Disaat di mispersepsikan orang

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Semua orang sangat menginginkan semua sisi kehidupannya berjalan dengan harmonis, tidak ada gejolak, dan penuh dengan ketenangan. Namun mungkinkah hal demikian terjadi? Tentunya jawabannya adalah tidak bukan? Sangatlah muskil bahwa perjalanan kehidupan seseorang tidak dilengkapi dengan berbagai gejolak, walaupun yang bersangkutan sudah cukup berhati-hati dalam mengelola perjalanan hidupnya. Kenapa demikian? Ingat bahwa manusia diciptakan tidak dengan jaminan bahwa dirinya akan terbebas dari ujian. Oleh karenanya sehebat dan serapi apapun seseorang dalam mengelola kehidupannya, mereka bakal terkena sejumlah goncangan yang bakal mengharubirukan dirinya. Goncangan kehidupan tersebut akan menimpa siapapun tanpa peduli status dan strata sosialnya.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sumber goncangan kehidupan satu orang dengan orang lain tentunya tidaklah seragam. Dan goncangan kehidupan tersebut akan menimpa sisi-sisi yang berbeda dari perjalanan kehidupan seseorang. Salah satu sumber goncangan kehidupan adalah bila kita dipersepsikan salah oleh orang-orang seputar. Jenis goncangan kehidupan ini barangkali dianggap hal yang sepele oleh orang lain namun bagi sebagian orang lain goncangan ini sudah cukup mengharubirukan dirinya.  </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Baedui adalah seorang <em>first line manager</em> tim penjualan yang baru saja di promosikan. Dengan semangat tinggi yang bersangkutan berusaha untuk segera larut dalam aktivitas tim-nya. Baedui aktif melakukan <em>joint visit</em> (kunjungan pendampingan) dengan sejumlah anak buahnya. Disamping <em>joint visit</em>, yang bersangkutan juga rajin kunjungan sendiri ke sejumlah konsumen potensial yang ada di wilayah tanggung jawabnya. Intensitas kunjungan yang dilakukan oleh Baedui baik secara individu ataupun bersama anggota timnya tersebut dimaksudkan agar dirinya cepat bisa tahu kondisi/tantangan riil yang dihadapi tim-nya dan sekaligus bisa segera menyusun pendekatan baru yang dimungkinkan untuk perbaikan tim. Apa yang dilakukan Baedui adalah hal yang wajar dan bagus-bagus saja namun apa yang dilakukan Baedui tidak dipersepsikan sebagaimana apa yang seharusnya. Saat Baedui lagi gencar-gencarnya turun ke lapangan, bermunculan komentar yang akhirnya di dengar oleh Baedui yakni bahwa Baedui kenapa sering terjun kelapangan, kok sepertinya tidak percaya sama supervisor dan anak buahnya? Baedui kan sudah <em>first line manager</em>, kenapa perilakunya seperti pemula? </span></span></p>

<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Verdana, Geneva, sans-serif;"><span style="font-size: 14px;">Baedui juga mendengar adanya komentar dari sebagian supervisor beserta anak buahya: kenapa boz rajin turun ya…apakah dirinya tidak menaruh kepercayaan pada kita? Ataukah boz sedang mencari-cari kesalahan kita? Bagaimana kita mau bekerja dengan leluasa jika boz terus turun ke wilayah kerja kita bahkan terus mengikuti kita? Boz ini sepertinya terlalu <i>micro-management</i> nich!</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Baedui sungguh terusik dengan selentingan-selentingan yang bersliweran tentang dirinya. Niat baik dirinya telah disalah mengerti oleh orang-orang seputarnya. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kisah serupa dialami oleh seseorang yang bernama Georgia. Georgia adalah anak ke-empat dari 5 bersaudara. Kemampuan ekonomi Georgia lebih baik dibanding yang lain-lainya. Georgia-pun tidak pelit untuk berbagi dengan saudara-saudaranya yang lain. Secara rutin Georgia berbagai uang, makanan, dan yang lain-lainnya. Bahkan apa yang diberikan Georgia seringkali lebih banyak daripada yang dipakai oleh dirinya dan keluarga kecilnya. Namun seiring waktu selentingan-selentingan kabar tak enak-pun masuk ke telinga Georgia. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Diantara selentingan-selentingan yang muncul adalah: Georgia itu terlalu pelit, dia lebih mementingkan dirinya. Apa yang dibagikan ke kita sebetulnya tidaklah seberapa. Georgia egois, semestinya dia bisa berbagi jauh lebih banyak lagi. Mereka sekeluarga cuma bertiga, anaknya masih kecil, dan suaminya juga pekerja yang mapan. Kepedulian Georgia ke kita tidaklah seberapa. Berbagai selentingan yang diterima Georgia mengarah ke satu hal yakni mengecilkan apapun yang telah diberikan Georgia. Bahkan tidak sekedar mengecilkan namun tidak menghargai kebaikan yang diberikan Georgia.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kisah lain diceritakan oleh Koramudin. Komarudin adalah manajer madya di sebuah perusahaan multinasional. Komarudin mampu menunjukkan kinerja yang cemerlang. Mayoritas anak buah Komarudin menaruh respek terhadap dirinya karena gaya kemepimpinannya yang kebapakan dan penuh dengan upaya pemberdayaan. Komarudin memperlakukan kolega yang berada dalam satu tim dengan baik. Komarudin juga sangat terbuka dengan segala masukan baik dari anak buahnya yang direct report ke dirinya ataupun yang dibawahnya. Dan Komarudin-pun juga terbuka terhadap berbagai ide dari kolega-koleganya. Komarudin berusaha untuk menjaga harmonisasi timnya. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Namun demikian, secara tiba-tiba Komarudin menerima kabar yang tidak sedap  tentang dirinya: Komarudin itu egois, dia ingin mempengaruhi siapapun. Kadang terlalu keras dalam menuntut anak buahnya. Dalam diskusi orangnya tidak terlalu mudah menerima argumentasi orang lain, pertanyaannya bersifat mengejar…menandakan bahwa dirinya tidak puas dengan berbagai jawaban yang ada. Dia hanya peduli pada tim-nya saja dan tidak memperdulikan tim yang lainnya. Kinerja yang dicapai tim-nya hanyalah disebabkan karena dirinya yang terlalu menekan. </span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Selentingan-selentingan negatif ini tidak hanya terdengan di telinga Komarudin… slentingan menyebar hingga ke manajemen. Manajemen-pun terpapar oleh berbagai selentingan negatif tentang Komarudin. Cilakanya, informasi ini menyebar dengan cepatnya bagai virus yang ganas yang membuat Komarudin tak berdaya dan tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk melakukan klarifikasi.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Baedui, Georgia, dan Komarudin telah di mispersepsikan oleh sejumlah orang yang berada di linkungannya. Mereka tentunya sangat kaget dengan selentingan-selentingan negatif tentang dirinya. Mereka mengira bahwa selentingan negatif ini tidak bakalan muncul karena mereka merasa sedang melakukan sesuatu hal yang baik.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Baedui, Georgia, dan Komarudin tentunya tidak sendirian. Banyak diantara kita pernah mengalami hal seperti ini bahkan tidak menutupkan kemungkinan bahwa salah satu diantara kita saat ini sedang menerima berbagai selentingan kabar negatif tentang diri kita.</span></span></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bagaimanakah respon kita menghadapi situasi sebagaimana Baedui, Georgia, dan Komarudin? Mencari penyebar selentingan negatif dan memarahi-nya? Memberhentikan saja kebaikan yang telah dilakukan? Melakukan klarifikasi ke banyak orang yang telah terpapar selentingan negatif tersebut? Cuekin aja selentingan negatif tersebut? Ataukah jenis respon yang lainnya?</span></span></p>

Semua orang sangat menginginkan semua sisi kehidupannya berjalan dengan harmonis, tidak ada gejolak, dan penuh dengan ketenangan. Namun mungkinkah hal demikian terjadi? Tentunya jawabannya adalah tidak bukan? Sangatlah muskil bahwa perjalanan kehidupan seseorang tidak dilengkapi dengan berbagai gejolak, walaupun yang bersangkutan sudah cukup berhati-hati dalam mengelola perjalanan hidupnya. Kenapa demikian? Ingat bahwa manusia diciptakan tidak dengan jaminan bahwa dirinya akan terbebas dari ujian. Oleh karenanya sehebat dan serapi apapun seseorang dalam mengelola kehidupannya, mereka bakal terkena sejumlah goncangan yang bakal mengharubirukan dirinya. Goncangan kehidupan tersebut akan menimpa siapapun tanpa peduli status dan strata sosialnya.

Sumber goncangan kehidupan satu orang dengan orang lain tentunya tidaklah seragam. Dan goncangan kehidupan tersebut akan menimpa sisi-sisi yang berbeda dari perjalanan kehidupan seseorang. Salah satu sumber goncangan kehidupan adalah bila kita dipersepsikan salah oleh orang-orang seputar. Jenis goncangan kehidupan ini barangkali dianggap hal yang sepele oleh orang lain namun bagi sebagian orang lain goncangan ini sudah cukup mengharubirukan dirinya.  

Baedui adalah seorang first line manager tim penjualan yang baru saja di promosikan. Dengan semangat tinggi yang bersangkutan berusaha untuk segera larut dalam aktivitas tim-nya. Baedui aktif melakukan joint visit (kunjungan pendampingan) dengan sejumlah anak buahnya. Disamping joint visit, yang bersangkutan juga rajin kunjungan sendiri ke sejumlah konsumen potensial yang ada di wilayah tanggung jawabnya. Intensitas kunjungan yang dilakukan oleh Baedui baik secara inpidu ataupun bersama anggota timnya tersebut dimaksudkan agar dirinya cepat bisa tahu kondisi/tantangan riil yang dihadapi tim-nya dan sekaligus bisa segera menyusun pendekatan baru yang dimungkinkan untuk perbaikan tim. Apa yang dilakukan Baedui adalah hal yang wajar dan bagus-bagus saja namun apa yang dilakukan Baedui tidak dipersepsikan sebagaimana apa yang seharusnya. Saat Baedui lagi gencar-gencarnya turun ke lapangan, bermunculan komentar yang akhirnya di dengar oleh Baedui yakni bahwa Baedui kenapa sering terjun kelapangan, kok sepertinya tidak percaya sama supervisor dan anak buahnya? Baedui kan sudah first line manager, kenapa perilakunya seperti pemula? 

Baedui juga mendengar adanya komentar dari sebagian supervisor beserta anak buahya: kenapa boz rajin turun ya…apakah dirinya tidak menaruh kepercayaan pada kita? Ataukah boz sedang mencari-cari kesalahan kita? Bagaimana kita mau bekerja dengan leluasa jika boz terus turun ke wilayah kerja kita bahkan terus mengikuti kita? Boz ini sepertinya terlalu micro-management nich!

Baedui sungguh terusik dengan selentingan-selentingan yang bersliweran tentang dirinya. Niat baik dirinya telah disalah mengerti oleh orang-orang seputarnya. 


Kisah serupa dialami oleh seseorang yang bernama Georgia. Georgia adalah anak ke-empat dari 5 bersaudara. Kemampuan ekonomi Georgia lebih baik dibanding yang lain-lainya. Georgia-pun tidak pelit untuk berbagi dengan saudara-saudaranya yang lain. Secara rutin Georgia berbagai uang, makanan, dan yang lain-lainnya. Bahkan apa yang diberikan Georgia seringkali lebih banyak daripada yang dipakai oleh dirinya dan keluarga kecilnya. Namun seiring waktu selentingan-selentingan kabar tak enak-pun masuk ke telinga Georgia. 

Diantara selentingan-selentingan yang muncul adalah: Georgia itu terlalu pelit, dia lebih mementingkan dirinya. Apa yang dibagikan ke kita sebetulnya tidaklah seberapa. Georgia egois, semestinya dia bisa berbagi jauh lebih banyak lagi. Mereka sekeluarga cuma bertiga, anaknya masih kecil, dan suaminya juga pekerja yang mapan. Kepedulian Georgia ke kita tidaklah seberapa. Berbagai selentingan yang diterima Georgia mengarah ke satu hal yakni mengecilkan apapun yang telah diberikan Georgia. Bahkan tidak sekedar mengecilkan namun tidak menghargai kebaikan yang diberikan Georgia.

Kisah lain diceritakan oleh Koramudin. Komarudin adalah manajer madya di sebuah perusahaan multinasional. Komarudin mampu menunjukkan kinerja yang cemerlang. Mayoritas anak buah Komarudin menaruh respek terhadap dirinya karena gaya kemepimpinannya yang kebapakan dan penuh dengan upaya pemberdayaan. Komarudin memperlakukan kolega yang berada dalam satu tim dengan baik. Komarudin juga sangat terbuka dengan segala masukan baik dari anak buahnya yang direct report ke dirinya ataupun yang dibawahnya. Dan Komarudin-pun juga terbuka terhadap berbagai ide dari kolega-koleganya. Komarudin berusaha untuk menjaga harmonisasi timnya. 

Namun demikian, secara tiba-tiba Komarudin menerima kabar yang tidak sedap  tentang dirinya: Komarudin itu egois, dia ingin mempengaruhi siapapun. Kadang terlalu keras dalam menuntut anak buahnya. Dalam diskusi orangnya tidak terlalu mudah menerima argumentasi orang lain, pertanyaannya bersifat mengejar…menandakan bahwa dirinya tidak puas dengan berbagai jawaban yang ada. Dia hanya peduli pada tim-nya saja dan tidak memperdulikan tim yang lainnya. Kinerja yang dicapai tim-nya hanyalah disebabkan karena dirinya yang terlalu menekan. 

Selentingan-selentingan negatif ini tidak hanya terdengan di telinga Komarudin… slentingan menyebar hingga ke manajemen. Manajemen-pun terpapar oleh berbagai selentingan negatif tentang Komarudin. Cilakanya, informasi ini menyebar dengan cepatnya bagai virus yang ganas yang membuat Komarudin tak berdaya dan tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk melakukan klarifikasi.

Baedui, Georgia, dan Komarudin telah di mispersepsikan oleh sejumlah orang yang berada di linkungannya. Mereka tentunya sangat kaget dengan selentingan-selentingan negatif tentang dirinya. Mereka mengira bahwa selentingan negatif ini tidak bakalan muncul karena mereka merasa sedang melakukan sesuatu hal yang baik.

Baedui, Georgia, dan Komarudin tentunya tidak sendirian. Banyak diantara kita pernah mengalami hal seperti ini bahkan tidak menutupkan kemungkinan bahwa salah satu diantara kita saat ini sedang menerima berbagai selentingan kabar negatif tentang diri kita.

Bagaimanakah respon kita menghadapi situasi sebagaimana Baedui, Georgia, dan Komarudin? Mencari penyebar selentingan negatif dan memarahi-nya? Memberhentikan saja kebaikan yang telah dilakukan? Melakukan klarifikasi ke banyak orang yang telah terpapar selentingan negatif tersebut? Cuekin aja selentingan negatif tersebut? Ataukah jenis respon yang lainnya?



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.