Kegusaran pemimpin yang salah alamat

<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Ada seorang manajer regional yang mengatakan: <i>saya sebetulnya menginginkan teman-teman berfokus mengejar peningkatan penjualan produk A dan B namun kok malah mereka (anak buah) berkonsentrasi ke produk-produk yang sebetulnya mudah dijual?</i>. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Ada pula seorang VP yang menyatakan: s<i>aya ingin teman-teman betul-betul memperhatikan situasi yang ada yakni bla-bla-bla-bla… saya heran kenapa rekan-rekan wilayah tidak memperhatikan hal tersebut. Padahal saya sudah berulang kali menyampaikan hal ini di sejumlah forum. Hingga kini belum ada tuch yang memberikan info ke saya tentang kajian tersebut dan sekaligus menjadi prioritas aktivitas kewilayahannya.</i></font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dan masih banyak lagi yang menyuarakan sebagaimana hal tersebut diatas dengan bahasa yang berbeda namun dengan konten yang kurang lebih sama. Para atasan tersebut sedang menyuarakan kegusarannya tentang apa yang sedang terjadi pada timnya. Kegusaran tersebut jelas-jelas ditujukan pada anggota timnya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kegusaran yang ada tentunya tidak sepenuhnya salah. Namun demikian sebetulnya ada sesuatu yang mengganjal atas kegusaran tersebut. Kenapa mengganjal? Mari kembali pada tugas dan fungsi kepemimpinan… bukankah esensi dari fungsi kepemimpinan adalah mewujudkan apa yang diinginkannya terjadi? Bahasa kerennya…tugas pemimpin adalah <i>make it happen, no more than that</i> (TITIK). Jack Welch sebagai pemimpin legendaris GE pernah mengatakan bahwa adalah tugas pemimpin untuk menginternalisasikan sasaran yang diinginkannya ke tim. Dengan demikian bila ada seorang pemimpin yang menyuarakan kegusaran karena sesuatu hal yang diinginkannya tidak terwujud dan kegusaran tersebut dialamatkan ke anggota tim MAKA sebetulnya kegusaran tersebut bisa dikatakan salah alamat. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Kegusaran yang ada semestinya dialamatkan kepada dirinya sendiri bukan? Kenapa yang diinginkannya belum terwujud? Apakah ide yang berasal dari dirinya memang belum ditangkap dengan baik oleh anggota tim? Apakah anggota tim kurang jelas dengan apa yang diinginkannya? Apakah anggota tim memiliki kesulitan dalam mencerna apa yang diinginkannya? Apakah dirinya tidak optimal dalam proses internalisasi atas apa yang diinginkannya? Apakah dirinya menutup mata atas segala penghambat yang ada di depannya? Dan berbagai apakah yang lainnya…</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Pemimpin memiliki banyak resources yang melekat pada kewenangannya. <i>They can do anything to make something happen</i>. Yang diperlukan hanyalah keinginan kuat untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Yang diperlukan hanyalah memperjelas apa yang diinginkannya. Yang diperlukan hanyalah terus intensif melakukan internalisasi ke tim agar apa yang diinginkannya secara pribadi menjadi keinginan tim dan bukan hanya sebagai keinginan pribadi belaka. Yang diperlukan hanyalah terus mencari cara/program/aksi bersama anggota tim agar apa yang diinginkannya akhirnya bisa terwujud. Yang diperlukan hanyalah menyingkirkan hal-hal yang merintangi terwujudnya apa yang diinginkannya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Dengan demikian sebetulnya layak-kah jika seorang pemimpin menyampaikan kegusaran tentang kenapa hal yang diinginkannya belum terwujud dan meng-alamatkan kegusarannya ke anak buah? Apalagi jika kegusarannya diucapkan secara berulang-ulang. Gusar satu kali tidaklah masalah namun jika kegusaran di ekspresikan berulang kali maka hal ini menyiratkan bahwa pemimpin tidak cukup melakukan sesuatu tindakan atas apa yang digusarkan tersebut. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Pemimpin tanpa tindakan nyata tentunya masuk kategori pemimpin yang tumpul. Pemimpin yang NATO (<i>no action n talk only</i>). Pemimpin NATO adalah pemimpin yang lebih mengedepankan wacana belaka. Berwacana ini baik namun jangan berhenti pada wacana saja karena tugas yang melekat pada pemimpin adalah <i>make it happen</i>. Dengan segala wewenang dan <i>resources</i> yang ada pada dirinya, seharusnya pemimpin bisa melakukan gerakan/gebrakan apapun untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Salah satu ciri baik tidaknya seorang pemimpin adalah terletak pada daya eksekusi yang dimilikinya. </font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="font-kerning: none"><font face="Verdana">Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Jack Welch, pemimpin yang bagus memiliki 4 ciri utama yakni memiliki energi diri yang besar. Namun demikian memiliki energi diri yang besar aja tidak cukup untuk menjalankan fungsi kepemimpinan, harus disertai kepemilikan atas kemampuan yang lain yakni kemampuan membangkitkan energi orang lain. Selanjutnya memiliki energi diri yang besar dan mampu membangkitkan orang lain saja juga tidak cukup karena pemimpin harus punya keberanian mengambil resiko. Pemimpin yang tidak berani ambil resiko adalah pemimpin yang akan mengajak timnya berjalan di tempat. Dan yang terakhir, pemimpin harus mampu melakukan eksekusi, bahkan Jack Welch menyebutnya sebagai <i>superb execution</i>. Pemimpin yang tidak melakukan eksekusi hanyalah pemimpin yang berwacana, berkoar-koar, NATO, dan berbagai istilah lainnya.</font></span></p>
<p style="margin: 0px 0px 10px; text-align: justify; font-stretch: normal; line-height: normal; -webkit-text-stroke-width: initial; -webkit-text-stroke-color: rgb(0, 0, 0);"><span style="-webkit-font-kerning: none;"><font face="Verdana">Dengan demikian saat kita menjalankan fungsi kepemimpinan, masihkan kita senang menjebakkan diri dengan ekspresi-ekspresi kegusaran yang salah alamat tersebut?</font></span></p>

Ada seorang manajer regional yang mengatakan: saya sebetulnya menginginkan teman-teman berfokus mengejar peningkatan penjualan produk A dan B namun kok malah mereka (anak buah) berkonsentrasi ke produk-produk yang sebetulnya mudah dijual?

Ada pula seorang VP yang menyatakan: saya ingin teman-teman betul-betul memperhatikan situasi yang ada yakni bla-bla-bla-bla… saya heran kenapa rekan-rekan wilayah tidak memperhatikan hal tersebut. Padahal saya sudah berulang kali menyampaikan hal ini di sejumlah forum. Hingga kini belum ada tuch yang memberikan info ke saya tentang kajian tersebut dan sekaligus menjadi prioritas aktivitas kewilayahannya.

Dan masih banyak lagi yang menyuarakan sebagaimana hal tersebut diatas dengan bahasa yang berbeda namun dengan konten yang kurang lebih sama. Para atasan tersebut sedang menyuarakan kegusarannya tentang apa yang sedang terjadi pada timnya. Kegusaran tersebut jelas-jelas ditujukan pada anggota timnya.

Kegusaran yang ada tentunya tidak sepenuhnya salah. Namun demikian sebetulnya ada sesuatu yang mengganjal atas kegusaran tersebut. Kenapa mengganjal? Mari kembali pada tugas dan fungsi kepemimpinan… bukankah esensi dari fungsi kepemimpinan adalah mewujudkan apa yang diinginkannya terjadi? Bahasa kerennya…tugas pemimpin adalah make it happen, no more than that (TITIK). Jack Welch sebagai pemimpin legendaris GE pernah mengatakan bahwa adalah tugas pemimpin untuk menginternalisasikan sasaran yang diinginkannya ke tim. Dengan demikian bila ada seorang pemimpin yang menyuarakan kegusaran karena sesuatu hal yang diinginkannya tidak terwujud dan kegusaran tersebut dialamatkan ke anggota tim MAKA sebetulnya kegusaran tersebut bisa dikatakan salah alamat. 

Kegusaran yang ada semestinya dialamatkan kepada dirinya sendiri bukan? Kenapa yang diinginkannya belum terwujud? Apakah ide yang berasal dari dirinya memang belum ditangkap dengan baik oleh anggota tim? Apakah anggota tim kurang jelas dengan apa yang diinginkannya? Apakah anggota tim memiliki kesulitan dalam mencerna apa yang diinginkannya? Apakah dirinya tidak optimal dalam proses internalisasi atas apa yang diinginkannya? Apakah dirinya menutup mata atas segala penghambat yang ada di depannya? Dan berbagai apakah yang lainnya…


Pemimpin memiliki banyak resources yang melekat pada kewenangannya. They can do anything to make something happen. Yang diperlukan hanyalah keinginan kuat untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Yang diperlukan hanyalah memperjelas apa yang diinginkannya. Yang diperlukan hanyalah terus intensif melakukan internalisasi ke tim agar apa yang diinginkannya secara pribadi menjadi keinginan tim dan bukan hanya sebagai keinginan pribadi belaka. Yang diperlukan hanyalah terus mencari cara/program/aksi bersama anggota tim agar apa yang diinginkannya akhirnya bisa terwujud. Yang diperlukan hanyalah menyingkirkan hal-hal yang merintangi terwujudnya apa yang diinginkannya.

Dengan demikian sebetulnya layak-kah jika seorang pemimpin menyampaikan kegusaran tentang kenapa hal yang diinginkannya belum terwujud dan meng-alamatkan kegusarannya ke anak buah? Apalagi jika kegusarannya diucapkan secara berulang-ulang. Gusar satu kali tidaklah masalah namun jika kegusaran di ekspresikan berulang kali maka hal ini menyiratkan bahwa pemimpin tidak cukup melakukan sesuatu tindakan atas apa yang digusarkan tersebut. 

Pemimpin tanpa tindakan nyata tentunya masuk kategori pemimpin yang tumpul. Pemimpin yang NATO (no action n talk only). Pemimpin NATO adalah pemimpin yang lebih mengedepankan wacana belaka. Berwacana ini baik namun jangan berhenti pada wacana saja karena tugas yang melekat pada pemimpin adalah make it happen. Dengan segala wewenang dan resources yang ada pada dirinya, seharusnya pemimpin bisa melakukan gerakan/gebrakan apapun untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Salah satu ciri baik tidaknya seorang pemimpin adalah terletak pada daya eksekusi yang dimilikinya. 

Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Jack Welch, pemimpin yang bagus memiliki 4 ciri utama yakni memiliki energi diri yang besar. Namun demikian memiliki energi diri yang besar aja tidak cukup untuk menjalankan fungsi kepemimpinan, harus disertai kepemilikan atas kemampuan yang lain yakni kemampuan membangkitkan energi orang lain. Selanjutnya memiliki energi diri yang besar dan mampu membangkitkan orang lain saja juga tidak cukup karena pemimpin harus punya keberanian mengambil resiko. Pemimpin yang tidak berani ambil resiko adalah pemimpin yang akan mengajak timnya berjalan di tempat. Dan yang terakhir, pemimpin harus mampu melakukan eksekusi, bahkan Jack Welch menyebutnya sebagai superb execution. Pemimpin yang tidak melakukan eksekusi hanyalah pemimpin yang berwacana, berkoar-koar, NATO, dan berbagai istilah lainnya.

Dengan demikian saat kita menjalankan fungsi kepemimpinan, masihkan kita senang menjebakkan diri dengan ekspresi-ekspresi kegusaran yang salah alamat tersebut?



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.