Hijrah Pekerja

<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Bila sesama profesional pekerja saling bertemu maka tidak menutup kemungkinan terjadi diskusi tentang dinamika yang terjadi di perusahaannya masing-masing. Dan bila seriring dengan waktu diantara mereka terjadi kecocokan maka diskusipun akan mengarah pada tantangan-tantangan individu yang dihadapi dalam merespon dinamika yang terjadi di perusahaan masing-masing.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Sungguh saya bingung menghadapi manajemen di perusahaan saya. Menghadapi tantangan yang ada semestinya mereka kan segera melakukan aksi korektif bla-bla-bla-bla-bla… Saya-pun sudah melakukan berbagai pemaparan agar mereka segera sadar diri untuk bertindak bla-bla-bla-bla-bla… Namun respon mereka malah tidak sesuai dengan harapan saya… kebijakan yang mereka lakukan masih berdasarkan pola lama yang tidak sesuai dengan tantangan kekinian…: kata si Badu sambil memegang jidatnya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Aku punya atasan yang cukup menjengkelkan… Yang bersangkutan susah diajak diskusi. Beliau tipikal <i>follow the existing rules</i> alias <i>SOP minded</i>. Boz-ku tidak memahami atau mungkin tidak peduli dengan tantangan yang diakibatkan oleh berbagai perubahan yang ada. Yang penting bagi dirinya adalah menjalankan SOP, bila SOP tidak efektif menangani persoalan yang ada maka didiamkan saja sambil menunggu petunjuk atasannya. Dan bila tidak ada  petunjuk yang turun-turun maka yang bersangkutan tidak peduli dan membiarkan persoalan tetap menjadi persoalan. Bila saya dan teman yang lain berinisiatif mencari prosedur alternatif maka yang bersangkutan akan marah… hingga banyak persoalan yang tidak terselesaikan dan numpuk: timpal si Bondan. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kondisi saya lebih parah lagi… masak aku disuruh memecat orang dengan alasan hanya karena si Boz nggak suka. Saat aku klarifikasi kenapa orang tersebut harus dipecat? Ternyata nggak ada alasan lain selain karena faktor nggak suka. Boz - pun  ngomel sambil berkata bahwa jika kamu tidak bisa memecat dia maka kamu sendiri yang akan aku pecat. Lho… coba! Pusing nggak… memecat kan harus pakai alasan yang kuat dan seandainyapun ternyata tidak ada alasan yang kuat maka sebagai konsekuensinya kasih donk kompensasi yang bagus buat orang yang dipecat tadi. Kalau tidak kan ini jadi beban berat bagi saya untuk mengurusin orang yang tidak disukai tersebut. Ehm… kata Boz nggak ada kompensasi, pecat dia atau saya pecat kamu… whadow: kata si Buni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kondisi yang aku hadapi lebih lucu lagi… bila tim kami berhasil membuat prestasi maka Boz-ku paling terdepan mengatakan bahwa itu semua berkat dirinya. Padahal yang aku tahu… itu adalah murni inisiatif dari sejumlah orang yang ada di tim. Boz mah… tidak melakukan apapun, yach sekedar hadir aja di kantor. Namun bila tim kami sedang mengalami masalah maka Boz-pun tampil terdepan untuk menyalah-nyalah kami. Padahal kalau dikaji lebih mendalam, Boz berkontribusi besar dalam masalah tersebut. Bahkan Boz dengan gagah berani-nya mengatakan bahwa dia sudah memberikan <i>guidance</i> sebelumnya agar tidak terjadi masalah. Padahal kejadian yang sebenarnya adalah… tidak ada <i>guidance</i> sama sekali yang beliau…: timpal si Bono dengan tatapan nanarnya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Konten curcol diatas bila dilanjutkan maka tidak menutup kemungkinan diskusi akan mengarah pada pilihan tindakan yang dilematis: apakah masih akan tetap bekerja di perusahaan dan Boz yang sama ataukah saatnya hijrah. (Kosa kata hijrah sudah menjadi kosa kata yang umum dipakai di dunia pekerja sebagai padanan dari kosa kata pindah).</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Bagi sebagian orang yang menganggap bahwa tantangan yang dihadapi oleh dirinya adalah murni masih bersifat sebagai tantangan dan karenanya masih bisa dikelola… maka kata hijrah mungkin masih jauh dari pikirannya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Namun bagi mereka yang menganggap bahwa tantangan yang ada adalah sebagai sesuatu yang sudah keterlaluan… maka kata hijrah mungkin sudah mulai menggelayut di pikirannya. Kenapa tantangan yang ada dianggap sebagai sesuatu yang keterlaluan? Karena hal yang sama (hal yang tidak sesuai harapan) terus berulang, masif, dan makin parah sehingga bukan lagi dianggap sebagai tantangan. Kondisi tersebut bersifat akut, menjengkelkan, dan banyak menguras energi, pikiran, serta perasaan.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kalau bekerja hanya sekedar cape fisik dan pikiran… itu hal yang amat sangat wajar, namanya bekerja. Namun bila capenya meliputi 3 hal: cape fisik, cape pikiran, dan sekaligus cape perasaan maka hal ini tentunya sangatlah melelahkan. Hijrah adalah pilihan yang sangat bijak. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Hijrah terbaik adalah hijrah yang dilakukan bukan karena terjadinya 3 faktor kecapean tersebut namun lebih karena adanya keunggulan kompetitif yang kita miliki dan karenanya kita dapat penawaran yang lebih baik di tempat lain (dapat promosi ataupun  mendapatkan tambahan gaji). Atau hijrah karena adanya keinginan kuat untuk pindah kuadran, beralih dari kuadran pekerja ke kuadran pengusaha —apapun bidang dan <i>size</i> usaha-nya asalkan dengan kalkulasi yang tepat.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Hal yang konyol adalah bila seseorang telah mengalami 3 kecapean akut yang terjadi secara bersamaan namun yang bersangkutan tidak berani hijrah. Apapun alasan yang ada, ketidakberanian ber-hijrah dalam kondisi tersebut adalah kekonyolan. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Setiap orang dalam perjalanan profesionalnya pasti pernah ber-hijrah. Sudah berapa kali-kah anda melakukan hijrah pekerjaan dan dalam kondisi seperti apakah saat anda ber-hijrah?</font></span></p>

Bila sesama profesional pekerja saling bertemu maka tidak menutup kemungkinan terjadi diskusi tentang dinamika yang terjadi di perusahaannya masing-masing. Dan bila seriring dengan waktu diantara mereka terjadi kecocokan maka diskusipun akan mengarah pada tantangan-tantangan inpidu yang dihadapi dalam merespon dinamika yang terjadi di perusahaan masing-masing.

Sungguh saya bingung menghadapi manajemen di perusahaan saya. Menghadapi tantangan yang ada semestinya mereka kan segera melakukan aksi korektif bla-bla-bla-bla-bla… Saya-pun sudah melakukan berbagai pemaparan agar mereka segera sadar diri untuk bertindak bla-bla-bla-bla-bla… Namun respon mereka malah tidak sesuai dengan harapan saya… kebijakan yang mereka lakukan masih berdasarkan pola lama yang tidak sesuai dengan tantangan kekinian…: kata si Badu sambil memegang jidatnya.

Aku punya atasan yang cukup menjengkelkan… Yang bersangkutan susah diajak diskusi. Beliau tipikal follow the existing rules alias SOP minded. Boz-ku tidak memahami atau mungkin tidak peduli dengan tantangan yang diakibatkan oleh berbagai perubahan yang ada. Yang penting bagi dirinya adalah menjalankan SOP, bila SOP tidak efektif menangani persoalan yang ada maka didiamkan saja sambil menunggu petunjuk atasannya. Dan bila tidak ada  petunjuk yang turun-turun maka yang bersangkutan tidak peduli dan membiarkan persoalan tetap menjadi persoalan. Bila saya dan teman yang lain berinisiatif mencari prosedur alternatif maka yang bersangkutan akan marah… hingga banyak persoalan yang tidak terselesaikan dan numpuk: timpal si Bondan. 

Kondisi saya lebih parah lagi… masak aku disuruh memecat orang dengan alasan hanya karena si Boz nggak suka. Saat aku klarifikasi kenapa orang tersebut harus dipecat? Ternyata nggak ada alasan lain selain karena faktor nggak suka. Boz - pun  ngomel sambil berkata bahwa jika kamu tidak bisa memecat dia maka kamu sendiri yang akan aku pecat. Lho… coba! Pusing nggak… memecat kan harus pakai alasan yang kuat dan seandainyapun ternyata tidak ada alasan yang kuat maka sebagai konsekuensinya kasih donk kompensasi yang bagus buat orang yang dipecat tadi. Kalau tidak kan ini jadi beban berat bagi saya untuk mengurusin orang yang tidak disukai tersebut. Ehm… kata Boz nggak ada kompensasi, pecat dia atau saya pecat kamu… whadow: kata si Buni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kondisi yang aku hadapi lebih lucu lagi… bila tim kami berhasil membuat prestasi maka Boz-ku paling terdepan mengatakan bahwa itu semua berkat dirinya. Padahal yang aku tahu… itu adalah murni inisiatif dari sejumlah orang yang ada di tim. Boz mah… tidak melakukan apapun, yach sekedar hadir aja di kantor. Namun bila tim kami sedang mengalami masalah maka Boz-pun tampil terdepan untuk menyalah-nyalah kami. Padahal kalau dikaji lebih mendalam, Boz berkontribusi besar dalam masalah tersebut. Bahkan Boz dengan gagah berani-nya mengatakan bahwa dia sudah memberikan guidance sebelumnya agar tidak terjadi masalah. Padahal kejadian yang sebenarnya adalah… tidak ada guidance sama sekali yang beliau…: timpal si Bono dengan tatapan nanarnya.


Konten curcol diatas bila dilanjutkan maka tidak menutup kemungkinan diskusi akan mengarah pada pilihan tindakan yang dilematis: apakah masih akan tetap bekerja di perusahaan dan Boz yang sama ataukah saatnya hijrah. (Kosa kata hijrah sudah menjadi kosa kata yang umum dipakai di dunia pekerja sebagai padanan dari kosa kata pindah).

Bagi sebagian orang yang menganggap bahwa tantangan yang dihadapi oleh dirinya adalah murni masih bersifat sebagai tantangan dan karenanya masih bisa dikelola… maka kata hijrah mungkin masih jauh dari pikirannya.

Namun bagi mereka yang menganggap bahwa tantangan yang ada adalah sebagai sesuatu yang sudah keterlaluan… maka kata hijrah mungkin sudah mulai menggelayut di pikirannya. Kenapa tantangan yang ada dianggap sebagai sesuatu yang keterlaluan? Karena hal yang sama (hal yang tidak sesuai harapan) terus berulang, masif, dan makin parah sehingga bukan lagi dianggap sebagai tantangan. Kondisi tersebut bersifat akut, menjengkelkan, dan banyak menguras energi, pikiran, serta perasaan.

Kalau bekerja hanya sekedar cape fisik dan pikiran… itu hal yang amat sangat wajar, namanya bekerja. Namun bila capenya meliputi 3 hal: cape fisik, cape pikiran, dan sekaligus cape perasaan maka hal ini tentunya sangatlah melelahkan. Hijrah adalah pilihan yang sangat bijak. 

Hijrah terbaik adalah hijrah yang dilakukan bukan karena terjadinya 3 faktor kecapean tersebut namun lebih karena adanya keunggulan kompetitif yang kita miliki dan karenanya kita dapat penawaran yang lebih baik di tempat lain (dapat promosi ataupun  mendapatkan tambahan gaji). Atau hijrah karena adanya keinginan kuat untuk pindah kuadran, beralih dari kuadran pekerja ke kuadran pengusaha —apapun bidang dan size usaha-nya asalkan dengan kalkulasi yang tepat.

Hal yang konyol adalah bila seseorang telah mengalami 3 kecapean akut yang terjadi secara bersamaan namun yang bersangkutan tidak berani hijrah. Apapun alasan yang ada, ketidakberanian ber-hijrah dalam kondisi tersebut adalah kekonyolan. 

Setiap orang dalam perjalanan profesionalnya pasti pernah ber-hijrah. Sudah berapa kali-kah anda melakukan hijrah pekerjaan dan dalam kondisi seperti apakah saat anda ber-hijrah?



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.