Kubu-kubuan

<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Saya adalah salah satu bagian tertentu di perusahaan. Kondisi perusahaan kami sedang mengalami pertumbuhan yang stagnan. Dalam 3 tahun ini, revenue yang dihasilkan tidak sesuai harapan alias tidak masuk target. Bonuspun menghilang. Hampir semua orang di level apapun resah.  </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Berbagai analisis bermunculan terkait kondisi tersebut. Berbagai inisiatif dilakukan agar perusahaan kembali ke jalur yang benar. Namun revenue tetap saja berjalan pelan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Namun ada satu hal yang sepertinya luput dari perhatian. Hasil pengamatan saya, ada 2 kubu berseberangan yakni orang-orang atas dan mereka yang posisinya menengah-bawah. Yang kubu atas menyalahkan yang bawah dan yang kubu bawah menyalahkan atas. Tidak hanya itu, ego sektoral antar departemen juga tinggi.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Saya berasal dari departemen yang netral dan cukup prihatin melihat itu semua. Apa yang seharusnya dilakukan? </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Terima kasih - Astri</font></span></p>

Saya adalah salah satu bagian tertentu di perusahaan. Kondisi perusahaan kami sedang mengalami pertumbuhan yang stagnan. Dalam 3 tahun ini, revenue yang dihasilkan tidak sesuai harapan alias tidak masuk target. Bonuspun menghilang. Hampir semua orang di level apapun resah.  

Berbagai analisis bermunculan terkait kondisi tersebut. Berbagai inisiatif dilakukan agar perusahaan kembali ke jalur yang benar. Namun revenue tetap saja berjalan pelan.

Namun ada satu hal yang sepertinya luput dari perhatian. Hasil pengamatan saya, ada 2 kubu berseberangan yakni orang-orang atas dan mereka yang posisinya menengah-bawah. Yang kubu atas menyalahkan yang bawah dan yang kubu bawah menyalahkan atas. Tidak hanya itu, ego sektoral antar departemen juga tinggi.

Saya berasal dari departemen yang netral dan cukup prihatin melihat itu semua. Apa yang seharusnya dilakukan? 

Terima kasih - Astri




Ulasan Pembaca


Pengirim: George Rifai | Tanggal: 2019-04-18

Sebagai makhluk sosial, berkubu adalah merupakan hal yang wajar-wajar saja dan sangat manusiawi. Mengelompokkan diri dan menjadi bagian dari kelompok adalah merupakan kebutuhan alamiah. 

Fokus pertama yang perlu dicermati adalah apakah diantara kedua kubu yang saling berseberangan tersebut nuansa pesimesme tinggi? Apakah nuansa pesimesme tersebut tersebar merata diantara kedua kubu? Ataukah diantara kedua kubu masih ada sejumlah individu yang memiliki optimisme tinggi tentang potensi perbaikan kinerja organisasi namun mereka belum mendapatkan penyaluran yang tepat?

Kalau semuanya pesimis ya repot. Bagaimana mau mengembalikan kinerja bila nuansa yang ada dipenuhi aura pesimis?

Mudah-mudahan diantara kubu yang ada, masih ada sejumlah individu yang memiliki optimisme tinggi. 

Agar cepat teratasi, identifikasi terlebih dahulu siapa saja individu yang memiliki optimisme tinggi diantara kedua kubu yang ada. Identifikasi juga; siapa-siapa diantara mereka yang potentialitasnya tinggi walaupun mereka terlihat pesimis. Mereka-mereka yang pesimis dan potentialitasnya rendah, tinggalkan terlebih dahulu.

Perkubuan muncul biasanya karena adanya perbedaan pandangan dan kepentingan. Dan perbedaan yang ada tersebut biasanya tidak terkomunikasikan dengan baik sehingga pertikaian menjadi semakin runcing. Pertentangan diantara kedua kubu bisa saja berjalan secara terbuka atau bahkan tertutup.

Jangan terlalu terburu-buru mempertemukan kedua kubu yang ada. Secara terpisah, adakan pertemuan dengan individu-individu yang memiliki optimisme dan potentialitas tinggi di masing-masing kubu.

Eksplorasi pandangan-pandangan mereka. Eksplorasi masa depan (cemerlang) organisasi yang diinginkan mereka. Eksplorasi kebiasaan-kebiasaan ataupun praktek-praktek buruk yang harus dieliminasi agar masa depan cemerlang yang diinginkannya terwujud. Eksplorasi potensi-potensi internal dari sudut pandang mereka yang perlu dioptimalkan. Eksplorasi kompetensi-kompetensi yang seperti apa yang dibutuhkan agar bisa mencapai masa depan yang cemerlang bagi organisasi. Eksplorasi sistem reward and punishment seperti apa yang sebaiknya dikembangkan organisasi. Fokus eksplorasi adalah menemukan berbagai gap antara apa yang seharusnya dengan realitas yang ada atas berbagai hal.

Bilamana perlu cari mediator internal ataupun eksternal yang bisa dipercaya kedua kubu. Tugas mediator adalah mengeksplorasi dan memperjelas pandangan kedua kubu atas gap-gap yang ada. Tugas berikutnya adalah mempertemukan pemikiran-pemikiran, keinginan-keinginan, harapan-harapan, dan kepentingan-kepentingan dua kubu yang ada. Bila kompetensi mediatornya bagus, bisa dipastikan mediator akan menemukan berbagai titik temu diantara kedua kubu yang ada. Mediator harus menfasilitasi agar kedua kubu bersepakat tentang roadmap tahapan perbaikain kinerja yang harus dilakukan.

Dan bilamana jadikan individu-individu tersebut sebagai task force untuk proses transformasi organisasi. 

Bagaimana jika roadmap dijalankan masih saja ada individu-individu yang pesimis. Saatnya memberikan pilihan kepada yang mereka: ikut arus atau keluar arus dengan sendirinya.

Sebagai penutup, perkubuan tidak bisa dihilangkan di organisasi manapun. Yang harus menjadi fokus kita adalah bagaimana mengakomodasi pandangan-pandangan dari kubu yang ada selama masing-masing kubu tersebut tidak salfok (salah fokus). Kalau diantara kubu masih berfokus pada memperdebatkan ide maka mereka jelas tidak salfok. Namun bila diantara kubu saling menyerang tentang person… nah yang ini jelas salfok.

Salam Bizente - semoga bermanfaat.


Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.