Lara Luna

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Luna menjerit penuh kepedihan saat mendapatkan informasi bahwa suaminya telah diketemukan di tengah hutan. Jerit dan tangisnya semakin pilu saat mengetahui bahwa suaminya diketemukan dalam kondisi tewas yang amat sangat mengenaskan. Sudah 1 minggu lebih dirinya menanti kabar keberadaan suaminya. Penantian yang penuh was - was. Luna adalah seorang VP di perusahaan terkenal. Posisinya adalah posisi mapan yang diimpikan oleh kebanyakan orang. Siapa nyana di tengah sukses profesionalnya, dalam 2 bulan terakhir wajahnya berubah total.  </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Setiap hari wajahnya penuh dengan senyuman. Bahasa tubuhnya menyiratkan energi yang besar. Intonasi suaranya menyiratkan semangat nan selalu membara. Decapan kagum sering terucap dari orang-orang yang ada diseputarnya. Namun siapa nyana, dalam 2 bulan terakhir wajah tersebut lenyap.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Intonasi suaranya berubah menjadi lemah, pelan, dan nyaris tak terdengar. Bahasa tubuhnya menyiratkan keletihan, kelesuan, dan kedukaan yang mendalam. Senyumannya perlahan menghilang.  Semuanya telah berubah total.  </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Kehidupan Luna yang tenang dan penuh gairah telah menghilang dalam 2 bulan ini. Anak satu - satunya telah meninggal sebulan lalu secara mendadak. Dan 1 bulan sebelumnya Ibunda tercintanya juga telah meninggalkan dirinya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Dan sekarang... kabar yang amat sangat memilukan menerpa dirinya. Hantaman kehidupan yang bertubi-tubi telah   meluluhlantakkan keceriaan dirinya. Luna yang penuh gairah menjadi lunglai. Gairah hidupnya seperti  tersedot oleh 3 pusaran derita yang amat susah untuk dimengerti.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Ya Tuhan, apa salah dan dosaku? Selama ini Engkau telah memulyakan diriku dengan berbagai nikmat yang luar biasa. Namun kenapa tiba-tiba Engkau renggut nikmat dan kebahagiaanku secara mendadak, bertubi-tubi, dan amat mengenaskan?: suaranya lirih menahan kegalauan dirinya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Owh Tuhan beginikah caraMu menghukum-ku? Tidak adakah Engkau memilihkan ujian yang ringan buatku?   </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Apakah ini sebagai akibat karena kekurangperhatianku sama mereka?</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Aku selama ini terlalu egois. Aku jauh lebih mementingkan karir profesionalku dibanding berbagi kebahagiaan bersama mereka.   </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Owh Tuhan, sungguh aku tak kuat menerima semua ujian ini. Ambil-lah nyawaku sekalian ya Tuhan.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Mereka yang mendengar rintihan lirih-nya segera memeluk erat dirinya, meneteskan air mata, tanpa bisa berkata-kata. Ada pula yang memeluk sambil pelan-pelan berbisik lirih selirih ucapan Luna: sabaaar.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Kejadian yang menimpa suaminya membuat dinding pertahananan Luna hancur- sehancurnya. Luna yang sekarang   bukanlah Luna yang dulu. Akibat derita batin  yang bertubi-tubi mengakibatkan Luna mengambil cuti panjang. Namun rupanya cuti panjangnya tidak bisa meredakan kepiluan hatinya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Akhirnya Luna melair ngantor lagi. Namun saat dikantor, Luna tiba-tiba sering termenung nggak jelas. Baik saat sendirian ataupun saat meeting. Fisik Luna ada ditempat namun pikiran hatinya sering melayang ke tempat yang berbeda. Anak buah, kolega, bahkan atasannya hanya bisa memaklumi kondisi dirinya.   </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Pernah suatu ketika saat meeting, Luna secara tiba-tiba seperti kehilangan dirinya. Luna menjadi diam dan tatapan matanya kosong. Kalau sudah demikian, orang-orang yang ada di seputarnya menjadi diam dan menunggu Luna untuk kembali hadir.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Kondisi tersebut terus berulang. Luna akhirnya sadar bahwa dirinya belum bisa sepenuhnya mengontrol lara yang menderanya. Luna akhirnya mengundurkan  diri dari pekerjaannya walaupun semua orang kantor mencegahnya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Hampir setahun Luna mengurung diri dirumah. Namun derita batinnya tidak juga  berkurang bahkan semakin menjadi-jadi. Apapun masukan keluarga besar dan teman-teman dekatnya agar jangan berlarut dengan lara, hanya  didiamkan. Semua nasehat dan saran agar move on tak bisa masuk ke benaknya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Namun demikian di kala - kala tertentu, dialog positif di internal dirinyapun mulai muncul: hingga sampai kapan aku harus seperti ini?</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Setelah 1 tahun 3 bulan berdiam diri di rumah. Luna mulai mencoba mengobati lara-nya dengan berbagai kegiatan luar: kulineran, jalan-jalan bersama teman-teman lamanya, bahkan hingga traveling ke berbagai negara. Namun  ternyata semua itu tak membuat laranya mereda bahkan timbul tenggelam tak menentu.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Setiap melihat pasangan suami istri yang lagi hangout, tatapan matanya tiba2 menjadi kosong karena teringat akan suaminya. Melihat Ibu yang sedang berjalan dengan anaknya, raut mukanya menjadi nanar dan menoleh kiri kanan seolah-olah sedang mencari anaknya. Setiap melihat wanita paruh baya berjalan bersama cucunya, terbayanglah wajah ibunya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Duch Tuhan, betapa menyesalnya aku sekian lama tenggelam dengan kesibukan profesionalku hingga seringkali aku lupa pada orang-orang yang sebetulnya amat sangat aku cintai. </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Ya Tuhan betapa bahagianya mereka masih yang masih memiliki kesempatan berbagi kebahagian dengan pasangan, anak, dan ibunda tercinta.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Ya Tuhan, kenapa Engkau renggut orang-orang terkasihku dengan cara yang demikian meluluhlantakkan hatiku disaat aku belum sempat membahagiakan mereka?</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Akhirnya Luna -pun tak kuat berlama-lama diluar. Luna kembali mengurung diri di rumah. Dan hampir 4 tahun Luna terhanyut dalam perasaan lara. Badannya semakin hari semakin kurus.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Secara ekonomi Luna tidak kekurangan walaupun sudah tidak bekerja selama 4 tahun. Luna selama ini telah berinvestasi ke aset-aset yang produktif. Hanya lara perasaan saja yang telah mengharubirukan dirinya.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Suatu saat ada salah satu anggota keluarga besarnya mengajaknya untuk ikut berkunjung ke suatu event pelayanan sosial ke anak-anak yatim, piatu, dan yatim piatu.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Ternyata banyak kisah pilu dibalik anak-anak tersebut. Ada yang ortu beserta saudaranya terbunuh dan hanya dialah yang selamat. Ada yang ortunya telah meninggal saat merantau dan keluarga besarnya membiarkannya terlantar. Ada pula bapaknya telah   meninggal dan ibunya pergi entah kemana. Berbagai latar belakang yang memilukan bercampur baur menjadi  satu. Namun hebatnya, tidak semua anak menampilkan wajah pilu walaupun disaat mereka diminta bercerita tentang latar belakang dirinya. </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Luna-pun membatin: mereka sendirian di dunia namun mereka   tidak mengeluh dan tidak larut dengan kesendirian mereka. Luar biasa. Aku harus belajar dari mereka.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Luna asyik berinteraksi dengan mereka, berbagi cerita hingga akhirnya Lunapun secara tak sadar berbagi tips and tricks bagaimana menata diri agar sukses. Untuk memancing tawa anak-anak Luna-pun secara tak sadar pula berbagi cerita lucu. Luna seperti keluar dari kepompongnya. Anggota keluarga yang mengajak dirinya hanya memandanginya saja dan membiarkan dirinya asyik dengan anak-anak.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Sebagian beban Luna sepertinya mulai terangkat. Wajah Luna memang agak beda saat perjalanan ke rumah. </font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Semenjak itu Luna lebih aktif di kegiatan-kegiatan pelayanan sosial, khususnya untuk kalangan-kalangan yang kurang beruntung. Dari waktu ke waktu ekspresi pilu diwajah Luna semakin memudar dan bahkan menghilang.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Hingga suatu saat anggota keluarga yang pertama kali mengajaknya di kegiatan pelayanan sosialpun tiba-tiba memeluknya sambil berkata lirih: Luna, mendung yang menyelimuti wajah dan kehidupanmu sepertinya sudah betul-betul menghilang…</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Luna-pun tersenyum: Pertama, setelah musibah beruntun… saya berpikir bahwa saya-lah orang yang paling malang di dunia namun saya salah.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Kedua, untuk bahagia itu ternyata  tidak harus berfokus pada membahagiakan diri sendiri. Selama ini saya terlalu egois. Ternyata membahagiakan orang lain akan berimbas pada kebahagiaan kita sendiri.</font></p>

<p style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Dan ketiga, musibah yang menimpa saya ternyata merupakan kebaikan Tuhan agar saya bisa melihat sisi kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Saya telah salah sangka. Entah sudah keberapa kali saya telah salah sangka pada-Nya.  </font></p>

Luna menjerit penuh kepedihan saat mendapatkan informasi bahwa suaminya telah diketemukan di tengah hutan. Jerit dan tangisnya semakin pilu saat mengetahui bahwa suaminya diketemukan dalam kondisi tewas yang amat sangat mengenaskan. Sudah 1 minggu lebih dirinya menanti kabar keberadaan suaminya. Penantian yang penuh was - was. Luna adalah seorang VP di perusahaan terkenal. Posisinya adalah posisi mapan yang diimpikan oleh kebanyakan orang. Siapa nyana di tengah sukses profesionalnya, dalam 2 bulan terakhir wajahnya berubah total.  

Setiap hari wajahnya penuh dengan senyuman. Bahasa tubuhnya menyiratkan energi yang besar. Intonasi suaranya menyiratkan semangat nan selalu membara. Decapan kagum sering terucap dari orang-orang yang ada diseputarnya. Namun siapa nyana, dalam 2 bulan terakhir wajah tersebut lenyap.

Intonasi suaranya berubah menjadi lemah, pelan, dan nyaris tak terdengar. Bahasa tubuhnya menyiratkan keletihan, kelesuan, dan kedukaan yang mendalam. Senyumannya perlahan menghilang.  Semuanya telah berubah total.  

Kehidupan Luna yang tenang dan penuh gairah telah menghilang dalam 2 bulan ini. Anak satu - satunya telah meninggal sebulan lalu secara mendadak. Dan 1 bulan sebelumnya Ibunda tercintanya juga telah meninggalkan dirinya.

Dan sekarang... kabar yang amat sangat memilukan menerpa dirinya. Hantaman kehidupan yang bertubi-tubi telah   meluluhlantakkan keceriaan dirinya. Luna yang penuh gairah menjadi lunglai. Gairah hidupnya seperti  tersedot oleh 3 pusaran derita yang amat susah untuk dimengerti.


Ya Tuhan, apa salah dan dosaku? Selama ini Engkau telah memulyakan diriku dengan berbagai nikmat yang luar biasa. Namun kenapa tiba-tiba Engkau renggut nikmat dan kebahagiaanku secara mendadak, bertubi-tubi, dan amat mengenaskan?: suaranya lirih menahan kegalauan dirinya.

Owh Tuhan beginikah caraMu menghukum-ku? Tidak adakah Engkau memilihkan ujian yang ringan buatku?   

Apakah ini sebagai akibat karena kekurangperhatianku sama mereka?

Aku selama ini terlalu egois. Aku jauh lebih mementingkan karir profesionalku dibanding berbagi kebahagiaan bersama mereka.   

Owh Tuhan, sungguh aku tak kuat menerima semua ujian ini. Ambil-lah nyawaku sekalian ya Tuhan.

Mereka yang mendengar rintihan lirih-nya segera memeluk erat dirinya, meneteskan air mata, tanpa bisa berkata-kata. Ada pula yang memeluk sambil pelan-pelan berbisik lirih selirih ucapan Luna: sabaaar.

Kejadian yang menimpa suaminya membuat dinding pertahananan Luna hancur- sehancurnya. Luna yang sekarang   bukanlah Luna yang dulu. Akibat derita batin  yang bertubi-tubi mengakibatkan Luna mengambil cuti panjang. Namun rupanya cuti panjangnya tidak bisa meredakan kepiluan hatinya.

Akhirnya Luna melair ngantor lagi. Namun saat dikantor, Luna tiba-tiba sering termenung nggak jelas. Baik saat sendirian ataupun saat meeting. Fisik Luna ada ditempat namun pikiran hatinya sering melayang ke tempat yang berbeda. Anak buah, kolega, bahkan atasannya hanya bisa memaklumi kondisi dirinya.   

Pernah suatu ketika saat meeting, Luna secara tiba-tiba seperti kehilangan dirinya. Luna menjadi diam dan tatapan matanya kosong. Kalau sudah demikian, orang-orang yang ada di seputarnya menjadi diam dan menunggu Luna untuk kembali hadir.

Kondisi tersebut terus berulang. Luna akhirnya sadar bahwa dirinya belum bisa sepenuhnya mengontrol lara yang menderanya. Luna akhirnya mengundurkan  diri dari pekerjaannya walaupun semua orang kantor mencegahnya.

Hampir setahun Luna mengurung diri dirumah. Namun derita batinnya tidak juga  berkurang bahkan semakin menjadi-jadi. Apapun masukan keluarga besar dan teman-teman dekatnya agar jangan berlarut dengan lara, hanya  didiamkan. Semua nasehat dan saran agar move on tak bisa masuk ke benaknya.

Namun demikian di kala - kala tertentu, dialog positif di internal dirinyapun mulai muncul: hingga sampai kapan aku harus seperti ini?

Setelah 1 tahun 3 bulan berdiam diri di rumah. Luna mulai mencoba mengobati lara-nya dengan berbagai kegiatan luar: kulineran, jalan-jalan bersama teman-teman lamanya, bahkan hingga traveling ke berbagai negara. Namun  ternyata semua itu tak membuat laranya mereda bahkan timbul tenggelam tak menentu.

Setiap melihat pasangan suami istri yang lagi hangout, tatapan matanya tiba2 menjadi kosong karena teringat akan suaminya. Melihat Ibu yang sedang berjalan dengan anaknya, raut mukanya menjadi nanar dan menoleh kiri kanan seolah-olah sedang mencari anaknya. Setiap melihat wanita paruh baya berjalan bersama cucunya, terbayanglah wajah ibunya.

Duch Tuhan, betapa menyesalnya aku sekian lama tenggelam dengan kesibukan profesionalku hingga seringkali aku lupa pada orang-orang yang sebetulnya amat sangat aku cintai. 

Ya Tuhan betapa bahagianya mereka masih yang masih memiliki kesempatan berbagi kebahagian dengan pasangan, anak, dan ibunda tercinta.

Ya Tuhan, kenapa Engkau renggut orang-orang terkasihku dengan cara yang demikian meluluhlantakkan hatiku disaat aku belum sempat membahagiakan mereka?

Akhirnya Luna -pun tak kuat berlama-lama diluar. Luna kembali mengurung diri di rumah. Dan hampir 4 tahun Luna terhanyut dalam perasaan lara. Badannya semakin hari semakin kurus.

Secara ekonomi Luna tidak kekurangan walaupun sudah tidak bekerja selama 4 tahun. Luna selama ini telah berinvestasi ke aset-aset yang produktif. Hanya lara perasaan saja yang telah mengharubirukan dirinya.

Suatu saat ada salah satu anggota keluarga besarnya mengajaknya untuk ikut berkunjung ke suatu event pelayanan sosial ke anak-anak yatim, piatu, dan yatim piatu.

Ternyata banyak kisah pilu dibalik anak-anak tersebut. Ada yang ortu beserta saudaranya terbunuh dan hanya dialah yang selamat. Ada yang ortunya telah meninggal saat merantau dan keluarga besarnya membiarkannya terlantar. Ada pula bapaknya telah   meninggal dan ibunya pergi entah kemana. Berbagai latar belakang yang memilukan bercampur baur menjadi  satu. Namun hebatnya, tidak semua anak menampilkan wajah pilu walaupun disaat mereka diminta bercerita tentang latar belakang dirinya. 

Luna-pun membatin: mereka sendirian di dunia namun mereka   tidak mengeluh dan tidak larut dengan kesendirian mereka. Luar biasa. Aku harus belajar dari mereka.

Luna asyik berinteraksi dengan mereka, berbagi cerita hingga akhirnya Lunapun secara tak sadar berbagi tips and tricks bagaimana menata diri agar sukses. Untuk memancing tawa anak-anak Luna-pun secara tak sadar pula berbagi cerita lucu. Luna seperti keluar dari kepompongnya. Anggota keluarga yang mengajak dirinya hanya memandanginya saja dan membiarkan dirinya asyik dengan anak-anak.

Sebagian beban Luna sepertinya mulai terangkat. Wajah Luna memang agak beda saat perjalanan ke rumah. 

Semenjak itu Luna lebih aktif di kegiatan-kegiatan pelayanan sosial, khususnya untuk kalangan-kalangan yang kurang beruntung. Dari waktu ke waktu ekspresi pilu diwajah Luna semakin memudar dan bahkan menghilang.

Hingga suatu saat anggota keluarga yang pertama kali mengajaknya di kegiatan pelayanan sosialpun tiba-tiba memeluknya sambil berkata lirih: Luna, mendung yang menyelimuti wajah dan kehidupanmu sepertinya sudah betul-betul menghilang…

Luna-pun tersenyum: Pertama, setelah musibah beruntun… saya berpikir bahwa saya-lah orang yang paling malang di dunia namun saya salah.

Kedua, untuk bahagia itu ternyata  tidak harus berfokus pada membahagiakan diri sendiri. Selama ini saya terlalu egois. Ternyata membahagiakan orang lain akan berimbas pada kebahagiaan kita sendiri.

Dan ketiga, musibah yang menimpa saya ternyata merupakan kebaikan Tuhan agar saya bisa melihat sisi kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Saya telah salah sangka. Entah sudah keberapa kali saya telah salah sangka pada-Nya.  



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.