Pasar tidak pernah JENUH

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Peter Drucker pernah membuat pernyataan amat terkenal di sejumlah kalangan akademisi dan praktisi. Beliau menyatakan bahwa pasar tidak pernah jenuh. Pasar terus bergerak dinamis dan selalu menyediakan tempat bagi siapapun yang ingin mengisinya. Bila ada seseorang yang berpendapat bahwa pasar  telah jenuh maka sejatinya bukan pasarnya yang jenuh namun pikiran orang tersebut-lah yang jenuh dalam mengelola pasar.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Pasar selalu memberi tempat dan kesempatan bagi siapapun yang ingin mengisinya. Bagi mereka yang lelah mengelola pasar maka siap-siaplah suatu saat tersingkir atau disingkirkan oleh mereka-mereka yang agresif mengisi dan mencari tempat di pasar. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tidak peduli seberapa kuat mereka saat ini berada dipasar, mereka akan tersingkir bila mereka merasa pasar yang dikelolanya telah jenuh. Apalagi bila disaat bersamaan muncul perasaan bahwa dirinya telah cukup memenangkan pasar dan yakin bahwa tidak bakalan ada yang mampu mengalahkannya. Entah sudah berapa banyak korban (merek dan perusahaan) yang menghilang akibat para pengelolanya berpersepsi bahwa pasar telah jenuh.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apa ciri-ciri mereka yang telah jenuh dalam mengelola pasar? Rasanya tidak terlalu susah untuk menjawab pertanyaan ini. Sejumlah jawaban diantaranya adalah: menganggap kondisi pasar tidak berubah dan karenanya tidak ada terobosan baru dalam aktivitas pendekatan pasarnya, tumbuhnya persepsi bahwa para pemain pasar akan ber-perilaku sama dengan apa yang dilakukannya, beranggapan bahwa tidak bakalan muncul pendatang baru yang akan merubah peta pasar bahkan jikalau muncul pendatang baru yang akan mengusik pasar maka kehadirannya diabaikan bahkan dianggap hanya sebagai ilusi belaka, hanya berfokus pada kompetitor-kompetitor <em>existing</em>, tuntutan-tuntutan baru konsumen diabaikan bahkan menganggap dirinya jauh lebih tahu tentang konsumen dibanding konsumennya itu sendiri,  dan seterusnya.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kejenuhan dalam mengelola pasar akan menyebabkan dirinya kehilangan daya nalar dalam menilai dinamika yang terjadi di pasar. Kejenuhan dalam mengelola pasar menyebahkan hilangnya sensitifitas yang bersangkutan dalam dalam menangkap sinyal-sinyal perubahan pasar. Kejenuhan dalam mengelola pasar membuat yang bersangkutan mudah mengkerdilkan inisiasi-inisiasi yang dilakukan kompetitor hingga pada akhirnya membuat dirinya telat memberikan respon. Kejenuhan dalam mengelola pasar akan membuat dirinya gampang mati rasa terhadap apapun yang terjadi diseputarnya. Kejenuhan dalam mengelola pasar akan membuat mudah mengabaikan keluhan-keluhan tuntutan-tuntutan baru konsumen. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apa yang menyebabkan seseorang merasa jenuh dalam mengelola pasar? Sejumlah jawaban diantaranya adalah mereka terlalu berfokus pada hal-hal yang rutin, merasa bahwa segala sesuatunya telah bisa ter-prediksi dengan baik, merasa bahwa tidak ada tantangan yang berarti dalam rutinitas yang diijalaninya, ambisi yang dimiliki yang bersangkutan tidaklah besar sekaligus tidak menantang, dan tidak memiliki kemauan yang kuat untuk memperbandingkan posisi relatif dirinya dengan yang lainnya.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sebetulnya ada hal yang simpel agar merasa tidak jenuh dalam mengelola pasar. Pertama: milikilah ambisi yang besar dan menantang. Kedua: sadarilah adanya persoalan besar yang sedang kita hadapi saat ini dan persoalan besar masa depan yang akan menghadang kita.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Jangan beranggapan bahwa persoalan pasar yang ada saat ini telah diatasi dengan berbagai prosedur SOP yang telah disiapkan dan telah dikembangkan. Jangan beranggapan bahwa semuanya telah berada dalam kendali yang baik walaupun posisi penjualan dan keuntungan dari waktu ke waktu berada pada jalur yang tidak terlalu terjal. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bilapun merasa bahwa <em>existing problem</em> telah tertangani dengan baik, jangan merasa bahwa kedepan tidak ada lagi persoalan besar yang akan membahayakan. Jangan terlalu menyepelekan tantangan masa depan. Sudah banyak cerita pengelola perusahaan yang menyepelekan tantangan masa depan akhirnya tidak bisa berkompetisi dan menghilang dari pasar (Kodak almarhum karena menyepelekan <em>digital camera</em>; Nokia —perusahaan lamanya, harus menyerah pada pasar setelah menyepelekan pengembangan symbian dan menyepelekan pengembangan OS serta android; Borders almarhum karena menyepelekan pengembangan <em>e-commerce </em>hingga pengembangan <em>e-commerce</em> nya dipercayakan pada Amazon; JC Penny sebagai hipermart ternama harus almarhum karena menyepelekan kehadiran Walmart; dan lain sebagainya).</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dalam konteks ke Indonesiaan, ada banyak cerita tentang sejumlah institusi bisnis yang <em>size</em>-nya mengecil dan bahkan menghilang dari pasar karena hal yang sama. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dan bila kita mau ambil contoh tantangan masa depan —dalam konteks kekinian, adalah perkembangan mobil listrik. Walaupun diprediksikan baru tahun 2030-an kendaraan listrik roda dua dan empat mulai meramaikan pasar, hal ini tidak boleh dianggap sepele bagi para pemain pasar saat ini. Para pemain oli harus berpikir keras bagaimana men-transformasi bisnisnya karena mobil listrik tidak lagi membutuhkan oli. Demikian juga para pemain bensin (pertamina dan pemilik spbu), spbu akan mengecil dan menghilang. Bagaimana dengan PLN, apakah tantangan ini juga akan disambut PLN dengan baik sebagai pengganti SPBU? Ataukah akan ada pemain lain yang akan berhasil mengisi pasar masa depan tersebut? 11 tahun bukanlah masa tunggu yang pendek. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Siapa yang merasa jenuh mengelola pasar maka yang bersangkutan tidak bakalan jeli mengidentifikasi <em>existing problem</em> ataupun <em>future problem</em>, apalagi berinisiatif melakukan terobosan-terobosan yang wow. Mereka yang merasa jenuh mengelola pasar akan beranggapan bahwa pasar akan tetap menerima dirinya sebagaimana biasanya hingga suatu saat mereka akan dikagetkan pemain yang super agresif.</span></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;"><span style="font-size: 14px;">Pasar tidak akan pernah jenuh, pasar hanya akan terus ber-metamorfosis untuk menuju kenormalan baru. Di pasar famasi, BPJS adalah faktor pemicu  terjadinya kenormalan baru yang mempengaruhi pasar industri farmasi dan rumah sakit. Di industri pupuk, wacana penghilangan subsidi pupuk adalah faktor pemicu terjadinya kenormalan baru yang mempengaruhi pemain-pemain pupuk yang menjadi penyangga pupuk subsidi. Di industri <i>lifestyle</i>, munculnya fenomena <i>leisure consumption</i> menjadi faktor pemicu terjadi kenormalan baru bagi pemain industri perhotelan, mall, horeka, dan sebagainya. Di industri <i>property</i>, muncul fenomena <em style="font-style: normal;">co-living</em> dimana di segmen-segmen pasar tertentu ini akan menjadi pemicu kenormalan baru dalam penyediaan bangunan-bangunan hunian ataupun penginapan. Di perbankan, muncul <i>fintech</i> yang menjadi pemicu kenormalan baru. Di moda angkutan, muncul jasa angkutan <i>online</i> yang menjadi pemicu kenormalan baru. Bila ditelaah lebih jeli lagi, akan makin banyak tersaji segmen-segmen pasar yang telah terus menerus mengalami metaformosis.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Siapa yang merasa jenuh mengelola pasar, mereka bakalan tidak sensitif terhadap sinyal-sinyal metamorfosis pasar dan sekaligus tidak antusias mempersiapkan diri dalam kenormalan baru yang terjadi dipasar. Boleh-boleh saja tidak siap dan tidak antusias namun jangan kaget juga bila nantinya akan ditinggalkan pasar.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Oleh karenanya jangan pernah merasa jenuh dalam mengelola pasar agar kitapun mudah melakukan proses metamorfosis sebagaimana yang diinginkan dipasar.</span></span></p>

Peter Drucker pernah membuat pernyataan amat terkenal di sejumlah kalangan akademisi dan praktisi. Beliau menyatakan bahwa pasar tidak pernah jenuh. Pasar terus bergerak dinamis dan selalu menyediakan tempat bagi siapapun yang ingin mengisinya. Bila ada seseorang yang berpendapat bahwa pasar  telah jenuh maka sejatinya bukan pasarnya yang jenuh namun pikiran orang tersebut-lah yang jenuh dalam mengelola pasar.

Pasar selalu memberi tempat dan kesempatan bagi siapapun yang ingin mengisinya. Bagi mereka yang lelah mengelola pasar maka siap-siaplah suatu saat tersingkir atau disingkirkan oleh mereka-mereka yang agresif mengisi dan mencari tempat di pasar. 

Tidak peduli seberapa kuat mereka saat ini berada dipasar, mereka akan tersingkir bila mereka merasa pasar yang dikelolanya telah jenuh. Apalagi bila disaat bersamaan muncul perasaan bahwa dirinya telah cukup memenangkan pasar dan yakin bahwa tidak bakalan ada yang mampu mengalahkannya. Entah sudah berapa banyak korban (merek dan perusahaan) yang menghilang akibat para pengelolanya berpersepsi bahwa pasar telah jenuh.

Apa ciri-ciri mereka yang telah jenuh dalam mengelola pasar? Rasanya tidak terlalu susah untuk menjawab pertanyaan ini. Sejumlah jawaban diantaranya adalah: menganggap kondisi pasar tidak berubah dan karenanya tidak ada terobosan baru dalam aktivitas pendekatan pasarnya, tumbuhnya persepsi bahwa para pemain pasar akan ber-perilaku sama dengan apa yang dilakukannya, beranggapan bahwa tidak bakalan muncul pendatang baru yang akan merubah peta pasar bahkan jikalau muncul pendatang baru yang akan mengusik pasar maka kehadirannya diabaikan bahkan dianggap hanya sebagai ilusi belaka, hanya berfokus pada kompetitor-kompetitor existing, tuntutan-tuntutan baru konsumen diabaikan bahkan menganggap dirinya jauh lebih tahu tentang konsumen dibanding konsumennya itu sendiri,  dan seterusnya.

Kejenuhan dalam mengelola pasar akan menyebabkan dirinya kehilangan daya nalar dalam menilai dinamika yang terjadi di pasar. Kejenuhan dalam mengelola pasar menyebahkan hilangnya sensitifitas yang bersangkutan dalam dalam menangkap sinyal-sinyal perubahan pasar. Kejenuhan dalam mengelola pasar membuat yang bersangkutan mudah mengkerdilkan inisiasi-inisiasi yang dilakukan kompetitor hingga pada akhirnya membuat dirinya telat memberikan respon. Kejenuhan dalam mengelola pasar akan membuat dirinya gampang mati rasa terhadap apapun yang terjadi diseputarnya. Kejenuhan dalam mengelola pasar akan membuat mudah mengabaikan keluhan-keluhan tuntutan-tuntutan baru konsumen. 


Apa yang menyebabkan seseorang merasa jenuh dalam mengelola pasar? Sejumlah jawaban diantaranya adalah mereka terlalu berfokus pada hal-hal yang rutin, merasa bahwa segala sesuatunya telah bisa ter-prediksi dengan baik, merasa bahwa tidak ada tantangan yang berarti dalam rutinitas yang diijalaninya, ambisi yang dimiliki yang bersangkutan tidaklah besar sekaligus tidak menantang, dan tidak memiliki kemauan yang kuat untuk memperbandingkan posisi relatif dirinya dengan yang lainnya.

Sebetulnya ada hal yang simpel agar merasa tidak jenuh dalam mengelola pasar. Pertama: milikilah ambisi yang besar dan menantang. Kedua: sadarilah adanya persoalan besar yang sedang kita hadapi saat ini dan persoalan besar masa depan yang akan menghadang kita.

Jangan beranggapan bahwa persoalan pasar yang ada saat ini telah diatasi dengan berbagai prosedur SOP yang telah disiapkan dan telah dikembangkan. Jangan beranggapan bahwa semuanya telah berada dalam kendali yang baik walaupun posisi penjualan dan keuntungan dari waktu ke waktu berada pada jalur yang tidak terlalu terjal. 

Bilapun merasa bahwa existing problem telah tertangani dengan baik, jangan merasa bahwa kedepan tidak ada lagi persoalan besar yang akan membahayakan. Jangan terlalu menyepelekan tantangan masa depan. Sudah banyak cerita pengelola perusahaan yang menyepelekan tantangan masa depan akhirnya tidak bisa berkompetisi dan menghilang dari pasar (Kodak almarhum karena menyepelekan digital camera; Nokia —perusahaan lamanya, harus menyerah pada pasar setelah menyepelekan pengembangan symbian dan menyepelekan pengembangan OS serta android; Borders almarhum karena menyepelekan pengembangan e-commerce hingga pengembangan e-commerce nya dipercayakan pada Amazon; JC Penny sebagai hipermart ternama harus almarhum karena menyepelekan kehadiran Walmart; dan lain sebagainya).

Dalam konteks ke Indonesiaan, ada banyak cerita tentang sejumlah institusi bisnis yang size-nya mengecil dan bahkan menghilang dari pasar karena hal yang sama. 

Dan bila kita mau ambil contoh tantangan masa depan —dalam konteks kekinian, adalah perkembangan mobil listrik. Walaupun diprediksikan baru tahun 2030-an kendaraan listrik roda dua dan empat mulai meramaikan pasar, hal ini tidak boleh dianggap sepele bagi para pemain pasar saat ini. Para pemain oli harus berpikir keras bagaimana men-transformasi bisnisnya karena mobil listrik tidak lagi membutuhkan oli. Demikian juga para pemain bensin (pertamina dan pemilik spbu), spbu akan mengecil dan menghilang. Bagaimana dengan PLN, apakah tantangan ini juga akan disambut PLN dengan baik sebagai pengganti SPBU? Ataukah akan ada pemain lain yang akan berhasil mengisi pasar masa depan tersebut? 11 tahun bukanlah masa tunggu yang pendek. 

Siapa yang merasa jenuh mengelola pasar maka yang bersangkutan tidak bakalan jeli mengidentifikasi existing problem ataupun future problem, apalagi berinisiatif melakukan terobosan-terobosan yang wow. Mereka yang merasa jenuh mengelola pasar akan beranggapan bahwa pasar akan tetap menerima dirinya sebagaimana biasanya hingga suatu saat mereka akan dikagetkan pemain yang super agresif.

Pasar tidak akan pernah jenuh, pasar hanya akan terus ber-metamorfosis untuk menuju kenormalan baru. Di pasar famasi, BPJS adalah faktor pemicu  terjadinya kenormalan baru yang mempengaruhi pasar industri farmasi dan rumah sakit. Di industri pupuk, wacana penghilangan subsidi pupuk adalah faktor pemicu terjadinya kenormalan baru yang mempengaruhi pemain-pemain pupuk yang menjadi penyangga pupuk subsidi. Di industri lifestyle, munculnya fenomena leisure consumption menjadi faktor pemicu terjadi kenormalan baru bagi pemain industri perhotelan, mall, horeka, dan sebagainya. Di industri property, muncul fenomena co-living dimana di segmen-segmen pasar tertentu ini akan menjadi pemicu kenormalan baru dalam penyediaan bangunan-bangunan hunian ataupun penginapan. Di perbankan, muncul fintech yang menjadi pemicu kenormalan baru. Di moda angkutan, muncul jasa angkutan online yang menjadi pemicu kenormalan baru. Bila ditelaah lebih jeli lagi, akan makin banyak tersaji segmen-segmen pasar yang telah terus menerus mengalami metaformosis.

Siapa yang merasa jenuh mengelola pasar, mereka bakalan tidak sensitif terhadap sinyal-sinyal metamorfosis pasar dan sekaligus tidak antusias mempersiapkan diri dalam kenormalan baru yang terjadi dipasar. Boleh-boleh saja tidak siap dan tidak antusias namun jangan kaget juga bila nantinya akan ditinggalkan pasar.

Oleh karenanya jangan pernah merasa jenuh dalam mengelola pasar agar kitapun mudah melakukan proses metamorfosis sebagaimana yang diinginkan dipasar.



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.