwa tidak semua pengemudi Jeep membawa tamu-nya ke spot-spot menarik di seputar padang savana. Thanks Mas Apri (081357536468) yang telah membawa kami menuju spot-spot spektakuler di padang savana Bromo.


Walaupun kami memutuskan tidak naik melihat kawah Bromo karena diantara rombongan kami ada yang tidak cukup kuat menaiki tangga kawah Bromo yang tinggi namun kami sangat puas menikmati berbagai spot spektakuler di seputar padang savana yang amat luas. Setelah sekian lama menikmati padang savana, kamipun meluncur turun menuju lokasi titik temu di kota Malang.


Lagi-lagi kami harus kecewa karena sesampai di titik temu, mobil jemputan kami yang bertugas mengantar kembali ke hotel belum nongol. Kamipun harus menunggu cukup lama dan baru datang setelah berkali-kali dihubungi. Sepertinya tidak ada koordinasi antara pengemudi Jeep dengan yang mengantar kami ke hotel. 


Kekurangcermatan merencakan perjalanan wisata ternyata bisa mengurangi tingkat kepuasan wisata itu sendiri. Pelajaran yang bisa kami ambil dari perjalanan kami adalah bila suatu saat ingin kembali ke Bromo, ada baiknya langsung saja menghubungi pemilik Jeep yang juga sekaligus pengemudi Jeep agar tidak terjadi mispersepsi seperti kami.  



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.