Era digital yang membawa tantangan

<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Di era digital zaman sekarang, hampir semua pengelola perusahaan sangat bersemangat untuk menyesuaikan diri. Mereka bersemangat untuk melakukan proses digitalisasi di hampir semua proses operasional perusahaan. Mereka berpendapat bahwa tanpa melakukan digitalisasi maka perusahaan akan dipersepsikan tidak mengikuti zaman dan akan berakibat pada melemahnya image perusahaan serta bakal jauh tertinggal.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah namun perlu kejelian dan keberhati-hatian  tentang proses digitalisasi. Ketidakjelian dan ketidakhati-hatian dalam proses digitalisasi akan menghasilkan tindakan yang buru-buru dan asal digital.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Secara umum tujuan digitalisasi adalah baik yakni mempermudah dan mempercepat proses, mempermudah akses, meningkatkan kenyamanan dalam berinteraksi, dan secara bersamaan melakukan efisiensi. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Proses bisnis yang manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk di digitalisasi? Sebetulnya yang harus menjadi prioritas utama untuk di digitalisasi adalah proses bisnis <i>end-to-end</i> yang terkait dengan konsumen. Apa yang dimaksud dengan proses <i>end-to-end</i> konsumen? Proses <i>end-to-end</i> yang dimaksud disini adalah rangkaian tahapan interaksi konsumen dari mulai datang hingga pergi. Ada berapa proses <i>end-to-end</i> konsumen di perusahaan anda? Dan dari <i>end-to-end</i> yang ada, berapa <i>touch point </i>di masing-masing <i>end-to-end</i> nya? </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sekali lagi, proses <i>end-to-end</i> inilah yang harus menjadi sasaran untuk di digitalisasi, itupun sebaiknya dilihat terlebih dahulu apakah <i>customer journey</i>-nya target segmen konsumen sudah mulai berubah?  Apakah perubahan tersebut sudah bisa difasilitasi dengan sistem digital. Dan bilamana <i>customer journey</i>-nya belum ada perubahan, apakah target segmen konsumen tersebut sangat adaptatif terhadap perubahan? Bila jawabannya YA maka saatnya anda melakukan digitalisasi. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Namun bila target segmen konsumen tidak adaptatif terhadap perubahan-perubahan yang ada dan bila preseden perubahan <i>customer journey</i>-nya sama sekali belum terlihat maka berhati-hatilah dalam pengembangan digitalisasinya. Kecuali perusahaan memang sedang memposisikan dirinya sebagai agen perubahan. Bila demikian maka perusahaan memang telah siap melakukan edukasi ke target segmen konsumen tersebut. Namun perlu diingat bahwa edukasi itu butuh kesabaran, butuh konsistensi, butuh ketelatenan, butuh variasi konten yang menarik, dan tentunya butuh biaya yang tidak sedikit. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Bila proses edukasi yang dilakukan perusahaan memenuhi kriteria-kriteria tersebut maka kesuksesan edukasi akan semakin membesar yakni sukses mempengaruhi ataupun merubah <i>customer journey</i> target segmen. Dan dengan demikian perusahaan tersebut akan dikenang sebagai pelopor dan sebagai pemenang dalam menggaet hati konsumen. Namun bila proses edukasi tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut maka yang muncul adalah kegagalan mempengaruhi ataupun merubah <i>customer journey</i> walaupun banyak uang telah digelontorkan oleh perusahaan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sekali lagi proses <i>end-to-end</i> konsumen yang semestinya menjadi prioritas untuk di digitalisasi, itupun dengan sejumlah syarat sebagaimana tersebut diatas. Namun demikian bukan berarti digitalisasi tidak boleh dilakukan di berbagai proses <i>value stream</i> yang ada. Digitalisasi yang sempurna adalah bila perusahaan berkemampuan melakukan digitalisasi di seluruh proses <i>value stream</i> yang ada, dan bila kemampuan terbatas pakai pandai-pandailah memilih <i>value stream</i> mana yang perlu di dahulukan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Semangat digitalisasi harus terus digaungkan dan digalakkan namun perlu kehati-hatian dan kejelian dalam melakukan digitalisasi. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Ada sejumlah kasus dimana semua bagian bersemangat melakukan digitalisasi termasuk bagian peningkatan kompetensi karyawan. Dengan semangat yang menggebu-gebu, seluruh kelas pelatihan ditiadakan dan diganti dengan model pembelajaran via digital baik untuk konten pengetahuan ataupun ketrampilan. Sayangnya konten-nya tidak diformat dalam bentuk yang menarik, tidak interaktif, dan durasi penyampaian konten-nya cukup lama. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sebagai akibatnya? Peserta mayoritas tidak antusias mengikuti model pembelajaran tersebut. Apalagi budaya membaca-nya masih lemah. Alhasil digitalisasi-nya tidak efektif. Hasil <i>indepth interview</i>, pengetahuan dan ketrampilan peserta tidak bertambah secara signifikan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Menerapkan digitalisasi di era digital memang perlu namun pandai-pandailah memilih dan memilah proses dan bagian mana yang harus di digitalisasi.</font></span></p>

Di era digital zaman sekarang, hampir semua pengelola perusahaan sangat bersemangat untuk menyesuaikan diri. Mereka bersemangat untuk melakukan proses digitalisasi di hampir semua proses operasional perusahaan. Mereka berpendapat bahwa tanpa melakukan digitalisasi maka perusahaan akan dipersepsikan tidak mengikuti zaman dan akan berakibat pada melemahnya image perusahaan serta bakal jauh tertinggal.

Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah namun perlu kejelian dan keberhati-hatian  tentang proses digitalisasi. Ketidakjelian dan ketidakhati-hatian dalam proses digitalisasi akan menghasilkan tindakan yang buru-buru dan asal digital.

Secara umum tujuan digitalisasi adalah baik yakni mempermudah dan mempercepat proses, mempermudah akses, meningkatkan kenyamanan dalam berinteraksi, dan secara bersamaan melakukan efisiensi. 

Proses bisnis yang manakah yang seharusnya menjadi prioritas untuk di digitalisasi? Sebetulnya yang harus menjadi prioritas utama untuk di digitalisasi adalah proses bisnis end-to-end yang terkait dengan konsumen. Apa yang dimaksud dengan proses end-to-end konsumen? Proses end-to-end yang dimaksud disini adalah rangkaian tahapan interaksi konsumen dari mulai datang hingga pergi. Ada berapa proses end-to-end konsumen di perusahaan anda? Dan dari end-to-end yang ada, berapa touch point di masing-masing end-to-end nya? 

Sekali lagi, proses end-to-end inilah yang harus menjadi sasaran untuk di digitalisasi, itupun sebaiknya dilihat terlebih dahulu apakah customer journey-nya target segmen konsumen sudah mulai berubah?  Apakah perubahan tersebut sudah bisa difasilitasi dengan sistem digital. Dan bilamana customer journey-nya belum ada perubahan, apakah target segmen konsumen tersebut sangat adaptatif terhadap perubahan? Bila jawabannya YA maka saatnya anda melakukan digitalisasi. 


Namun bila target segmen konsumen tidak adaptatif terhadap perubahan-perubahan yang ada dan bila preseden perubahan customer journey-nya sama sekali belum terlihat maka berhati-hatilah dalam pengembangan digitalisasinya. Kecuali perusahaan memang sedang memposisikan dirinya sebagai agen perubahan. Bila demikian maka perusahaan memang telah siap melakukan edukasi ke target segmen konsumen tersebut. Namun perlu diingat bahwa edukasi itu butuh kesabaran, butuh konsistensi, butuh ketelatenan, butuh variasi konten yang menarik, dan tentunya butuh biaya yang tidak sedikit. 

Bila proses edukasi yang dilakukan perusahaan memenuhi kriteria-kriteria tersebut maka kesuksesan edukasi akan semakin membesar yakni sukses mempengaruhi ataupun merubah customer journey target segmen. Dan dengan demikian perusahaan tersebut akan dikenang sebagai pelopor dan sebagai pemenang dalam menggaet hati konsumen. Namun bila proses edukasi tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut maka yang muncul adalah kegagalan mempengaruhi ataupun merubah customer journey walaupun banyak uang telah digelontorkan oleh perusahaan.

Sekali lagi proses end-to-end konsumen yang semestinya menjadi prioritas untuk di digitalisasi, itupun dengan sejumlah syarat sebagaimana tersebut diatas. Namun demikian bukan berarti digitalisasi tidak boleh dilakukan di berbagai proses value stream yang ada. Digitalisasi yang sempurna adalah bila perusahaan berkemampuan melakukan digitalisasi di seluruh proses value stream yang ada, dan bila kemampuan terbatas pakai pandai-pandailah memilih value stream mana yang perlu di dahulukan.

Semangat digitalisasi harus terus digaungkan dan digalakkan namun perlu kehati-hatian dan kejelian dalam melakukan digitalisasi. 

Ada sejumlah kasus dimana semua bagian bersemangat melakukan digitalisasi termasuk bagian peningkatan kompetensi karyawan. Dengan semangat yang menggebu-gebu, seluruh kelas pelatihan ditiadakan dan diganti dengan model pembelajaran via digital baik untuk konten pengetahuan ataupun ketrampilan. Sayangnya konten-nya tidak diformat dalam bentuk yang menarik, tidak interaktif, dan durasi penyampaian konten-nya cukup lama. 

Sebagai akibatnya? Peserta mayoritas tidak antusias mengikuti model pembelajaran tersebut. Apalagi budaya membaca-nya masih lemah. Alhasil digitalisasi-nya tidak efektif. Hasil indepth interview, pengetahuan dan ketrampilan peserta tidak bertambah secara signifikan.

Menerapkan digitalisasi di era digital memang perlu namun pandai-pandailah memilih dan memilah proses dan bagian mana yang harus di digitalisasi.



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.