Mengelola kritik

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kecepatan perubahan saat ini sangatlah luar biasa. Perubahan menuntut penyesuaian. Tuntutan penyesuaian inilah yang seringkali merepotkan. Dan karena kecepatan perubahan yang sangat luar biasa maka penyesuaian yang dilakukan juga haruslah luar biasa. </span></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;"><span style="font-size: 14px;">Di titik tertentu, penyesuaian belum sepenuhnya tuntas... <b><i>Ehm</i></b> terpaksa harus terhempas lagi karena situasi yang dihadapi ternyata telah berubah. Dan karenanya penyesuaian yang belum tuntas tersebut harus dibuang dan ditinggalkan. Selanjutnya harus melakukan penyesuaian baru lagi dimana penyesuaian baru tersebut tidak ada kaitannya dengan penyesuaian yang sebelumnya. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Seiring dengan waktu penyesuaian demi penyesuaian harus terus dilakukan dengan kecepatan yang semakin luar biasa.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tuntutan perputaran penyesuaian yang begitu cepat tentunya akan menimbulkan kegagapan bagi sejumlah orang. Cilakanya, kegagapan ini seringkali dipersepsikan sebagai bentuk ketidakmauan dari yang bersangkutan untuk melakukan penyesuaian. Bahkan di titik tertentu yang disoroti tidak hanya kemauan namun juga tentang  kompetensi. Yang bersangkutan dipersepsikan kurang kompeten dalam melakukan penyesuaian. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apa yang dipersepsikan bisa jadi sebuah realitas namun bisa juga bukan sebagai realitas. Apapun persepsi yang berkembang —entah itu realitas atau bukan, tentunya menimbulkan ketidaknyamanan bagi kedua belah pihak. Persepsi yang berkembang tersebut otomatis akan memunculkan aneka kritik. Dengan demikian kritik demi kritik akan mengalir deras baik dari mereka yang mendapatkan sorotan dan mereka yang menyampaikan sorotan. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dan apabila persepsi yang berkembang masuk ke ranah publik melalui media jejaring sosial ataupun media lainnya maka eskalasi luapan kritik menjadi semakin menjadi-jadi. Orang yang tidak memahami persoalan dan tidak kita kenalpun akan ikut dalam dasyatnya pusaran kritik.     </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Padahal kritik bagi kebanyakan orang adalah sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Bagi kebanyakan orang, kritik dipenuhi dengan muatan yang menegasikan keberadaan seseorang. Sebagian besar komunitas mengatakan: kritik itu mengusik eksistensi. Wajar bila hampir semua orang alergi terhadap kritik.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Namun bagaimana mungkin kita bisa terhindar dari kritik? Aristoteles pernah mengatakan: kritik dengan mudahnya bisa dihindari asalkan anda tidak pernah mengatakan apapun, tidak melakukan apapun, dan asalkan anda tidak berusaha menjadi apapun. Lha… apakah kalau sudah seperti masih tetap sebagai manusia? Apa yang dikatakan Aristoteles adalah merupakan sindiran keras bagi siapapun yang ingin menghindari kritik.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bagaimanapun, kritik akan selalu adan dan tidak bisa dihindari. Apalagi di zaman sekarang yang serba transparan dan penuh dengan berbagai perubahan yang super cepat? Kritik seolah-olah tumbuh dengan suburnya bagaikan jutaan jamur yang bersemi di musim hujan.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Di zaman sekarang, agar bisa terus survive dan berhasil maka kita harus sudah mulai terbiasa dengan kritik. Bahkan tidak sekedar cuma menjadi <strong><em>terbiasa</em></strong> namun harus bisa mengelola kritik. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Agar bisa mengelola kritik dengan baik maka hal pertama yang harus kita cermati adalah apa yang berkecamuk di pikiran kita saat membahas tentang kritik. Apakah kritik memang benar-benar kita anggap menegasikan keberadaan kita? Apakah kritik benar-benar kita anggap sebagai hal yang mencabik-cabik dan akan merusak eksistensi kita? Apakah kritik memang benar-benar kita anggap sesuatu hal yang bakal menistakan kita? </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Jikalau anggapan-anggapan diatas masih menyelimuti dialog internal kita, maka bagaimana pula kita bisa mengelola kritik dengan baik. Perlu diingat bahwa kita tidak bisa mengontrol persepsi orang lain dan kita juga tidak bisa mengontrol apa yang akan dikatakan orang lain tentang kita. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Yang bisa kontrol adalah internal pikiran kita, respon kita, proses pembelajaran kita, kapan kita melepaskan/melupakan kritik tersebut, dan kapan selanjutnya berfokus pada tujuan hidup kita. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ingat bahwa kritik akan selalu ada untuk kita. Jangan baper dengan kritik. Pikiran kita harus diarahkan untuk selalu mengatakan bahwa kritik adalah pupuk kehidupan. Kritik bukanlah hal yang menistakan namun kritik adalah hal yang mengingatkan akan kelemahan kita dimana kelemahan tersebut harus di-<em>upgrade </em>secara berkala. Kritik bukanlah sesuatu hal yang akan mencabik-cabik keberadaan kita, justru kritik adalah sesuatu hal yang bakal meningkatkan eksistensi kita bila kita meluangkan waktu untuk melakukan pembaruan diri. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kritik bisa memberikan kesempatan pada kita untuk bisa melihat perspektif yang berbeda daripada perspektif yang selama ini ada pada diri kita. Dan kritik bisa melatih dan meningkatkan kualitas mendengar kita.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Terimalah kritik dengan tenang. Dan agar tidak terjebak dengan dialog internal yang negatif saat menerima kritik, ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan. Lakukan re-direksi atas dialog internal anda: dari dialog negatif ke dialog positif saat menerima kritik. Apabila dialog internal sudah dipenuhi dengan hal-hal yang positif maka respon kita-pun akan positif terhadap kritik yang ditujukan ke kita. Bila dialog internal kita positif saat menerima kritik, senyum-pun mudah menghiasi wajah kita. Kata-kata yang tajam dari pengkritik-pun mampu ditumpulkan. Kita-pun mudah menangkap pesan si pengkritik tanpa harus memberikan penilaian balik yang negatif.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; font-weight: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bagaimana jika kritik yang dilontarkan tanpa alasan dan mengada-ada? Maafkan saja dan mari segera kembali berfokus pada tujuan hidup kita.</span></span></p>

Kecepatan perubahan saat ini sangatlah luar biasa. Perubahan menuntut penyesuaian. Tuntutan penyesuaian inilah yang seringkali merepotkan. Dan karena kecepatan perubahan yang sangat luar biasa maka penyesuaian yang dilakukan juga haruslah luar biasa. 

Di titik tertentu, penyesuaian belum sepenuhnya tuntas... Ehm terpaksa harus terhempas lagi karena situasi yang dihadapi ternyata telah berubah. Dan karenanya penyesuaian yang belum tuntas tersebut harus dibuang dan ditinggalkan. Selanjutnya harus melakukan penyesuaian baru lagi dimana penyesuaian baru tersebut tidak ada kaitannya dengan penyesuaian yang sebelumnya. 

Seiring dengan waktu penyesuaian demi penyesuaian harus terus dilakukan dengan kecepatan yang semakin luar biasa.

Tuntutan perputaran penyesuaian yang begitu cepat tentunya akan menimbulkan kegagapan bagi sejumlah orang. Cilakanya, kegagapan ini seringkali dipersepsikan sebagai bentuk ketidakmauan dari yang bersangkutan untuk melakukan penyesuaian. Bahkan di titik tertentu yang disoroti tidak hanya kemauan namun juga tentang  kompetensi. Yang bersangkutan dipersepsikan kurang kompeten dalam melakukan penyesuaian. 

Apa yang dipersepsikan bisa jadi sebuah realitas namun bisa juga bukan sebagai realitas. Apapun persepsi yang berkembang —entah itu realitas atau bukan, tentunya menimbulkan ketidaknyamanan bagi kedua belah pihak. Persepsi yang berkembang tersebut otomatis akan memunculkan aneka kritik. Dengan demikian kritik demi kritik akan mengalir deras baik dari mereka yang mendapatkan sorotan dan mereka yang menyampaikan sorotan. 


Dan apabila persepsi yang berkembang masuk ke ranah publik melalui media jejaring sosial ataupun media lainnya maka eskalasi luapan kritik menjadi semakin menjadi-jadi. Orang yang tidak memahami persoalan dan tidak kita kenalpun akan ikut dalam dasyatnya pusaran kritik.     

Padahal kritik bagi kebanyakan orang adalah sesuatu yang sangat tidak mengenakkan. Bagi kebanyakan orang, kritik dipenuhi dengan muatan yang menegasikan keberadaan seseorang. Sebagian besar komunitas mengatakan: kritik itu mengusik eksistensi. Wajar bila hampir semua orang alergi terhadap kritik.

Namun bagaimana mungkin kita bisa terhindar dari kritik? Aristoteles pernah mengatakan: kritik dengan mudahnya bisa dihindari asalkan anda tidak pernah mengatakan apapun, tidak melakukan apapun, dan asalkan anda tidak berusaha menjadi apapun. Lha… apakah kalau sudah seperti masih tetap sebagai manusia? Apa yang dikatakan Aristoteles adalah merupakan sindiran keras bagi siapapun yang ingin menghindari kritik.

Bagaimanapun, kritik akan selalu adan dan tidak bisa dihindari. Apalagi di zaman sekarang yang serba transparan dan penuh dengan berbagai perubahan yang super cepat? Kritik seolah-olah tumbuh dengan suburnya bagaikan jutaan jamur yang bersemi di musim hujan.

Di zaman sekarang, agar bisa terus survive dan berhasil maka kita harus sudah mulai terbiasa dengan kritik. Bahkan tidak sekedar cuma menjadi terbiasa namun harus bisa mengelola kritik. 

Agar bisa mengelola kritik dengan baik maka hal pertama yang harus kita cermati adalah apa yang berkecamuk di pikiran kita saat membahas tentang kritik. Apakah kritik memang benar-benar kita anggap menegasikan keberadaan kita? Apakah kritik benar-benar kita anggap sebagai hal yang mencabik-cabik dan akan merusak eksistensi kita? Apakah kritik memang benar-benar kita anggap sesuatu hal yang bakal menistakan kita? 

Jikalau anggapan-anggapan diatas masih menyelimuti dialog internal kita, maka bagaimana pula kita bisa mengelola kritik dengan baik. Perlu diingat bahwa kita tidak bisa mengontrol persepsi orang lain dan kita juga tidak bisa mengontrol apa yang akan dikatakan orang lain tentang kita. 

Yang bisa kontrol adalah internal pikiran kita, respon kita, proses pembelajaran kita, kapan kita melepaskan/melupakan kritik tersebut, dan kapan selanjutnya berfokus pada tujuan hidup kita. 

Ingat bahwa kritik akan selalu ada untuk kita. Jangan baper dengan kritik. Pikiran kita harus diarahkan untuk selalu mengatakan bahwa kritik adalah pupuk kehidupan. Kritik bukanlah hal yang menistakan namun kritik adalah hal yang mengingatkan akan kelemahan kita dimana kelemahan tersebut harus di-upgrade secara berkala. Kritik bukanlah sesuatu hal yang akan mencabik-cabik keberadaan kita, justru kritik adalah sesuatu hal yang bakal meningkatkan eksistensi kita bila kita meluangkan waktu untuk melakukan pembaruan diri. 

Kritik bisa memberikan kesempatan pada kita untuk bisa melihat perspektif yang berbeda daripada perspektif yang selama ini ada pada diri kita. Dan kritik bisa melatih dan meningkatkan kualitas mendengar kita.

Terimalah kritik dengan tenang. Dan agar tidak terjebak dengan dialog internal yang negatif saat menerima kritik, ambil nafas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan. Lakukan re-direksi atas dialog internal anda: dari dialog negatif ke dialog positif saat menerima kritik. Apabila dialog internal sudah dipenuhi dengan hal-hal yang positif maka respon kita-pun akan positif terhadap kritik yang ditujukan ke kita. Bila dialog internal kita positif saat menerima kritik, senyum-pun mudah menghiasi wajah kita. Kata-kata yang tajam dari pengkritik-pun mampu ditumpulkan. Kita-pun mudah menangkap pesan si pengkritik tanpa harus memberikan penilaian balik yang negatif.

Bagaimana jika kritik yang dilontarkan tanpa alasan dan mengada-ada? Maafkan saja dan mari segera kembali berfokus pada tujuan hidup kita.



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.