Pertemanan yang menggelisahkan

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;">Enak sekali ngelihat si Jono, bisa menikmati apapun yang diinginkan. Kerja sedikit tapi menghasilkan uang banyak: kata Supono pada temannya.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ah loe No, bisamu cuma ngiri aja: timpal Kurnia temannya.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Yach gimana ya, sebagai manusia wajar donk ngebandingin! Masak nggak boleh ngebandingin!. Loe jangan sok suci-lah Kur: kata Supeno dengan muka cemberut.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Aku lihat Facebook-nya si temenku Jono, tiap bulan pasti jalan keluar negeri entah berapa kali. Naik pesawatpun selalu pilih pakai pesawat Boeing A380 dengan kelas eksekutif. Kulineran-pun kuliner kelas premium. Foto-foto yang terpampang di Facebook selalu mendapatkan respon decak kagum dari banyak orang. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Coba bandingkan dengan foto-foto Jono yang pernah aku tunjukkan padamu saat kami masih sama sama kuliah… kurus, kucel, dan sama-sama belelnya denganku: gerutu Supeno.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Dan yang menjengkelkan lagi, sombongnya Jono itu lho nggak ketulungan. Dulu kemana-mana selalu berduaan sama aku namun sekarang itu belagu banget. Kemarin saya ketemu di sebuah event…whuah aku kan saking rindunya.. membayangkan pertemuan yang hangat dan bisa ngobrol banyak. Namun apa yang terjadi? Cuma bertutur sapa sebentar namun selanjutnya dia pergi meninggalkanku untuk bercengkrama dengan sejumlah orang yang aku nggak kenal sama sekali.  </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Loe tuch No, sebetulnya ngiri ama kemampuan ekonomis Jono atau jengkel ama perlakukan Jono?:  sela Kurnia.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sambil melengoskan wajahnya, Supeno menjawab dengan penuh kekesalan: Ach loe Kur ya, bukannya mendukung-ku namun sepertinya malah mengecilkan-ku.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Jangan gitulah lah No, loe jangan baperan kaya anak kecil donk. Umur sudah mendekati 40-an kok masih baper sih: ujar si Kurnia membujuk Peno.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Namun Peno diam aja. Asap rokoknya aja yang terus mengepul. Kurnia-pun diam sehingga suasana menjadi hening. Mereka berdua akhirnya sibuk memainkan HP yang ada ditangannya.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Setelah sekian lama hening, Kurnia memecahkan suasana dengan berkata: No, apakah kamu masih merasakan kehampaan dalam perjalanan hidupmu?</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Dengan muka kaget Supeno menjawab: Ehm, kenapa loe menanyakan hal itu?</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Eits, jangan baper lagi. Aku kan sekedar nanya. Ingat nggak ketemuan kita beberapa waktu lalu. Loe kan pernah cerita soal fase-fase hampa dalam kehidupanmu?</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Owh: ujar Peno lirih. Emang kenapa loe nanyain itu? N apa hubungannya pertanyaan loe itu dengan apa yang saya ceritakan tentang Jono?</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Gini No. Jangan salah mengerti dengan pertanyaanku tadi. Beberapa waktu lalu kan dirimu pernah menyatakan bahwa hidup terasa hampa bila kita tidak bisa menjadi diri sendiri kan?. Loe saat itu bilang bahwa loe tidak bisa menikmati kehidupanmu dan disitulah loe merasa hampa. Akupun sangat setuju dengan apa yang loe katakan saat itu.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Hm tentunya aku sangat ingat dengan apa yang aku katakan: sambut Supeno. Lalu apa hubungannya dengan kejengkelanku pada Jono?</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Hehehehe… loe sepertinya sudah nggak sabar dengan apa yang akan kukatakan ya?: ujar Kurnia menggoda dirinya.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Gini No. Mungkin nggak kemampuan ekonomi dirimu seperti si Jono?.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Ya mungkin-mungkin saja sich. Apa sich yang nggak mungkin di dunia ini?: sahut Supeno dengan cepatnya.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sabar No. Maksudnya mungkin itu adalah mungkin yang mendekati kebenaran? Bukan mungkin yang asal mungkin saja.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Whuah, kalo itu susah ngejawabnya Kur: timpal Supeno. We actuallya don’t know apa yang akan terjadi pada diri kita nantinya kan?</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Bener sich, coba loe jawab dengan jujur dech. Apakah dirimu pernah memimpikan untuk memiliki kemampuan ekonomi seperti Jono?: timpal Kurnia sambil menatap tajam Supeno.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Mendapatkan tatapan yang tajam dari Kurnia, Supeno menjadi seperti salah tingkah dan akhirnya berkata: Tidak. Kepalanya pelan-pelan menggeleng. Mimpiku tidak sejauh itu. Aku hanya menginginkan segala kebutuhan-ku sekeluarga tercukupi saja, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Dan akupun juga tidak bermimpi selalu naik kelas bisnis dari pesawat Boeing 380. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Nach itu dia No. Kalo loe tidak pernah bermimpi selalu naik kelas bisnis dari pesawat Boeing 380, lalu knapa loe memaksakan diri untuk ngebandingin dengan Jono? Kalo loe hanyut dengan nuansa ngebandingin tadi maka loe seperti tercabut dari dirimu sendiri. Dan saya kuatir, kondisi inilah yang akan menciptakan ruang hampa pada dirimu. Dengan demikian kehampaan akan menghampiri dirimu lagi.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Supeno terdiam mendengar ulasan singkat Kurnia. Hisapan rokoknya sepertinya lebih lama dibanding sebelum-sebelumnya. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Seingatku nich No. Allah - lah yang memperbanyak dan mempersempit rizki seseorang. Makanya ada saja yang terlihat lucu menurut kita. Ada orang yang cuma melangkah 1 - 2 langkah, ech banyak duit berhamburan menghampiri dirinya. Dan ada pula orang yang sudah melangkah berpuluh-puluh langkah, ech duit yang menghampiri seret. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Bagiku No, aku hanya fokus apakah duit yang kudapatkan bener apa nggak n sudah bener nggak caraku membelanjakan duit tersebut. Yang kulihat bukan besarannya duit dan bukan seberapa banyak langkah kaki yang kulangkahkan namun lebih pada cara mendapatkan n cara membelanjakan. That’s it. N aku berusaha untuk tidak melihat orang lain n bila terpaksa harus melihat, ehm… maka aku selalu berkata bahwa itu bukanlah diriku. Takaran rizkiku berbeda dengan takaran rizkinya orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri dan berusaha menikmati apa yang ada di diriku. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Supeno menatap Kurnia, mengambil nafas yang dalam dan diam.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Soal dicuekin teman. Akupun pernah mengalami. Ingat nggak ama teman di awal-awal masa kerjaku yang bernama Ridha. Dulu aku sama Ridha sangat akrab. Namun akhirnya dia banting setir menjadi politikus dan berhasil menjadi politikus yang terkenal sekaligus mapan. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Suatu saat aku mendapat undangan teman-ku yang lainnya dan mengatakan bahwa Ridha akan hadir dalam aktivitas tersebut. Betapa senangnya aku saat membayangkan akan bertemu Ridha.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Namun apa lacur, nasibku-pun tidak jauh berbeda denganmu. Disaat itupun aku juga merasa hampa. Aku seperti tercabut dari diriku sendiri. Ternyata kita bisa berteman itu karena adanya kesamaan kepentingan. Apabila kepentingan kita sudah jauh berbeda maka kadar pertemanan-pun menjadi luntur dan sirna. Keakraban yang pernah terbina menjadi basi dan tidak relevan lagi.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Kitapun bisa ngobrol seperti ini, barangkali karena kita masih sekantor. Bila nantinya kita tidak sekantor lagi karena sesuatu hal, dan bila sekian tahun berlalu ternyata kepentingan kita juga berbeda maka mungkin nuansa ketemuan yang saat ini loe keluhkan dan yang  juga pernah aku keluhkan…akan terjadi.</span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sepertinya kita harus pandai-pandai mengelola harapan yang ada di diri kita. Ach sudahlah, yuk balik lagi ke kantor. Aku mau ada meeting nich. </span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;">Kurnia-pun ngeloyor ke tempat kasir untuk membayar. Supeno dengan berat hati akhirnya beranjak juga meninggalkan kursi yang di dudukinya. </span></p>

Enak sekali ngelihat si Jono, bisa menikmati apapun yang diinginkan. Kerja sedikit tapi menghasilkan uang banyak: kata Supono pada temannya.

Ah loe No, bisamu cuma ngiri aja: timpal Kurnia temannya.

Yach gimana ya, sebagai manusia wajar donk ngebandingin! Masak nggak boleh ngebandingin!. Loe jangan sok suci-lah Kur: kata Supeno dengan muka cemberut.

Aku lihat Facebook-nya si temenku Jono, tiap bulan pasti jalan keluar negeri entah berapa kali. Naik pesawatpun selalu pilih pakai pesawat Boeing A380 dengan kelas eksekutif. Kulineran-pun kuliner kelas premium. Foto-foto yang terpampang di Facebook selalu mendapatkan respon decak kagum dari banyak orang. 

Coba bandingkan dengan foto-foto Jono yang pernah aku tunjukkan padamu saat kami masih sama sama kuliah… kurus, kucel, dan sama-sama belelnya denganku: gerutu Supeno.


Dan yang menjengkelkan lagi, sombongnya Jono itu lho nggak ketulungan. Dulu kemana-mana selalu berduaan sama aku namun sekarang itu belagu banget. Kemarin saya ketemu di sebuah event…whuah aku kan saking rindunya.. membayangkan pertemuan yang hangat dan bisa ngobrol banyak. Namun apa yang terjadi? Cuma bertutur sapa sebentar namun selanjutnya dia pergi meninggalkanku untuk bercengkrama dengan sejumlah orang yang aku nggak kenal sama sekali.  

Loe tuch No, sebetulnya ngiri ama kemampuan ekonomis Jono atau jengkel ama perlakukan Jono?:  sela Kurnia.

Sambil melengoskan wajahnya, Supeno menjawab dengan penuh kekesalan: Ach loe Kur ya, bukannya mendukung-ku namun sepertinya malah mengecilkan-ku.

Jangan gitulah lah No, loe jangan baperan kaya anak kecil donk. Umur sudah mendekati 40-an kok masih baper sih: ujar si Kurnia membujuk Peno.

Namun Peno diam aja. Asap rokoknya aja yang terus mengepul. Kurnia-pun diam sehingga suasana menjadi hening. Mereka berdua akhirnya sibuk memainkan HP yang ada ditangannya.

Setelah sekian lama hening, Kurnia memecahkan suasana dengan berkata: No, apakah kamu masih merasakan kehampaan dalam perjalanan hidupmu?

Dengan muka kaget Supeno menjawab: Ehm, kenapa loe menanyakan hal itu?

Eits, jangan baper lagi. Aku kan sekedar nanya. Ingat nggak ketemuan kita beberapa waktu lalu. Loe kan pernah cerita soal fase-fase hampa dalam kehidupanmu?

Owh: ujar Peno lirih. Emang kenapa loe nanyain itu? N apa hubungannya pertanyaan loe itu dengan apa yang saya ceritakan tentang Jono?

Gini No. Jangan salah mengerti dengan pertanyaanku tadi. Beberapa waktu lalu kan dirimu pernah menyatakan bahwa hidup terasa hampa bila kita tidak bisa menjadi diri sendiri kan?. Loe saat itu bilang bahwa loe tidak bisa menikmati kehidupanmu dan disitulah loe merasa hampa. Akupun sangat setuju dengan apa yang loe katakan saat itu.

Hm tentunya aku sangat ingat dengan apa yang aku katakan: sambut Supeno. Lalu apa hubungannya dengan kejengkelanku pada Jono?

Hehehehe… loe sepertinya sudah nggak sabar dengan apa yang akan kukatakan ya?: ujar Kurnia menggoda dirinya.

Gini No. Mungkin nggak kemampuan ekonomi dirimu seperti si Jono?.

Ya mungkin-mungkin saja sich. Apa sich yang nggak mungkin di dunia ini?: sahut Supeno dengan cepatnya.

Sabar No. Maksudnya mungkin itu adalah mungkin yang mendekati kebenaran? Bukan mungkin yang asal mungkin saja.

Whuah, kalo itu susah ngejawabnya Kur: timpal Supeno. We actuallya don’t know apa yang akan terjadi pada diri kita nantinya kan?

Bener sich, coba loe jawab dengan jujur dech. Apakah dirimu pernah memimpikan untuk memiliki kemampuan ekonomi seperti Jono?: timpal Kurnia sambil menatap tajam Supeno.

Mendapatkan tatapan yang tajam dari Kurnia, Supeno menjadi seperti salah tingkah dan akhirnya berkata: Tidak. Kepalanya pelan-pelan menggeleng. Mimpiku tidak sejauh itu. Aku hanya menginginkan segala kebutuhan-ku sekeluarga tercukupi saja, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Dan akupun juga tidak bermimpi selalu naik kelas bisnis dari pesawat Boeing 380. 

Nach itu dia No. Kalo loe tidak pernah bermimpi selalu naik kelas bisnis dari pesawat Boeing 380, lalu knapa loe memaksakan diri untuk ngebandingin dengan Jono? Kalo loe hanyut dengan nuansa ngebandingin tadi maka loe seperti tercabut dari dirimu sendiri. Dan saya kuatir, kondisi inilah yang akan menciptakan ruang hampa pada dirimu. Dengan demikian kehampaan akan menghampiri dirimu lagi.

Supeno terdiam mendengar ulasan singkat Kurnia. Hisapan rokoknya sepertinya lebih lama dibanding sebelum-sebelumnya. 

Seingatku nich No. Allah - lah yang memperbanyak dan mempersempit rizki seseorang. Makanya ada saja yang terlihat lucu menurut kita. Ada orang yang cuma melangkah 1 - 2 langkah, ech banyak duit berhamburan menghampiri dirinya. Dan ada pula orang yang sudah melangkah berpuluh-puluh langkah, ech duit yang menghampiri seret. 

Bagiku No, aku hanya fokus apakah duit yang kudapatkan bener apa nggak n sudah bener nggak caraku membelanjakan duit tersebut. Yang kulihat bukan besarannya duit dan bukan seberapa banyak langkah kaki yang kulangkahkan namun lebih pada cara mendapatkan n cara membelanjakan. That’s it. N aku berusaha untuk tidak melihat orang lain n bila terpaksa harus melihat, ehm… maka aku selalu berkata bahwa itu bukanlah diriku. Takaran rizkiku berbeda dengan takaran rizkinya orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri dan berusaha menikmati apa yang ada di diriku. 

Supeno menatap Kurnia, mengambil nafas yang dalam dan diam.

Soal dicuekin teman. Akupun pernah mengalami. Ingat nggak ama teman di awal-awal masa kerjaku yang bernama Ridha. Dulu aku sama Ridha sangat akrab. Namun akhirnya dia banting setir menjadi politikus dan berhasil menjadi politikus yang terkenal sekaligus mapan. 

Suatu saat aku mendapat undangan teman-ku yang lainnya dan mengatakan bahwa Ridha akan hadir dalam aktivitas tersebut. Betapa senangnya aku saat membayangkan akan bertemu Ridha.

Namun apa lacur, nasibku-pun tidak jauh berbeda denganmu. Disaat itupun aku juga merasa hampa. Aku seperti tercabut dari diriku sendiri. Ternyata kita bisa berteman itu karena adanya kesamaan kepentingan. Apabila kepentingan kita sudah jauh berbeda maka kadar pertemanan-pun menjadi luntur dan sirna. Keakraban yang pernah terbina menjadi basi dan tidak relevan lagi.

Kitapun bisa ngobrol seperti ini, barangkali karena kita masih sekantor. Bila nantinya kita tidak sekantor lagi karena sesuatu hal, dan bila sekian tahun berlalu ternyata kepentingan kita juga berbeda maka mungkin nuansa ketemuan yang saat ini loe keluhkan dan yang  juga pernah aku keluhkan…akan terjadi.

Sepertinya kita harus pandai-pandai mengelola harapan yang ada di diri kita. Ach sudahlah, yuk balik lagi ke kantor. Aku mau ada meeting nich. 

Kurnia-pun ngeloyor ke tempat kasir untuk membayar. Supeno dengan berat hati akhirnya beranjak juga meninggalkan kursi yang di dudukinya. 



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.