Bengkok dan Lurus

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Di sebuah kampung nan jauh dari keramaian ada sebuah dusun Kotengah. Untuk menuju kampung ini harus melewati jalan yang membelah hutan dan kebon yang silih berganti. Walaupun posisi kampung amat sangat jauh dari ibukota kecamatan namun jalanan menuju kampung tersebut sebagian besar sudah beraspal dan sebagian diantaranya sudah dalam bentuk jalan cor-coran. Sejumlah penduduknya memiliki kendaraan bermotor walaupun motor yang dimiliki adalah motor butut.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Di kampung ini ada seorang guru. Sebetulnya beliau adalah guru di salah satu sekolah dasar yang letaknya jauh dari dusun tersebut. Guru tersebut bernama Imron. Oleh orang kampung tersebut, keguruan yang dimiliki dimaknai sebagai guru dalam segala hal walaupun sebetulnya guru matematika. Imron digelari sebagai guru kehidupan padahal usia Imron belum terlalu tua —baru seputar 40-an namun dia sangat dituakan dikampung tersebut. Semua orang amat sangat segan pada dirinya. Kepala Desa - pun tidak berani sembarangan pada dirinya.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron sebetulnya tidak menghendaki adanya gelar tersebut. Pernah suatu saat dirinya protes atas gelar tersebut namun orang kampung tidak peduli. Kenapa Imron mendapatkan gelar tersebut? Imron dikenal memiliki pengetahuan yang luas tentang pertanian, perkebunan, memiliki pandangan kehidupan yang luas, super sabar dan tenang, sangat gampang turun tangan membantu orang, dan juru damai yang mumpuni serta sekaligus sebagai guru ngaji.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Banyak pemuda kampung yang mengidolakan dirinya. Dari sekian pemuda kampung yang senang bersamanya, ada satu orang yang sangat dekat dengan dirinya yakni Layaron. Sejumlah penduduk kampung menyebut Layaron sebagai murid terkasih Imron. Walaupun Layaron disebut sebagai murid terkasih namun jangan membayangkan Layaron dengan mudahnya selalu mengikut apapun yang disampaikan Imron. Layaron adalah tipikal murid yang gampang protes.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Suatu saat Layaron datang tergopoh-gopoh mendatangi Imron. Wajah Layaron amat tegang karena menahan kejengkelan yang amat luar biasa. Dengan nafas ngos-ngosan Layaron berkata ke Imron: Pak Dhe, sampeyan itu sebetulnya mau taat pada aturan agama  opo ora seh? </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron dengan bahasa gaulnya: Lho nopo Dul (panggilan akrab Imron ke Layaron)?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron:  Tadi saya pulang dari pasar kecamatan. Di persimpangan hutan pertama saya berjumpa dengan sekelompok teman-teman, ada 5 orang: Juki, Turmin, Mokam, Soleh, dan Rokyan. Mentang-mentang perempatan jalan tersebut sepi, mereka duduk lesehan di persimpangan jalan tersebut. Cilakanya Dhe, 3 diantara mereka lagi teler n mabok2-an dan 2 lainnya sih cuma ngerokok aja. Yang 3 sdh mabok berat hingga sudah tidak bisa diajak berinteraksi normal. Saya berhenti sejenak dan bertanya ke 2 orang yang belum ngerokok: hey kenapa kalian biarkan 3 teman kita jadi begitu?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Turmin: Lho memang kenapa Yar? </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Kenapa kalian biarkan 3 teman kita mabok? </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Juki: Sudahlah Yar, nggak usah sok suci n sok ngelarang kamu. P. Imron saja membolehkan kok.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron terhenyak dan terdiam mendengar perkataan Juki. Perasaan Layaron teraduk-aduk, antara kecewa, marah, dan sebagainya. Buru-buru Layaron menyalakan kendaraannya dan ngaciir. Terdengarlah tawa keras mereka.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sejenak Imron menghela nafas setelah mendengar cerita Layaron, lalu mengelus pundak Layaron dan menggandeng tangan Layaron menuju saung dimana mereka sering menghabiskan waktu untuk diskusi. Tak lupa sambil menggandeng Layaron, Imron mengambil minuman untuk mereka berdua.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sesampai di saung Imron mengeluarkan rokok dan setelah sekian hembusan asap keluar, Imron-pun berkata: Terus menurutmu gimana Dul?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: P. Dhe harus berani tegas dan jelas. Kalau batil itu ya batil. Jangan mengatakan sesuatu yang semestinya tidak boleh menjadi boleh. Sikap P. Dhe akan merusak tatanan yang seharusnya.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron menatap Layaron dengan tatapan yang tenang dengan pancaran kelembutan yang luar biasa. Beberapa kali asap rokok mengepul dari mulut dan hidung Imron. </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Begini Dul. Apakah menurutmu semua orang bisa dijamin terbebas dari masalah?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Apa kaitannya?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sambil menghela nafas Imron bertanya lagi: Jawab dulu pertanyaanku, apakah bisa dijamin semua orang bisa terbebas dari masalah?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Ya siapa yang berani mengatakan semua orang akan terbebas masalah? Yang terbebas dari masalah tentunya adalah orang yang sudah mati.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Hm… lalu menurutmu apakah semua orang memiliki cara yang sama dalam menghadapi masalah? Walaupun masalah yang dihadapi adalah sama?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Ya tentu aja ada orang yang memiliki cara yang sama dalam menangani masalah dan tentunya lebih banyak lagi orang yang berbeda-beda dalam menangani masalah.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Menurutmu Dul, apa yang menyebabkan satu orang dengan orang lain berbeda dalam merespon masalah yang dihadapi?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Apa ya Dhe? Barangkali faktor penyebab respon yang berbeda adalah faktor kedewasaan seseorang.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Contone?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Setelah terdiam lama Layaron-pun menyahut: Ada 2 anak kecil yang berumur sama, 8 tahun. Mereka berdua main mainan yang sama mobil2-an dari kulit jeruk keprok, sayangnya mainan tersebut cuma 1. Awalnya mereka gantian memainkan mobil2-an tsb namun tiba-tiba satu anak sangat menguasai mobil tersebut dan selanjutnya anak lainnya tidak dikasih kesempatan bermain. Akhirnya si anak yang tidak dikasih kesempatan main sangat marah dan berusaha merebut mobil2-an yang ada. Sementara anak satunya berusaha keras mempertahankan mobil2-an yang telah dikuasainya.  Hingga diantara mereka terjadi kekerasan fisik dan mobil yang diperebutkan menjadi rusak berantakan. Sebagai akibatnya mereka berdua menangis tak terkendali dan saling tuduh sebagai perusak mobil.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Namun dalam kasus yang sama dengan 2 anak berbeda ternyata situasi yang terjadi berbeda. Salah salah diantara mereka yang tidak diberi kesempatan main mobil2-an ternyata tidak marah. Yang bersangkutan menoleh kiri-kanan dan menemukan pelepah daun pisah yang sudah terpotong. Yang berangkutan lalu membuat tali dari debok pisang yang sudah menua. Tali tersebut diikatkan ke pelepah pisang yang dia temukan. Sang anak ini menvisualisasikan pelepah pisang tersebut adalah mobil2-an hingga akhirnya mereka dua bisa tetap bermain bahkan dengan situasi yang lebih ceria hingga akhirnya mereka berdua saling bertukar mobil2-an yang ada.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Dengan wajah sumringah Imron menatap wajah Layaron lalu berkata: Pinter kamu Dul. Apa yang menyebabkan respon 2 anak yang kamu ceritakan itu berbeda?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Kembali Layaron terdiam… lalu meraih bungkus rokok Imron dan menyalakannya. Imron-pun mendiamkan apa yang dilakukan si Layaron dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Imron membiarkan Layaron menikmati rokoknya. Imron sangat hafal, bila si Dul sudah mulai merokok maka ini sebagai pertanda bahwa si Dul dalam kondisi tenang dan sedang berfikir. </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Setelah sekian lama diantara mereka terdiam, tiba-tiba Layaron berkata: Yang membuat mereka berbeda adalah tingkat kedewasaan diantara kedua anak yang tidak diberi kesempatan main mobil2-an yang ada.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Kamu sungguh jeli Dul. Menurutmu apa yang membuat kedewasaan diantara mereka berbeda?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron kembali terdiam. Asap rokok-pun secara teratur terus bergulung-gulung keluar dari mulut dan hidung si Layaron dan si Imron. Suasana kembali hening. </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Akhirnya Layaron kembali memecah keheningan: Nganu Dhe. Ehm. Layaron tidak melanjutkan jawabannya hingga suasana menjadi kembali hening.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Tiba-tiba Imron kembali menagih jawaban Layaron: Gimana Dul?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Ehm. Bingung aku Dhe?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sambil tersenyum Imron berkata: Begini Dul, menurutmu apakah pola didik diantara kedua anak tersebut berbeda sehingga respon-nyapun berbeda? </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Sangat dimungkinan itulah yang menyebabkan tingkat kedewasaan diantara kedua anak ini berbeda.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron melanjutkan: Bukankah pola didik memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan kemampuan mengelola perasaan di masing-masing anak tersebut? Hingga respon diantara keduanya menjadi berbeda.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Ehm…. Tapi Dhe, gimana kalau ternyata dua anak tersebut ternyata sama-sama memiliki tipe orang tua yang cuekan, artinya tidak mendidik anaknya?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Lho memang si anak bergaul dan hanya belajar dari ortunya saja? Memang sumber pembelajaran utama anak adalah ortu. Namun bukankah sumber belajar masih banyak lagi? Bisa saja yang bersangkutan belajar dari orang lain, buku, tontonan, dan lain sebagainya. Apalagi kalau si anaknya sendiri punya kemauan belajar yang tinggi plus menjadi pengamat dan penilai yang baik terhadap segala sesuatu yang terjadi di seputarnya. Hingga si anak bisa mengembangkan kemampuan mencari alternatif respon.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron: Ehm… lalu apa hubungannnya dengan P. Dhe memperbolehkan mereka mabok?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron tidak segera menjawab. Malah asyik dengan rokonya hingga suasanapun kembali hening. Kali ini susana hening terasa lebih lama dari sebelumnya. Layaron-pun sabar menanti respon Imron.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Tak lama kemudian Imron berkata: Sebagaimana ceritamu tentang anak dan mobil mainan. Diantara 5 teman-mu tadi ada yang sedang mengalami masalah. Saya tidak usah ceritakan secara detil masalahnya. Kamu kan tahu Dul, rasa bosan dan jenuhpun adalah masalah. Intinya sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan adalah masalah kan?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sebagaimana ceritamu, respon mengatasi masalah antara satu orang dengan orang lain berbeda bukan? Ada orang yang berfokus pada masalah dan berusaha menyelesaikannya namun ada pula diantara mereka yang sengaja membiarkan masalahnya dulu. Mereka sengaja menjauh dari masalah. Dengan kata lain mereka sedang melakukan pelarian. Cara melarikan diri dan tempat melarikan diri antara satu orang dengan orang lain juga berbeda bukan? Ada yang sedang lari dari masalah dengan cara dugem, kamu tahu nggak Dul apa yang saya maksud dugem?</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron menggeleng.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Imron: Yach nggak usah dibahas. Ada yang lari dari masalah dengan banyak merokok, ada yang lari dari masalah dengan cara kluyuran ke tempat-tempat yang tidak pernah dikujungin atau bahkan kalo ada masalah dia suka lari ke satu tempat favoritnya saja seperti misal misal saung ini, ada yang ke pantai, ke goa, dan lain sebagainya. Ada juga diantara kita yang lari darimasalah dengan cara ke langgar untuk memperbanyak dzikir atau mengaji. Jenis pelarian, cara pelarian, dan tempat pelarian berbeda antara orang satu dengan lainnya tergantung level kedewasaan mereka.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Diantara teman yang kamu jumpai itu, ada diantaranya yang belum berkemampuan untuk mencari alternatif pelarian yang normatif baik. Yang penting bagi mereka adalah lari dulu dan satu-satunya tempat lari yang ada di otaknya adalah mabok. Kalo dikasih alternatif lain malah ngamuk… ya memang taraf kedewasaan temenmu saat ini ya seperti itu. Kalo kamu Dul, kan lain. Kamu sudah sampai taraf yang berbeda. Bila ada masalah kamu ngaji dan perbanyak dzikir.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Mereka bertiga yang mabok itu sudah diskusi dengan saya, sudah curcol masalah2 yang membuat puyeng mereka, dan sudah mengatakan apa yang mau dilakukan agar bisa  sejenak melupakan masalah. Pelarian yang diinginkan adalah mabok. Saya sudah uji kemampun mencari alternatif pelarian yang lain namun ternyata masih belum muncul. Yaaaa aku persilahkan mabok. Namun saya kasih syarat dan ketentuan: jangan mabok di kampung dan jangan menggunakan oplosan yang nggak jelas plus harus menyertakan 2 orang yang waras agar bisa menjaga mereka.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Yang penting biarkan mereka puas dengan model pilihan pelariannya saat ini. Setelah itu ajak mereka diskusi membahas efek positif dan negatif dari model pelarian mereka tersebut. Diskusikan lebih lanjut tentang resiko-resiko tambahan yang akan diakibatkan oleh model pelariannya saat ini serta  kembangkan model pelarian alternatif. Dan dorong mereka untuk mencoba model pelarian alternatif serta membanding efek positif dan negatifnya dibanding model pelarian yang sebelumnya.  </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Dul coba ingat cerita saya tentang si Kipli. Kipli dulu juga seperti mereka yakni mabok. Namun respon Kipli sekarang tidak jauh beda denganmu bila menghadapi masalah kan? Saya nanti pasti akan minta bantuan Kipli saat mengadakan diskusi lanjutan dengan temen-temenmu yang mabok itu.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Bersyukurlah kamu Dul, kamu tidak harus melewati fase seperti Kipli dan mereka karena kamu memiliki kesempatan mengasah diri lebih baik dari mereka. Saat kamu melihat mereka, jangan hanya melihat dari apa yang dilakukannya saat ini apalagi langsung menghakimi mereka. Berusaha-lah untuk mampu melihat, kenapa mereka melakukan hal tersebut dan faktor apa yang membuat mereka masih berada ditingkatan perilaku tersebut. Tugasmu berikutnya adalah memberdayakan mereka agar bisa naik tingkat. </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Hidup itu perjalanan Dul. Ada orang-orang tertentu, fase-fase hidupnya dijalani dengan pola yang terus menanjak lurus. Namun banyak juga fase hidup yang dialami orang lain berpola zig-zag, bengkok-bengkok baru menanjak lurus lalu bengkok lagi dan lurus kembali. Ada pula fase hidupnya menanjak lurus namun tiba-tiba bengkok nggak karu-karuan akibat kepandaian mengelola masalahnya tidak berkembang. </span></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 14px;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;">Dan kita yang menganggap diri kita berfase lurus, jangan2 nantinya menjadi bengkok-bengkok nggak karuan. Dan demikian juga teman2mu Dul, saat ini fase-nya lagi bengkok-bengkok jangan-jangan nantinya jauh lebih lurus dibanding kita. Bijak-bijaklah menilai keadaan Dul. Jangan nyinyir dengan teman-temanmu yang kebetulan fase perjalanan hidupnya engkau pandang berada di bawah level fase-mu. Kembangkan diri dengan terus belajar agar <i><b>jembar pikiran, jembar dodo</b></i><i style="font-weight: normal;">, </i>dan<i style="font-weight: normal;"> </i><i><b>jembar roso</b></i> serta ringan tangan <i><b>memberdayakan orang tanpo ngroso digdoyo</b></i>.  </span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron menyimak dengan serius apa yang dikatakan P. Dhe. Apa yang disampaikan P. Dhe menurutnya benar namun masih sulit baginya untuk mengakui kebenaran tersebut. Walaupun Layaron tidak berkata apapun namun kerut dahi dan mata yang sering di meramkan adalah sebagai pertanda bahwa Layaron sedang berusaha keras untuk mengakui kebenaran petuah tersebut. </span></span></p><p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Layaron bergumam lirih: Lebih susah lagi mempraktekkan petuah P. Dhe.</span></span></p>

<p style="font-weight: normal; font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-size:14px"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif">Sebagaimana biasanya, si Imron diam saja dan membiarkan Layaron bergelut dengan hati dan pikirannya. Toh nanti kalo masih penasaran biasanya diskusi akan berlanjut di waktu yang lain. Dan tak lama kemudian Imron berkata: sudah Dul ya, aku mau silaturahmi ke tempat lain dulu. </span></span></p>

Di sebuah kampung nan jauh dari keramaian ada sebuah dusun Kotengah. Untuk menuju kampung ini harus melewati jalan yang membelah hutan dan kebon yang silih berganti. Walaupun posisi kampung amat sangat jauh dari ibukota kecamatan namun jalanan menuju kampung tersebut sebagian besar sudah beraspal dan sebagian diantaranya sudah dalam bentuk jalan cor-coran. Sejumlah penduduknya memiliki kendaraan bermotor walaupun motor yang dimiliki adalah motor butut.

Di kampung ini ada seorang guru. Sebetulnya beliau adalah guru di salah satu sekolah dasar yang letaknya jauh dari dusun tersebut. Guru tersebut bernama Imron. Oleh orang kampung tersebut, keguruan yang dimiliki dimaknai sebagai guru dalam segala hal walaupun sebetulnya guru matematika. Imron digelari sebagai guru kehidupan padahal usia Imron belum terlalu tua —baru seputar 40-an namun dia sangat dituakan dikampung tersebut. Semua orang amat sangat segan pada dirinya. Kepala Desa - pun tidak berani sembarangan pada dirinya.

Imron sebetulnya tidak menghendaki adanya gelar tersebut. Pernah suatu saat dirinya protes atas gelar tersebut namun orang kampung tidak peduli. Kenapa Imron mendapatkan gelar tersebut? Imron dikenal memiliki pengetahuan yang luas tentang pertanian, perkebunan, memiliki pandangan kehidupan yang luas, super sabar dan tenang, sangat gampang turun tangan membantu orang, dan juru damai yang mumpuni serta sekaligus sebagai guru ngaji.

Banyak pemuda kampung yang mengidolakan dirinya. Dari sekian pemuda kampung yang senang bersamanya, ada satu orang yang sangat dekat dengan dirinya yakni Layaron. Sejumlah penduduk kampung menyebut Layaron sebagai murid terkasih Imron. Walaupun Layaron disebut sebagai murid terkasih namun jangan membayangkan Layaron dengan mudahnya selalu mengikut apapun yang disampaikan Imron. Layaron adalah tipikal murid yang gampang protes.

Suatu saat Layaron datang tergopoh-gopoh mendatangi Imron. Wajah Layaron amat tegang karena menahan kejengkelan yang amat luar biasa. Dengan nafas ngos-ngosan Layaron berkata ke Imron: Pak Dhe, sampeyan itu sebetulnya mau taat pada aturan agama  opo ora seh? 


Imron dengan bahasa gaulnya: Lho nopo Dul (panggilan akrab Imron ke Layaron)?

Layaron:  Tadi saya pulang dari pasar kecamatan. Di persimpangan hutan pertama saya berjumpa dengan sekelompok teman-teman, ada 5 orang: Juki, Turmin, Mokam, Soleh, dan Rokyan. Mentang-mentang perempatan jalan tersebut sepi, mereka duduk lesehan di persimpangan jalan tersebut. Cilakanya Dhe, 3 diantara mereka lagi teler n mabok2-an dan 2 lainnya sih cuma ngerokok aja. Yang 3 sdh mabok berat hingga sudah tidak bisa diajak berinteraksi normal. Saya berhenti sejenak dan bertanya ke 2 orang yang belum ngerokok: hey kenapa kalian biarkan 3 teman kita jadi begitu?

Turmin: Lho memang kenapa Yar? 

Layaron: Kenapa kalian biarkan 3 teman kita mabok? 

Juki: Sudahlah Yar, nggak usah sok suci n sok ngelarang kamu. P. Imron saja membolehkan kok.

Layaron terhenyak dan terdiam mendengar perkataan Juki. Perasaan Layaron teraduk-aduk, antara kecewa, marah, dan sebagainya. Buru-buru Layaron menyalakan kendaraannya dan ngaciir. Terdengarlah tawa keras mereka.

Sejenak Imron menghela nafas setelah mendengar cerita Layaron, lalu mengelus pundak Layaron dan menggandeng tangan Layaron menuju saung dimana mereka sering menghabiskan waktu untuk diskusi. Tak lupa sambil menggandeng Layaron, Imron mengambil minuman untuk mereka berdua.

Sesampai di saung Imron mengeluarkan rokok dan setelah sekian hembusan asap keluar, Imron-pun berkata: Terus menurutmu gimana Dul?

Layaron: P. Dhe harus berani tegas dan jelas. Kalau batil itu ya batil. Jangan mengatakan sesuatu yang semestinya tidak boleh menjadi boleh. Sikap P. Dhe akan merusak tatanan yang seharusnya.

Imron menatap Layaron dengan tatapan yang tenang dengan pancaran kelembutan yang luar biasa. Beberapa kali asap rokok mengepul dari mulut dan hidung Imron. 

Imron: Begini Dul. Apakah menurutmu semua orang bisa dijamin terbebas dari masalah?

Layaron: Apa kaitannya?

Sambil menghela nafas Imron bertanya lagi: Jawab dulu pertanyaanku, apakah bisa dijamin semua orang bisa terbebas dari masalah?

Layaron: Ya siapa yang berani mengatakan semua orang akan terbebas masalah? Yang terbebas dari masalah tentunya adalah orang yang sudah mati.

Imron: Hm… lalu menurutmu apakah semua orang memiliki cara yang sama dalam menghadapi masalah? Walaupun masalah yang dihadapi adalah sama?

Layaron: Ya tentu aja ada orang yang memiliki cara yang sama dalam menangani masalah dan tentunya lebih banyak lagi orang yang berbeda-beda dalam menangani masalah.

Imron: Menurutmu Dul, apa yang menyebabkan satu orang dengan orang lain berbeda dalam merespon masalah yang dihadapi?

Layaron: Apa ya Dhe? Barangkali faktor penyebab respon yang berbeda adalah faktor kedewasaan seseorang.

Imron: Contone?

Setelah terdiam lama Layaron-pun menyahut: Ada 2 anak kecil yang berumur sama, 8 tahun. Mereka berdua main mainan yang sama mobil2-an dari kulit jeruk keprok, sayangnya mainan tersebut cuma 1. Awalnya mereka gantian memainkan mobil2-an tsb namun tiba-tiba satu anak sangat menguasai mobil tersebut dan selanjutnya anak lainnya tidak dikasih kesempatan bermain. Akhirnya si anak yang tidak dikasih kesempatan main sangat marah dan berusaha merebut mobil2-an yang ada. Sementara anak satunya berusaha keras mempertahankan mobil2-an yang telah dikuasainya.  Hingga diantara mereka terjadi kekerasan fisik dan mobil yang diperebutkan menjadi rusak berantakan. Sebagai akibatnya mereka berdua menangis tak terkendali dan saling tuduh sebagai perusak mobil.

Namun dalam kasus yang sama dengan 2 anak berbeda ternyata situasi yang terjadi berbeda. Salah salah diantara mereka yang tidak diberi kesempatan main mobil2-an ternyata tidak marah. Yang bersangkutan menoleh kiri-kanan dan menemukan pelepah daun pisah yang sudah terpotong. Yang berangkutan lalu membuat tali dari debok pisang yang sudah menua. Tali tersebut diikatkan ke pelepah pisang yang dia temukan. Sang anak ini menvisualisasikan pelepah pisang tersebut adalah mobil2-an hingga akhirnya mereka dua bisa tetap bermain bahkan dengan situasi yang lebih ceria hingga akhirnya mereka berdua saling bertukar mobil2-an yang ada.

Dengan wajah sumringah Imron menatap wajah Layaron lalu berkata: Pinter kamu Dul. Apa yang menyebabkan respon 2 anak yang kamu ceritakan itu berbeda?

Kembali Layaron terdiam… lalu meraih bungkus rokok Imron dan menyalakannya. Imron-pun mendiamkan apa yang dilakukan si Layaron dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Imron membiarkan Layaron menikmati rokoknya. Imron sangat hafal, bila si Dul sudah mulai merokok maka ini sebagai pertanda bahwa si Dul dalam kondisi tenang dan sedang berfikir. 

Setelah sekian lama diantara mereka terdiam, tiba-tiba Layaron berkata: Yang membuat mereka berbeda adalah tingkat kedewasaan diantara kedua anak yang tidak diberi kesempatan main mobil2-an yang ada.

Imron: Kamu sungguh jeli Dul. Menurutmu apa yang membuat kedewasaan diantara mereka berbeda?

Layaron kembali terdiam. Asap rokok-pun secara teratur terus bergulung-gulung keluar dari mulut dan hidung si Layaron dan si Imron. Suasana kembali hening. 

Akhirnya Layaron kembali memecah keheningan: Nganu Dhe. Ehm. Layaron tidak melanjutkan jawabannya hingga suasana menjadi kembali hening.

Tiba-tiba Imron kembali menagih jawaban Layaron: Gimana Dul?

Layaron: Ehm. Bingung aku Dhe?

Sambil tersenyum Imron berkata: Begini Dul, menurutmu apakah pola didik diantara kedua anak tersebut berbeda sehingga respon-nyapun berbeda? 

Layaron: Sangat dimungkinan itulah yang menyebabkan tingkat kedewasaan diantara kedua anak ini berbeda.

Imron melanjutkan: Bukankah pola didik memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan kemampuan mengelola perasaan di masing-masing anak tersebut? Hingga respon diantara keduanya menjadi berbeda.

Layaron: Ehm…. Tapi Dhe, gimana kalau ternyata dua anak tersebut ternyata sama-sama memiliki tipe orang tua yang cuekan, artinya tidak mendidik anaknya?

Imron: Lho memang si anak bergaul dan hanya belajar dari ortunya saja? Memang sumber pembelajaran utama anak adalah ortu. Namun bukankah sumber belajar masih banyak lagi? Bisa saja yang bersangkutan belajar dari orang lain, buku, tontonan, dan lain sebagainya. Apalagi kalau si anaknya sendiri punya kemauan belajar yang tinggi plus menjadi pengamat dan penilai yang baik terhadap segala sesuatu yang terjadi di seputarnya. Hingga si anak bisa mengembangkan kemampuan mencari alternatif respon.

Layaron: Ehm… lalu apa hubungannnya dengan P. Dhe memperbolehkan mereka mabok?

Imron tidak segera menjawab. Malah asyik dengan rokonya hingga suasanapun kembali hening. Kali ini susana hening terasa lebih lama dari sebelumnya. Layaron-pun sabar menanti respon Imron.

Tak lama kemudian Imron berkata: Sebagaimana ceritamu tentang anak dan mobil mainan. Diantara 5 teman-mu tadi ada yang sedang mengalami masalah. Saya tidak usah ceritakan secara detil masalahnya. Kamu kan tahu Dul, rasa bosan dan jenuhpun adalah masalah. Intinya sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan adalah masalah kan?

Sebagaimana ceritamu, respon mengatasi masalah antara satu orang dengan orang lain berbeda bukan? Ada orang yang berfokus pada masalah dan berusaha menyelesaikannya namun ada pula diantara mereka yang sengaja membiarkan masalahnya dulu. Mereka sengaja menjauh dari masalah. Dengan kata lain mereka sedang melakukan pelarian. Cara melarikan diri dan tempat melarikan diri antara satu orang dengan orang lain juga berbeda bukan? Ada yang sedang lari dari masalah dengan cara dugem, kamu tahu nggak Dul apa yang saya maksud dugem?

Layaron menggeleng.

Imron: Yach nggak usah dibahas. Ada yang lari dari masalah dengan banyak merokok, ada yang lari dari masalah dengan cara kluyuran ke tempat-tempat yang tidak pernah dikujungin atau bahkan kalo ada masalah dia suka lari ke satu tempat favoritnya saja seperti misal misal saung ini, ada yang ke pantai, ke goa, dan lain sebagainya. Ada juga diantara kita yang lari darimasalah dengan cara ke langgar untuk memperbanyak dzikir atau mengaji. Jenis pelarian, cara pelarian, dan tempat pelarian berbeda antara orang satu dengan lainnya tergantung level kedewasaan mereka.

Diantara teman yang kamu jumpai itu, ada diantaranya yang belum berkemampuan untuk mencari alternatif pelarian yang normatif baik. Yang penting bagi mereka adalah lari dulu dan satu-satunya tempat lari yang ada di otaknya adalah mabok. Kalo dikasih alternatif lain malah ngamuk… ya memang taraf kedewasaan temenmu saat ini ya seperti itu. Kalo kamu Dul, kan lain. Kamu sudah sampai taraf yang berbeda. Bila ada masalah kamu ngaji dan perbanyak dzikir.

Mereka bertiga yang mabok itu sudah diskusi dengan saya, sudah curcol masalah2 yang membuat puyeng mereka, dan sudah mengatakan apa yang mau dilakukan agar bisa  sejenak melupakan masalah. Pelarian yang diinginkan adalah mabok. Saya sudah uji kemampun mencari alternatif pelarian yang lain namun ternyata masih belum muncul. Yaaaa aku persilahkan mabok. Namun saya kasih syarat dan ketentuan: jangan mabok di kampung dan jangan menggunakan oplosan yang nggak jelas plus harus menyertakan 2 orang yang waras agar bisa menjaga mereka.

Yang penting biarkan mereka puas dengan model pilihan pelariannya saat ini. Setelah itu ajak mereka diskusi membahas efek positif dan negatif dari model pelarian mereka tersebut. Diskusikan lebih lanjut tentang resiko-resiko tambahan yang akan diakibatkan oleh model pelariannya saat ini serta  kembangkan model pelarian alternatif. Dan dorong mereka untuk mencoba model pelarian alternatif serta membanding efek positif dan negatifnya dibanding model pelarian yang sebelumnya.  

Dul coba ingat cerita saya tentang si Kipli. Kipli dulu juga seperti mereka yakni mabok. Namun respon Kipli sekarang tidak jauh beda denganmu bila menghadapi masalah kan? Saya nanti pasti akan minta bantuan Kipli saat mengadakan diskusi lanjutan dengan temen-temenmu yang mabok itu.

Bersyukurlah kamu Dul, kamu tidak harus melewati fase seperti Kipli dan mereka karena kamu memiliki kesempatan mengasah diri lebih baik dari mereka. Saat kamu melihat mereka, jangan hanya melihat dari apa yang dilakukannya saat ini apalagi langsung menghakimi mereka. Berusaha-lah untuk mampu melihat, kenapa mereka melakukan hal tersebut dan faktor apa yang membuat mereka masih berada ditingkatan perilaku tersebut. Tugasmu berikutnya adalah memberdayakan mereka agar bisa naik tingkat. 

Hidup itu perjalanan Dul. Ada orang-orang tertentu, fase-fase hidupnya dijalani dengan pola yang terus menanjak lurus. Namun banyak juga fase hidup yang dialami orang lain berpola zig-zag, bengkok-bengkok baru menanjak lurus lalu bengkok lagi dan lurus kembali. Ada pula fase hidupnya menanjak lurus namun tiba-tiba bengkok nggak karu-karuan akibat kepandaian mengelola masalahnya tidak berkembang. 

Dan kita yang menganggap diri kita berfase lurus, jangan2 nantinya menjadi bengkok-bengkok nggak karuan. Dan demikian juga teman2mu Dul, saat ini fase-nya lagi bengkok-bengkok jangan-jangan nantinya jauh lebih lurus dibanding kita. Bijak-bijaklah menilai keadaan Dul. Jangan nyinyir dengan teman-temanmu yang kebetulan fase perjalanan hidupnya engkau pandang berada di bawah level fase-mu. Kembangkan diri dengan terus belajar agar jembar pikiran, jembar dodo, dan jembar roso serta ringan tangan memberdayakan orang tanpo ngroso digdoyo.  

Layaron menyimak dengan serius apa yang dikatakan P. Dhe. Apa yang disampaikan P. Dhe menurutnya benar namun masih sulit baginya untuk mengakui kebenaran tersebut. Walaupun Layaron tidak berkata apapun namun kerut dahi dan mata yang sering di meramkan adalah sebagai pertanda bahwa Layaron sedang berusaha keras untuk mengakui kebenaran petuah tersebut. 

Layaron bergumam lirih: Lebih susah lagi mempraktekkan petuah P. Dhe.

Sebagaimana biasanya, si Imron diam saja dan membiarkan Layaron bergelut dengan hati dan pikirannya. Toh nanti kalo masih penasaran biasanya diskusi akan berlanjut di waktu yang lain. Dan tak lama kemudian Imron berkata: sudah Dul ya, aku mau silaturahmi ke tempat lain dulu. 



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.