Eksotisme Pantai Pacitan

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Pacitan yang selama ini dikenal sebagai kota asal Presiden ke 6 RI yakni Bp SBY ternyata menyimpan pesona pantai yang luar biasa. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Setelah sekian lama tergelitik hanya mendengar cerita tentang keindahan dan pesona pantai Pacitan, kami menyempatkan diri untuk membuktikan apakah cerita yang beredar memang benar adanya ataukah hanya sekedar bahasa pemasaran saja. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kami memesan penginapan Homestay Putra Mandiri selama 2 malam. Ternyata lokasi penginapan tidak jauh dari rumah Presiden ke 6 RI. Rute perjalanan dari Jakarta menuju Pacitan  kami percayakan pada pilihan Google Maps. Berangkat dari Jakarta jam 05.30. Oleh Google Maps Diarahkan keluar pintu tol seputar Kartasura baru menyusuri jalanan umum menuju Pacitan.   Yang perlu diantisipasi saat melintasi jalur tol yang cukup jauh adalah kecukupan bbm. Sebagaimana diketahui ruas tol yang baru dibuka belum tersedia <em>rest area</em> yang mapan. SPBU yang adalah adalah SPBU darurat dengan hanya satu Noozle saja. Sempat kami antri ±2 jam untuk mendapatkan tambahan bbm, itupun akhirnya hanya bisa beli 10 liter karena pembeliannya ternyata dibatasi. Menjengkelkan namun apaboleh buat. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Perjalanan terus berlanjut hingga kami akhirnya masuk penginapan persis setelah adzan magrib. Alhamdulillah kamar penginapan cukup luas dan bersih serta memiliki parkiran yang cukup. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Esok paginya mulailah kami bergerak. Tidak jauh dari penginapan terdapat pantai yang terkenal yakni pantai Teleng Ria, namun demikian kami memutuskan untuk tidak mengunjunginya terlebih dhulu. Kami penasaran dengan pantai Klayar yang menurut sejumlah orang adalah pantai yang bersih dan eksotis. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Rute dari penginapan menuju Pantai Klayar kembali kami percayakan pada rekomendasi Google Map. Dan sebagai biasanya pasti Google Maps akan merekomendasikan jalur tercepat dengan waktu tempuh satu jam sekian menit (persisnya lupa 😄). Jalur pintas ini ternyata melewati jalur pedusunan membelah hutan dengan jalur berkelok-kelok serta naik-turun yang lumayan menegangkan. Kondisi jalanan lumayan bagus namun jalurnya di beberapa titik naik cukup tajam dan saat berada di puncak tanjakan, jalan turun tidak terlihat dari kemudi… hidung mobil harus pelan-pelan diturunkan barulah terlihat arah jalannya (<em>whew…</em>). Lebih menegangkan lagi bila berpapasan dengan mobil lain saat di tikungan tajam (jalan ke depannya tidak terlihat karena terhalang oleh tebing). Kenapa menegangkan?  Sebelah kanan berbatasan dengan tebing dan sebelah kiri jalan terdapat jurang yang dalam. Bila berpapasan dengan mobil lain… wow-wow… harus ada yang ngalah. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Saat itu kami sempat satu kali berpapasan dengan 2 mobil sekaligus ditikungan yang amat tajam. Untungnya 2 mobil tersebut mau mengalah. Mereka mundur cukup jauh dan memepetkan mobilnya ke tebing yang ada agar kami bisa lewat dengan ruangan yang aman karena sebelah kiri (beberapa cm) kami terdapat jurang yang dalam. Alhamdulilah mobil Fortuner kami bisa lewat. Akhirnya setelah melalui jalan pintas yang menegangkan, kami melalui jalan utama yang lapang untuk menuju Pantai Klayar. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tiket masuk ke Klayar tidak mahal dan setelah masuk dan memarkir kendaraan… dan pemandangan dari kejauhan sudah menggoda. Ada jalanan menurun yang lumayan jauh untuk menuju pantai. Mobil tidak boleh masuk kecuali yang menginap di sejumlah <em>homestay</em> di dekat lokasi pinggiran pantai (rupanya di dekat pinggiran pantai banyak terdapat kamar <em>homestay</em> walaupun kamarnya <strong><em>sepertinya</em></strong> tidak seluas tempat penginapan kami). Banyak ojek yang menawarkan jasanya karena jalan menuju ke arah pantai turun tajam dan lumayan jauh.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sesampai pinggiran pantai, kami naik motor ATV menuju lokasi yang paling eksotis. Dan WOW… memang sangat eksotis. Pantainya amat bersih, terdapat hamparan pasir putih dan di lokasi tertentu terdapat hamparan pasir hitam yang mempesona. Banyak spot-spot yang sangat menarik untuk berfoto. Terdapat pula apa yang disebut seruling samudra… air mancur yang muncrat tinggi dari lubang bebatuan saat ombak menghantam (sayang kami tidak bisa mendekat karena air pasang). Pantai Klayar memang luar biasa eksotis. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Setelah puas menikmati spot-spot pemandangan yang eksotis dan sedikit main-main di pinggir pantai, kami-pun keluar dari pantai Klayar dengan kepuasan yang luar biasa. Tak lupa kami membeli udang goreng nan renyah dan gurih dengan harga yang sangat jauh dari harga Jakarta. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tak jauh dari lokasi pantai Klayar, kami menuju pantai Banyutibo. Dari jalan utama yang lapang kami harus melalui jalur yang hanya muat untuk satu mobil (sejenis bis tentunya tidak bisa masuk) setelah membayar tiket masuk. Saat melalui jalur tersebut, kamipun kebingungan: bagaimana jika ada mobil yang keluar? Tak lama kemudian kami sampai di lokasi tanah lapang yang tidak rata dan masih orisinil untuk tempat parkir mobil. Ternyata ada petugas dari masyarakat setempat yang mengatur arus keluar masuk mobil. Bila ada mobil masuk, maka petugas yang diatas memberikan informasi ke bawah supaya mobil yang mau keluar ditahan… demikian juga sebaliknya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Lokasi pantai masih jauh dari tempat parkir mobil, ± 300 - 400 meter melalui jalur manurun yang lumayan. Untungnya terdapat banyak ojek dengan ongkos Rp 5000 untuk menuju pantai. Bentang pantai Banyutibo tidak panjang, hanya sepetak saja. Lokasi didominasi oleh bentangan karang2 yang langsung berbatasan dengan hamparan air laut samudra namun demikian menyajikan spot-spot pemandangan yang unik dan bagus. Untuk menuju sepetak pantai yang bersih kita harus turun menuju air terjun mini yang airnya langsung mengalir ke laut.  </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Setelah puas menikmati berbagai spot yang memanjakan mata maka kamipun meninggalkan pantai Banyutibo untuk menuju Gua Gong.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Goa Gong memiliki tempat parkir yang luas. Untuk menuju goa Gong tersedia ojek yang bisa mengantarkan sampai pinggir tangga menuju Goa Gong. Untuk mencapai mulut Goa harus melalui tangga yang cukup lumayan jauh dan agak mendaki.  </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Goa Gong memiliki stalaktit dan stalagmit yang mempesona. Tersedia jalur sempit berpagar untuk menelusuri Goa. Goa cukup dalam dan ada jalur menurun dan naik yang cukup tajam dengan kondisi lantai trek-nya basah dan sedikir berlumpur (apakah ini diakibatkan karena musim hujan?). Oleh karenanya menurut kami, bagi anda yang sudah berumur jangan sekali-kali nekat untuk menyusuri trek tersebut. Namun bila ingin menguji kekuatan dengkul kaki, tak ada salahnya dicoba. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Pada jalur keluar Goa terdapat satu stalaktit besar dengan ujung yang pipih dan kalau dipukul dengan tepat akan menghasilkan suara seperti bunyi Gong. Untuk menelusuri Goa, anda wajib bermandi keringat karena didalam Goa sangat sumuk (kondisi udara panas dan lembab). Ada beberapa blower besar yang di pasang di Goa namun udara yang sangat sumuk tetap saja menyelimuti Goa. Pantas saja di mulut Goa banyak aneka kipas yang ditawarkan. Kami sebetulnya ingin berlama-lama menikmati keindahan Goa Gong namun udara yang sangat sumuk mengalahkan tekad kami.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tak lama kemudian kamipun meninggalkan Goa Gong untuk menuju penginapan. Kami memutuskan tidak kemana-kemana lagi karena kecapean. Esok paginya kami mengunjungi pantai  Teleng Ria. Pantai Teleng Ria memiliki bentangan pantai panjang… namun sayang saat kami kunjungi banyak sampah kayu yang berasal dari lautan. Namun masih aja tersedia hamparan pantai yang cukup bersih dan bisa dipakai untuk main-main. Pemandangannya tidak seeksotis pantai Klayar. Hal yang menarik adalah tersedianya banyak kedai yang menjual makanan gorengan laut yang menggoda (udang goreng dengan berbagai ukuran, cumi goreng, kepiting goreng, dan lain-lainnya). Setelah memborong aneka gorengan kami-pun menuju penginapan untuk beres-beres dan <em>check out</em> menuju kota lainnya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">2 malam di Pacitan rasanya masih kurang karena ada sejumlah pantai eksotis lainnya yang ternyata belum sempat kami kunjungi. Pacitan meninggalkan kenangan pantai eksotis yang luar biasa. Terima kasih Pacitan, Insya Allah kami akan berkunjung kembali untuk menikmati pantai-pantai lain yang kabarnya tidak kalah eksotis dibanding pantai Klayar dan Banyu Tibo.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"> </p>

Pacitan yang selama ini dikenal sebagai kota asal Presiden ke 6 RI yakni Bp SBY ternyata menyimpan pesona pantai yang luar biasa. 

Setelah sekian lama tergelitik hanya mendengar cerita tentang keindahan dan pesona pantai Pacitan, kami menyempatkan diri untuk membuktikan apakah cerita yang beredar memang benar adanya ataukah hanya sekedar bahasa pemasaran saja. 

Kami memesan penginapan Homestay Putra Mandiri selama 2 malam. Ternyata lokasi penginapan tidak jauh dari rumah Presiden ke 6 RI. Rute perjalanan dari Jakarta menuju Pacitan  kami percayakan pada pilihan Google Maps. Berangkat dari Jakarta jam 05.30. Oleh Google Maps Diarahkan keluar pintu tol seputar Kartasura baru menyusuri jalanan umum menuju Pacitan.   Yang perlu diantisipasi saat melintasi jalur tol yang cukup jauh adalah kecukupan bbm. Sebagaimana diketahui ruas tol yang baru dibuka belum tersedia rest area yang mapan. SPBU yang adalah adalah SPBU darurat dengan hanya satu Noozle saja. Sempat kami antri ±2 jam untuk mendapatkan tambahan bbm, itupun akhirnya hanya bisa beli 10 liter karena pembeliannya ternyata dibatasi. Menjengkelkan namun apaboleh buat. 

Perjalanan terus berlanjut hingga kami akhirnya masuk penginapan persis setelah adzan magrib. Alhamdulillah kamar penginapan cukup luas dan bersih serta memiliki parkiran yang cukup. 

Esok paginya mulailah kami bergerak. Tidak jauh dari penginapan terdapat pantai yang terkenal yakni pantai Teleng Ria, namun demikian kami memutuskan untuk tidak mengunjunginya terlebih dhulu. Kami penasaran dengan pantai Klayar yang menurut sejumlah orang adalah pantai yang bersih dan eksotis. 


Rute dari penginapan menuju Pantai Klayar kembali kami percayakan pada rekomendasi Google Map. Dan sebagai biasanya pasti Google Maps akan merekomendasikan jalur tercepat dengan waktu tempuh satu jam sekian menit (persisnya lupa 😄). Jalur pintas ini ternyata melewati jalur pedusunan membelah hutan dengan jalur berkelok-kelok serta naik-turun yang lumayan menegangkan. Kondisi jalanan lumayan bagus namun jalurnya di beberapa titik naik cukup tajam dan saat berada di puncak tanjakan, jalan turun tidak terlihat dari kemudi… hidung mobil harus pelan-pelan diturunkan barulah terlihat arah jalannya (whew…). Lebih menegangkan lagi bila berpapasan dengan mobil lain saat di tikungan tajam (jalan ke depannya tidak terlihat karena terhalang oleh tebing). Kenapa menegangkan?  Sebelah kanan berbatasan dengan tebing dan sebelah kiri jalan terdapat jurang yang dalam. Bila berpapasan dengan mobil lain… wow-wow… harus ada yang ngalah. 

Saat itu kami sempat satu kali berpapasan dengan 2 mobil sekaligus ditikungan yang amat tajam. Untungnya 2 mobil tersebut mau mengalah. Mereka mundur cukup jauh dan memepetkan mobilnya ke tebing yang ada agar kami bisa lewat dengan ruangan yang aman karena sebelah kiri (beberapa cm) kami terdapat jurang yang dalam. Alhamdulilah mobil Fortuner kami bisa lewat. Akhirnya setelah melalui jalan pintas yang menegangkan, kami melalui jalan utama yang lapang untuk menuju Pantai Klayar. 

Tiket masuk ke Klayar tidak mahal dan setelah masuk dan memarkir kendaraan… dan pemandangan dari kejauhan sudah menggoda. Ada jalanan menurun yang lumayan jauh untuk menuju pantai. Mobil tidak boleh masuk kecuali yang menginap di sejumlah homestay di dekat lokasi pinggiran pantai (rupanya di dekat pinggiran pantai banyak terdapat kamar homestay walaupun kamarnya sepertinya tidak seluas tempat penginapan kami). Banyak ojek yang menawarkan jasanya karena jalan menuju ke arah pantai turun tajam dan lumayan jauh.

Sesampai pinggiran pantai, kami naik motor ATV menuju lokasi yang paling eksotis. Dan WOW… memang sangat eksotis. Pantainya amat bersih, terdapat hamparan pasir putih dan di lokasi tertentu terdapat hamparan pasir hitam yang mempesona. Banyak spot-spot yang sangat menarik untuk berfoto. Terdapat pula apa yang disebut seruling samudra… air mancur yang muncrat tinggi dari lubang bebatuan saat ombak menghantam (sayang kami tidak bisa mendekat karena air pasang). Pantai Klayar memang luar biasa eksotis. 

Setelah puas menikmati spot-spot pemandangan yang eksotis dan sedikit main-main di pinggir pantai, kami-pun keluar dari pantai Klayar dengan kepuasan yang luar biasa. Tak lupa kami membeli udang goreng nan renyah dan gurih dengan harga yang sangat jauh dari harga Jakarta. 

Tak jauh dari lokasi pantai Klayar, kami menuju pantai Banyutibo. Dari jalan utama yang lapang kami harus melalui jalur yang hanya muat untuk satu mobil (sejenis bis tentunya tidak bisa masuk) setelah membayar tiket masuk. Saat melalui jalur tersebut, kamipun kebingungan: bagaimana jika ada mobil yang keluar? Tak lama kemudian kami sampai di lokasi tanah lapang yang tidak rata dan masih orisinil untuk tempat parkir mobil. Ternyata ada petugas dari masyarakat setempat yang mengatur arus keluar masuk mobil. Bila ada mobil masuk, maka petugas yang diatas memberikan informasi ke bawah supaya mobil yang mau keluar ditahan… demikian juga sebaliknya.

Lokasi pantai masih jauh dari tempat parkir mobil, ± 300 - 400 meter melalui jalur manurun yang lumayan. Untungnya terdapat banyak ojek dengan ongkos Rp 5000 untuk menuju pantai. Bentang pantai Banyutibo tidak panjang, hanya sepetak saja. Lokasi didominasi oleh bentangan karang2 yang langsung berbatasan dengan hamparan air laut samudra namun demikian menyajikan spot-spot pemandangan yang unik dan bagus. Untuk menuju sepetak pantai yang bersih kita harus turun menuju air terjun mini yang airnya langsung mengalir ke laut.  

Setelah puas menikmati berbagai spot yang memanjakan mata maka kamipun meninggalkan pantai Banyutibo untuk menuju Gua Gong.

Goa Gong memiliki tempat parkir yang luas. Untuk menuju goa Gong tersedia ojek yang bisa mengantarkan sampai pinggir tangga menuju Goa Gong. Untuk mencapai mulut Goa harus melalui tangga yang cukup lumayan jauh dan agak mendaki.  

Goa Gong memiliki stalaktit dan stalagmit yang mempesona. Tersedia jalur sempit berpagar untuk menelusuri Goa. Goa cukup dalam dan ada jalur menurun dan naik yang cukup tajam dengan kondisi lantai trek-nya basah dan sedikir berlumpur (apakah ini diakibatkan karena musim hujan?). Oleh karenanya menurut kami, bagi anda yang sudah berumur jangan sekali-kali nekat untuk menyusuri trek tersebut. Namun bila ingin menguji kekuatan dengkul kaki, tak ada salahnya dicoba.

Pada jalur keluar Goa terdapat satu stalaktit besar dengan ujung yang pipih dan kalau dipukul dengan tepat akan menghasilkan suara seperti bunyi Gong. Untuk menelusuri Goa, anda wajib bermandi keringat karena didalam Goa sangat sumuk (kondisi udara panas dan lembab). Ada beberapa blower besar yang di pasang di Goa namun udara yang sangat sumuk tetap saja menyelimuti Goa. Pantas saja di mulut Goa banyak aneka kipas yang ditawarkan. Kami sebetulnya ingin berlama-lama menikmati keindahan Goa Gong namun udara yang sangat sumuk mengalahkan tekad kami.

Tak lama kemudian kamipun meninggalkan Goa Gong untuk menuju penginapan. Kami memutuskan tidak kemana-kemana lagi karena kecapean. Esok paginya kami mengunjungi pantai  Teleng Ria. Pantai Teleng Ria memiliki bentangan pantai panjang… namun sayang saat kami kunjungi banyak sampah kayu yang berasal dari lautan. Namun masih aja tersedia hamparan pantai yang cukup bersih dan bisa dipakai untuk main-main. Pemandangannya tidak seeksotis pantai Klayar. Hal yang menarik adalah tersedianya banyak kedai yang menjual makanan gorengan laut yang menggoda (udang goreng dengan berbagai ukuran, cumi goreng, kepiting goreng, dan lain-lainnya). Setelah memborong aneka gorengan kami-pun menuju penginapan untuk beres-beres dan check out menuju kota lainnya.

2 malam di Pacitan rasanya masih kurang karena ada sejumlah pantai eksotis lainnya yang ternyata belum sempat kami kunjungi. Pacitan meninggalkan kenangan pantai eksotis yang luar biasa. Terima kasih Pacitan, Insya Allah kami akan berkunjung kembali untuk menikmati pantai-pantai lain yang kabarnya tidak kalah eksotis dibanding pantai Klayar dan Banyu Tibo.

 



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.