Terlalu mengedepankan kepentinganku

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Muswarso adalah seorang pensiunan dari perusahaan swasta. Muswarso tidak lagi disibuki oleh rutinitas orang kantoran. Sehari-harinya Murwarso berada di rumah. Rutinitasnya telah berganti. Bila sebelumnya sehabis sholat subuh, Muswarso harus buru-buru mempersiapkan diri untuk berangkat kerja… salah kalkulasi waktu sedikit saja akan membuat dirinya harus menempuh jalan macet yang berkepanjangan. Namun saat ini dirinya tak lagi merisaukan hal tersebut. Bila sebelumnya waktu berjalan sangat cepat maka saat ini waktu seperti berjalan amat lambat. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Muswarso  berjalan pelan melewati halaman belakang rumah menuju kamar anaknya. Namun sebelum masuk ke kamar anaknya, Muswarso mampir ke kolam ikan koi yang berada tidak jauh dari kamar anaknya. Diraihnya pelet yang ada di dekat kolam dan pelan-pelan ditaburkan ke kolam. Ikan-ikan koi pun bergegas menghampiri pelet-pelet tersebut. Untuk sejenak Muswarso  menikmati gerakan gemulai ikan koi dan bisa melupakan waktu yang seakan berjalan lambat. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sesaat kemudian, Muswarso menoleh ke kamar anaknya. Lampu teras kamar masih tetap nyala sebagai tanda bahwa anaknya masih tertidur. Muswarso mengarahkan pandangannya kembali ke kolam sambil  menghela nafas. Helaan nafasnya sangat dalam dan panjang. Kepala Muswarsopun menunduk memandangin kolam. Padangannya adalah pandangan kosong.  Pikirannya lagi dipenuhin dengan segala kecemasan terkait kondisi anak bungsunya yang ada di kamar tersebut.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Anak bungsunya sudah menyelesaikan kuliahnya hampir dua setengah tahun lalu. Namun hingga kini belum ada satupun lamaran kerja yang dilayangkan oleh anak tersebut. Segala cara sudah Muswarso lakukan —mulai cara kasar hingga cara halus, untuk mendorong anaknya mencari kerja namun upaya nya selalu sia-sia belaka.  </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Andri —nama anak bungsu Muswarso, bangun selalu di siang hari. Tak jarang diantaranya baru bangun jam 11.00. Aktivitas yang dilakukan saat bangun hanyalah makan, minum, ke toilet, dan memainkan laptop dan hp-nya. Sekali-kali Andri keluar entah kemana, waktu pergi dan pulangnyapun tidak jelas. Beberapa Muswarso bertanya saat Adri pulang: <em>dari mana saja kamu?</em> Andripun dengan enteng menjawab: menjalin <em>networking</em>. Andri menjawab tanpa menoleh ke dirinya dan langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tak jarang jika Muswarso memiliki kesempatan bisa bertemu dengan Andri dalam waktu yang sedikit agak lama maka Muswarso banyak ngomel-ngomel sekaligus memberikan banyak nasehat. Omelan dan nasehat Muswarso direspon biasa-biasa saja oleh Andri, bahkan tak jarang Andri diam saja menerima apapun yang disampaikan Muswarso.  </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">2,5 tahun Muswarso menanggung rasa cemas, galau, sedih, marah, kecewa, dan segala rasa was-was terkait anak bungsunya tersebut. Situasi yang dialami anak bungsunya sangat sulit masuk dalam akal sehatnya, apalagi anak pertama Murwarso tidak menunggu waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Demikian juga anak keduanya, segera mendapatkan pekerjaan setelah selesai masa kuliahnya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px"><em>Duch bingung aku. Anak kok tidak mau menyongsong masa depannya sendiri: keluhnya dalam hati</em>.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Saat hati Murwarso mulai bisa menata kebingungannya, mulailah dirinya ingin melakukan pendekatan yang berbeda ke anaknya. Bila sebelumnya Muswarso selalu melakukan pendekatan dengan mengfungsikan dirinya sebagai penganjur, penasehat, plus pengomel… da  tentunya disertai dengan hentakan emosi yang meledak meletup nggak karu-karuan. Cilakanya anaknya tidak merespon pendekatan tersebut. Satu-satunya respon anaknya hanyalah ngeloyor pergi meninggalkan dirinya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Muswarso kembali menoleh kamar anaknya: <em>Duch anak bungsu-ku. Aku sangat ingin memahamimu. Aku janji takkan melihatmu dari cara pandangku. Maafkan aku… Aku telah menghujanimu dengan berbagai keinginanku. Aku telah menghujanimu dengan berbagai penilaian yang sesuai dengan seleraku saja. Hujatan demi hujatan telah aku lontarkan namun kamu tidak meresponku. Uch..anakku. Maafkan aku. Aku berbuat demikian karena rasa cemasku yang teramat sangat terhadapmu</em>.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sudah hampir sebulan ini Muswarso menyempatkan diri mampir ke kamar anaknya disaat anaknya baru bangun. Sudah sebulan ini Muswarso mendekat ke anak bungsunya dengan cara yang berbeda.  Namun sayang tidak ada kemajuan yang berarti. Konten pembicaraan hanya berkutat pada basa basi yang tak berarti. Belum ada satupun peluang untuk membahas apa yang menjadi kecemasan Muswarso. Muswarso sebetulnya amat kecewa dengan kondisi tersebut namun dia sadar bahwa dia harus jadi pemerhati serta pendengar yang baik dan bukan sebagai agresor yang membabi buta. Walaupun kecewa namun Muswarso mulai nyaman bersama anak bungsunya tersebut. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bulan demi bulan berlalu. Sedikit demi sedikit Andri mulai membuka diri ke Muswarso  hingga Muswarso akhirnya mulai bisa memahami anak bungsunya tersebut. Ternyata Andri memang tidak mau menjadi anak kantoran. Sedari awal dirinya memang bertekad untuk tidak bekerja pada orang lain. Andri hanya mau menjadi bos untuk dirinya sendiri. Dan karena keinginan tersebut maka tak satupun CV yang dia kirimkan ke sejumlah perusahaan ataupun institusi. Setelah menamatkan bangku kuliahnya Andri lebih asyik mengikuti sejumlah kursus singkat untuk mendalami minat yang ada pada dirinya. Sayangnya minat yang dimiliki Andri sangat jauh dari disiplin ilmu kuliahnya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Andri sebetulnya tidak menyukai disiplin ilmu kuliahnya. Andri hanya mengikuti pilihan orang tuanya —khususnya pilihan Bapaknya. Andri tak kuasa menolak keinginan Bapaknya dan berusaha menyelesaikan kuliahnya agar tidak mengecewakan Bapaknya. Nilai IPK nya pun cukup nge-pas saja agar bisa terus mengambil SKS dan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Yang berkecamuk di pikiran Andri hanyalah: <em>Walaupun sebetulnya aku sangat kecewa namun biarlah aku terjebak dalam piilihan Bapak-ku. Akan aku selesaikan kuliahku tepat waktu… dan setelah itu akulah yang akan menentukan langkahku ke depan</em>.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tanpa sepengetahuan Bapaknya, setelah lulus kuliah Andri rajin mengikuti kursus-kursus yang sesuai minatnya. Biaya-biaya kursus diminta dari Ibunya dan Andripun meminta secara khusus ke ibunya agar tidak menceritakan hal tersebut ke Bapaknya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Setelah hampir 3 tahun mengembangkan <em>networking</em> sekaligus kemampuan yang didapatkan dari berbagai kursus yang diikuti, mulailah dirinya menghasilkan uang. Bisnis kreatifnya mulai berkembang dan mendapatkan pelanggan. Produk-produk animasinya sering dipakai para manajer pemasaran perusahaan-perusahaan besar sebagai media komunikasi ke target pasar yang diinginkan. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Muswarso cukup terpana dengan apa yang telah dilakukan anaknya. Dirinya cukup terharu dan bangga dengan pilihan anaknya. Dan disaat bersamaan dirinya merasa sangat bersalah karena telah salah sangka dan salah tindakan terhadap anak bungsunya tersebut. Teringatlah betapa semangatnya dulu dia mempengaruhi Andri untuk mengambil fakultas yang sangat diinginkannya namun ternyata itu bukanlah keinginan anaknya. Teringatlah akan desakan-desakan dirinya agar Andri segera mengirim lamaran dan segera bekerja kantoran. Teringatlah akan segala omelan dan cemoohan dirinya saat Andri tidak merespon desakannya dan tetap nganggur dalam kurun waktu 2,5 tahunan. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px"><em>Ah betapa aku selama ini telah mengedepankan kepentinganku daripada kepentingannya</em> : lenguhan lirih penyesalan Murwarso .</span></span></p>

Muswarso adalah seorang pensiunan dari perusahaan swasta. Muswarso tidak lagi disibuki oleh rutinitas orang kantoran. Sehari-harinya Murwarso berada di rumah. Rutinitasnya telah berganti. Bila sebelumnya sehabis sholat subuh, Muswarso harus buru-buru mempersiapkan diri untuk berangkat kerja… salah kalkulasi waktu sedikit saja akan membuat dirinya harus menempuh jalan macet yang berkepanjangan. Namun saat ini dirinya tak lagi merisaukan hal tersebut. Bila sebelumnya waktu berjalan sangat cepat maka saat ini waktu seperti berjalan amat lambat. 

Muswarso  berjalan pelan melewati halaman belakang rumah menuju kamar anaknya. Namun sebelum masuk ke kamar anaknya, Muswarso mampir ke kolam ikan koi yang berada tidak jauh dari kamar anaknya. Diraihnya pelet yang ada di dekat kolam dan pelan-pelan ditaburkan ke kolam. Ikan-ikan koi pun bergegas menghampiri pelet-pelet tersebut. Untuk sejenak Muswarso  menikmati gerakan gemulai ikan koi dan bisa melupakan waktu yang seakan berjalan lambat. 

Sesaat kemudian, Muswarso menoleh ke kamar anaknya. Lampu teras kamar masih tetap nyala sebagai tanda bahwa anaknya masih tertidur. Muswarso mengarahkan pandangannya kembali ke kolam sambil  menghela nafas. Helaan nafasnya sangat dalam dan panjang. Kepala Muswarsopun menunduk memandangin kolam. Padangannya adalah pandangan kosong.  Pikirannya lagi dipenuhin dengan segala kecemasan terkait kondisi anak bungsunya yang ada di kamar tersebut.

Anak bungsunya sudah menyelesaikan kuliahnya hampir dua setengah tahun lalu. Namun hingga kini belum ada satupun lamaran kerja yang dilayangkan oleh anak tersebut. Segala cara sudah Muswarso lakukan —mulai cara kasar hingga cara halus, untuk mendorong anaknya mencari kerja namun upaya nya selalu sia-sia belaka.  

Andri —nama anak bungsu Muswarso, bangun selalu di siang hari. Tak jarang diantaranya baru bangun jam 11.00. Aktivitas yang dilakukan saat bangun hanyalah makan, minum, ke toilet, dan memainkan laptop dan hp-nya. Sekali-kali Andri keluar entah kemana, waktu pergi dan pulangnyapun tidak jelas. Beberapa Muswarso bertanya saat Adri pulang: dari mana saja kamu? Andripun dengan enteng menjawab: menjalin networking. Andri menjawab tanpa menoleh ke dirinya dan langsung ngeloyor pergi ke kamarnya. 


Tak jarang jika Muswarso memiliki kesempatan bisa bertemu dengan Andri dalam waktu yang sedikit agak lama maka Muswarso banyak ngomel-ngomel sekaligus memberikan banyak nasehat. Omelan dan nasehat Muswarso direspon biasa-biasa saja oleh Andri, bahkan tak jarang Andri diam saja menerima apapun yang disampaikan Muswarso.  

2,5 tahun Muswarso menanggung rasa cemas, galau, sedih, marah, kecewa, dan segala rasa was-was terkait anak bungsunya tersebut. Situasi yang dialami anak bungsunya sangat sulit masuk dalam akal sehatnya, apalagi anak pertama Murwarso tidak menunggu waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Demikian juga anak keduanya, segera mendapatkan pekerjaan setelah selesai masa kuliahnya.

Duch bingung aku. Anak kok tidak mau menyongsong masa depannya sendiri: keluhnya dalam hati.

Saat hati Murwarso mulai bisa menata kebingungannya, mulailah dirinya ingin melakukan pendekatan yang berbeda ke anaknya. Bila sebelumnya Muswarso selalu melakukan pendekatan dengan mengfungsikan dirinya sebagai penganjur, penasehat, plus pengomel… da  tentunya disertai dengan hentakan emosi yang meledak meletup nggak karu-karuan. Cilakanya anaknya tidak merespon pendekatan tersebut. Satu-satunya respon anaknya hanyalah ngeloyor pergi meninggalkan dirinya. 

Muswarso kembali menoleh kamar anaknya: Duch anak bungsu-ku. Aku sangat ingin memahamimu. Aku janji takkan melihatmu dari cara pandangku. Maafkan aku… Aku telah menghujanimu dengan berbagai keinginanku. Aku telah menghujanimu dengan berbagai penilaian yang sesuai dengan seleraku saja. Hujatan demi hujatan telah aku lontarkan namun kamu tidak meresponku. Uch..anakku. Maafkan aku. Aku berbuat demikian karena rasa cemasku yang teramat sangat terhadapmu.

Sudah hampir sebulan ini Muswarso menyempatkan diri mampir ke kamar anaknya disaat anaknya baru bangun. Sudah sebulan ini Muswarso mendekat ke anak bungsunya dengan cara yang berbeda.  Namun sayang tidak ada kemajuan yang berarti. Konten pembicaraan hanya berkutat pada basa basi yang tak berarti. Belum ada satupun peluang untuk membahas apa yang menjadi kecemasan Muswarso. Muswarso sebetulnya amat kecewa dengan kondisi tersebut namun dia sadar bahwa dia harus jadi pemerhati serta pendengar yang baik dan bukan sebagai agresor yang membabi buta. Walaupun kecewa namun Muswarso mulai nyaman bersama anak bungsunya tersebut. 

Bulan demi bulan berlalu. Sedikit demi sedikit Andri mulai membuka diri ke Muswarso  hingga Muswarso akhirnya mulai bisa memahami anak bungsunya tersebut. Ternyata Andri memang tidak mau menjadi anak kantoran. Sedari awal dirinya memang bertekad untuk tidak bekerja pada orang lain. Andri hanya mau menjadi bos untuk dirinya sendiri. Dan karena keinginan tersebut maka tak satupun CV yang dia kirimkan ke sejumlah perusahaan ataupun institusi. Setelah menamatkan bangku kuliahnya Andri lebih asyik mengikuti sejumlah kursus singkat untuk mendalami minat yang ada pada dirinya. Sayangnya minat yang dimiliki Andri sangat jauh dari disiplin ilmu kuliahnya. 

Andri sebetulnya tidak menyukai disiplin ilmu kuliahnya. Andri hanya mengikuti pilihan orang tuanya —khususnya pilihan Bapaknya. Andri tak kuasa menolak keinginan Bapaknya dan berusaha menyelesaikan kuliahnya agar tidak mengecewakan Bapaknya. Nilai IPK nya pun cukup nge-pas saja agar bisa terus mengambil SKS dan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Yang berkecamuk di pikiran Andri hanyalah: Walaupun sebetulnya aku sangat kecewa namun biarlah aku terjebak dalam piilihan Bapak-ku. Akan aku selesaikan kuliahku tepat waktu… dan setelah itu akulah yang akan menentukan langkahku ke depan.

Tanpa sepengetahuan Bapaknya, setelah lulus kuliah Andri rajin mengikuti kursus-kursus yang sesuai minatnya. Biaya-biaya kursus diminta dari Ibunya dan Andripun meminta secara khusus ke ibunya agar tidak menceritakan hal tersebut ke Bapaknya.

Setelah hampir 3 tahun mengembangkan networking sekaligus kemampuan yang didapatkan dari berbagai kursus yang diikuti, mulailah dirinya menghasilkan uang. Bisnis kreatifnya mulai berkembang dan mendapatkan pelanggan. Produk-produk animasinya sering dipakai para manajer pemasaran perusahaan-perusahaan besar sebagai media komunikasi ke target pasar yang diinginkan. 

Muswarso cukup terpana dengan apa yang telah dilakukan anaknya. Dirinya cukup terharu dan bangga dengan pilihan anaknya. Dan disaat bersamaan dirinya merasa sangat bersalah karena telah salah sangka dan salah tindakan terhadap anak bungsunya tersebut. Teringatlah betapa semangatnya dulu dia mempengaruhi Andri untuk mengambil fakultas yang sangat diinginkannya namun ternyata itu bukanlah keinginan anaknya. Teringatlah akan desakan-desakan dirinya agar Andri segera mengirim lamaran dan segera bekerja kantoran. Teringatlah akan segala omelan dan cemoohan dirinya saat Andri tidak merespon desakannya dan tetap nganggur dalam kurun waktu 2,5 tahunan. 

Ah betapa aku selama ini telah mengedepankan kepentinganku daripada kepentingannya : lenguhan lirih penyesalan Murwarso .



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.