Antara segregasi dan diferensiasi

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Ingatkah kita akan kasus segregasi yang pernah terjadi di negara Afrika Selatan dengan rezim apartheid-nya? Segregasi ini membawa penderitaan yang luar biasa. Untunglah segregasi di negara tersebut telah berakhir dan telah menjadi kenangan pahit. Bahkan ada satu kisah memilukan saat sistem apartheid menjelang berakhir. Alkisah secara diam-diam dibentuklah satu tim gabungan yang terdiri dari para eksekutif bisnis kaum kulit putih dengan para pemimpin komunitas warga kulit hitam. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tim gabungan tersebut diberikan pelatihan tentang kepemimpinan dan bagaimana menjalankan fungsi pemerintahan yang seharusnya. Masing-masing anggota tim ini nantinya akan diberi tugas untuk mendampingi dan membantu kaum kulit hitam menjalankan fungsi pemerintahan di komunitas-komunitas kulit hitam. Menjelang pelatihan berakhir, masing-masing peserta diminta untuk menyampaikan kata-kata perpisahan. Salah satu peserta kulit putih berdiri dan memandang tajam ke salah satu pemimpin kulit hitam yang ada sambil mengatakan dengan terbata-bata: <em>Saya ingin anda tahu</em>….! Lama-lama matanya mulai berlinang… <em>Saya telah dibesarkan di lingkungan dimana secara terus menerus lingkungan tersebut menanamkan satu hal kepada saya bahwa anda dan kaum anda adalah binatang… ya binatang dan bukan manusia</em>. Ungkapan memilukan tersebut adalah ungkapan penyesalan yang menyesakkan bagi dirinya dan bagi siapapun yang mendengarnya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dengan hilangnya sistem apartheid di negara Afrika Selatan bukanlah berarti segregasi juga menghilang. Ingat bahwa arti segregasi adalah pemisahan. Memisahkan antara kita sebagai satu golongan dengan mereka yang bukan golongan kita. Dalam segregasi ada proses pembedaan. Dengan demikian segregasi hidup di zona manapun dengan rentang waktu yang tak terbatas. Segregasi yang pernah terjadi di Afrika Selatan adalah bentuk yang paling ekstrim sebagaimana yang pernah terjadi di negara Amerika Serikat di zaman perbudakan. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Namun dalam berbagai zona dan waktu, terdapat banyak permainan segregasi dengan berbagai bentuk dan motifnya. Bila permainan segregasi ini tidak terkelola dengan baik maka akan menimbulkan berbagai friksi dalam kehidupan bahkan akan menjadi konflik yang serius sebagaimana yang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia: apakah itu konflik antar etnis, konflik antar keyakinan, konflik antar faksi dalam satu keyakinan, konflik karena perbedaan fisik, dan lain sebagainya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px"><strong>Lalu apa hubungan segregasi dan diferensiasi ?</strong></span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dalam dunia pemasaran juga terdapat proses dan bentuk pembedaan yang disebut sebagai diferensiasi. Diferensiasi adalah sebagai pembentuk identitas. Kenapa harus membuat diferensiasi ? Tentunya agar produk yang dipasarkan tidak dipersepsikan sama dengan produk-produk lainnya yang ada di pasar. Sesuatu yang berbeda dan unik akan menarik perhatian dan perhatian tersebut tentunya adalah sebagai peluang untuk mendapatkan transaksi bukan?</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Di zaman kontestasi politik yang sedang marak di negara kita tercinta, sejumlah konsep pemasaran mendapatkan wadah barunya. Konsep <em>positioning</em>, diferensiasi, dan <em>branding</em> bukan lagi menjadi domainnya pemasaran di dunia bisnis saja namun sudah masuk ke dunia politis. Agar bisa memenangkan kontestasi mereka harus mengembangkan faktor pembeda dari pesaingnya, membuat slogan, dan melakukan branding dimana-dimana. Sesuatu hal yang sesungguhnya wajar-wajar saja dan semuanya itu memang harus dilakukan. Diferensiasi dalam dunia pemasaran basis bakunya adalah konten (apa yang anda jual), konteks (bagaimana cara menjual), dan infrastruktur pendukungnya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sebagai salah satu ilustrasi saja… antara Holland Bakery dan Breadtalk. Secara konten mereka menjual produk yang sama yakni roti namun diantara mereka terus berusaha untuk saling membedakan diri satu dengan lainnya dari aspek apa yang dijual —apakah varian roti, rasa, <em>freshness</em>, dan seterusnya. Dari aspek konteks, cara mereka menjual juga telah membedakan diri (dari pemilihan lokasi <em>outlet —</em>yang satu selalu memilih lokasi di mall dan yang satu dominan diluar mall, proses pembuatan —yang satu terlihat dan yang satunya tidak terlihat, dan seterusnya).  Dan dari aspek  terakhir yakni infrastruktur pendukung, mereka juga saling berupaya membedakan diri. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dalam kontestasi politik dan di aspek kehidupan lainnya, mendiferensiasikan dirinya semestinya tidak terlalu jauh berbeda dengan proses diferensiasi dari sumber aslinya. Namun demikian dalam dunia kehidupan, sesuatu yang semestinya tidaklah menjadi yang seharusnya bukan ? Ehm…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Saat seorang kontestan politik berupaya men-diferensiasi-kan dirinya maka mereka akan berupaya membuat pembedaan antara dirinya dan lawannya agar bisa mendapatkan perhatian dan sekaligus bisa menjadi pilihan. Model pembedaan yang dilakukan seringkali bukan berbasiskan aturan baku seperti yang berlaku pada praktek diferensiasi di dunia pemasaran namun lebih kearah membuat pembedaan dari perspektif segregasi. Semangat segregasi adalah semangat AKU dan KAMU harus beda. Harus dibuat pemisah antara diriku beserta kelompokku dengan dirinya beserta kelompoknya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Akhirnya muncullah berbagai ungkapan kontestan politik dimana ungkapan tersebut lebih bersemangatkan segregasi daripada diferensiasi: partai Allah dan partai syetan, poros Mekah dan poros Cina, poros pilihan ulama dan poros bukan pilihan ulama, poros pro aseng dan poros non aseng, poros kontestan bukan penduduk asli dan poros kontestan penduduk asli, poros kontestan pencari kerja dan poros kontestan non pencari kerja, dan seterusnya. Ungkapan segregasi ini seringkali bukan merupakan realitas sebagaimana yang juga pernah terjadi di Afrika Selatan: kaum kulit putih adalah sebenar-benarnya manusia sementara kaum kulit hitam adalah binatang… —apakah realitasnya memang demikian ? Tidak kan ?</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Yang meng-klaim dirinya kontestan non pekerja apakah benar dirinya bukan pencari kerja ? Kalau memang bukan pencari kerja kenapa harus ikut kontestasi supaya terpilih dan menduduki kerjaan yang diincarnya —apakah sebagai gubernur, bupati, walikota, dan sebagainya ? Demikian juga yang terjadi pada klaim-klaim yang lainnya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dalam kehidupan sehari-haripun, saat ini semangat men-segregasikan dirinya juga demikian gencar: kami beserta kelompok kami sudah nyunnah sementara kamu beserta kelompokmu sama sekali jauh dari sunnah, kamu beserta kelompokmu pendosa sementara kami beserta kelompok kami telah suci dan mensucikan, kami dan kelompok kami adalah pembela kebenaran sementara kamu beserta kelompokmu adalah pembela kebusukan, dan seterusnya. Astagfirullahaladzim…. Dalam sejumlah kasus semangat segregasi ini dilakukan secara membabi buta sehingga menimbulkan berbagai kegalauan bahkan friksi antar teman, keluarga, dan berbagai komunitas. Semangat segregasi yang berlebihan memudarkan nilai-nilai saling asuh, saling asah, saling hormat diantara kita.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sungguh merepotkan dan mulai memilukan semangat segregasi yang saat ini terjadi. Apalagi semangat segregasi yang ada tersebut di <em>branding</em> dengan luar biasa. Untunglah <em>branding</em> berbasis <em>hoax</em> sudah mendapatkan penanganan hukum. Semoga <em>branding</em> yang terjadi semakin obyektif, relevan, dan bisa dipertanggung jawabkan.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Semoga semangat segregasi yang lagi marak saat ini tidak mengarah pada segregasi yang ekstrim karena segregasi ekstrim akan melahirkan konflik yang menyengsarakan semua pihak. Apa itu semangat segregasi yang ekstrim ? Yakni bila ada salah satu pihak mengkampanyekan secara masif dan sangat intens bahwa pihak lawan adalah musuh dan wajib dimusuhi. Salah satu pihak secara intens dan masif membentuk opini bahwa pihak lawan adalah musuh bersama yang harus dibumihanguskan. Ehm seraaam.</span></span></p><p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Semoga para pemilih juga semakin bijak dalam menanggapi permainan segregasi para kontestan politik -terlepas apakah permainan segregasinya ekstrim ataukah tidak. Semoga para pemilih dan pendukung kontestan tidak larut dalam permainan segregasi yang ada. Semoga pengikut kontestan politik menyadari bahwa para elit konstestan politik seringkali berantem sengit via segregasi dalam kontestasi namun setelahnya mereka makan-minum bersama, berpelukan, bercipika-cipiki, bermaaf-maafan, dan lain sebagainya…oleh karenanya semoga pengikut kontestan politik tidak baper berlebihan saat menjadi pengikut kontestan. Semoga para kontestan politik dalam membedakan dirinya kembali ke konsep pembedaan dengan model diferensiasi dan tidak dominan memainkan permainan segregasi yang berlebihan. Semoga permainan segregasi hanyalah euphoria sesaat dalam berkontestasi. Dan semoga - semoga lainnya…</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Di dunia kerja, hampir semua pekerja di level apapun mendapatkan pesan yang berkesinambungan: <em>Bila menilai seseorang janganlah melihat siapa orang  tersebut namun lihatlah ide-ide, gagasan-gagasan, cara kerja, dan kinerjanya.  Jangan melihat dan menilai seseorang dari </em><strong><em>orang</em></strong><em>-nya namun berfokuslah pada ide-ide nya. Konflik akan mudah diatasi bila kita berfokus pada ide bukan berfokus pada </em><strong><em>orang</em></strong>. <em>Berfokus pada ide akan meningkatkan produktivitas sementara berfokus pada orang akan menghancurkan tim dan tentunya menurunkan produktivitas</em>. Mari kita bawa nilai-nilai yang sudah kita praktekkan di dunia kerja pada dunia kehidupan kita yang lainnya termasuk saat berdemokrasi. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dalam dunia ke-agama-an, Islam telah memiliki 4 madzab namun pencetus 4 madzab tersebut tetap mengedepankan nilai-nilai saling asah, saling asuh, dan saling hormat. Kita sebagai pengikut salah satu madzab, tidak bisakah kita  mencontoh apa yang telah kita ikuti ?</span></span></p>

Ingatkah kita akan kasus segregasi yang pernah terjadi di negara Afrika Selatan dengan rezim apartheid-nya? Segregasi ini membawa penderitaan yang luar biasa. Untunglah segregasi di negara tersebut telah berakhir dan telah menjadi kenangan pahit. Bahkan ada satu kisah memilukan saat sistem apartheid menjelang berakhir. Alkisah secara diam-diam dibentuklah satu tim gabungan yang terdiri dari para eksekutif bisnis kaum kulit putih dengan para pemimpin komunitas warga kulit hitam. 

Tim gabungan tersebut diberikan pelatihan tentang kepemimpinan dan bagaimana menjalankan fungsi pemerintahan yang seharusnya. Masing-masing anggota tim ini nantinya akan diberi tugas untuk mendampingi dan membantu kaum kulit hitam menjalankan fungsi pemerintahan di komunitas-komunitas kulit hitam. Menjelang pelatihan berakhir, masing-masing peserta diminta untuk menyampaikan kata-kata perpisahan. Salah satu peserta kulit putih berdiri dan memandang tajam ke salah satu pemimpin kulit hitam yang ada sambil mengatakan dengan terbata-bata: Saya ingin anda tahu….! Lama-lama matanya mulai berlinang… Saya telah dibesarkan di lingkungan dimana secara terus menerus lingkungan tersebut menanamkan satu hal kepada saya bahwa anda dan kaum anda adalah binatang… ya binatang dan bukan manusia. Ungkapan memilukan tersebut adalah ungkapan penyesalan yang menyesakkan bagi dirinya dan bagi siapapun yang mendengarnya. 

Dengan hilangnya sistem apartheid di negara Afrika Selatan bukanlah berarti segregasi juga menghilang. Ingat bahwa arti segregasi adalah pemisahan. Memisahkan antara kita sebagai satu golongan dengan mereka yang bukan golongan kita. Dalam segregasi ada proses pembedaan. Dengan demikian segregasi hidup di zona manapun dengan rentang waktu yang tak terbatas. Segregasi yang pernah terjadi di Afrika Selatan adalah bentuk yang paling ekstrim sebagaimana yang pernah terjadi di negara Amerika Serikat di zaman perbudakan. 

Namun dalam berbagai zona dan waktu, terdapat banyak permainan segregasi dengan berbagai bentuk dan motifnya. Bila permainan segregasi ini tidak terkelola dengan baik maka akan menimbulkan berbagai friksi dalam kehidupan bahkan akan menjadi konflik yang serius sebagaimana yang terjadi saat ini di berbagai belahan dunia: apakah itu konflik antar etnis, konflik antar keyakinan, konflik antar faksi dalam satu keyakinan, konflik karena perbedaan fisik, dan lain sebagainya.

Lalu apa hubungan segregasi dan diferensiasi ?


Dalam dunia pemasaran juga terdapat proses dan bentuk pembedaan yang disebut sebagai diferensiasi. Diferensiasi adalah sebagai pembentuk identitas. Kenapa harus membuat diferensiasi ? Tentunya agar produk yang dipasarkan tidak dipersepsikan sama dengan produk-produk lainnya yang ada di pasar. Sesuatu yang berbeda dan unik akan menarik perhatian dan perhatian tersebut tentunya adalah sebagai peluang untuk mendapatkan transaksi bukan?

Di zaman kontestasi politik yang sedang marak di negara kita tercinta, sejumlah konsep pemasaran mendapatkan wadah barunya. Konsep positioning, diferensiasi, dan branding bukan lagi menjadi domainnya pemasaran di dunia bisnis saja namun sudah masuk ke dunia politis. Agar bisa memenangkan kontestasi mereka harus mengembangkan faktor pembeda dari pesaingnya, membuat slogan, dan melakukan branding dimana-dimana. Sesuatu hal yang sesungguhnya wajar-wajar saja dan semuanya itu memang harus dilakukan. Diferensiasi dalam dunia pemasaran basis bakunya adalah konten (apa yang anda jual), konteks (bagaimana cara menjual), dan infrastruktur pendukungnya. 

Sebagai salah satu ilustrasi saja… antara Holland Bakery dan Breadtalk. Secara konten mereka menjual produk yang sama yakni roti namun diantara mereka terus berusaha untuk saling membedakan diri satu dengan lainnya dari aspek apa yang dijual —apakah varian roti, rasa, freshness, dan seterusnya. Dari aspek konteks, cara mereka menjual juga telah membedakan diri (dari pemilihan lokasi outlet —yang satu selalu memilih lokasi di mall dan yang satu dominan diluar mall, proses pembuatan —yang satu terlihat dan yang satunya tidak terlihat, dan seterusnya).  Dan dari aspek  terakhir yakni infrastruktur pendukung, mereka juga saling berupaya membedakan diri. 

Dalam kontestasi politik dan di aspek kehidupan lainnya, mendiferensiasikan dirinya semestinya tidak terlalu jauh berbeda dengan proses diferensiasi dari sumber aslinya. Namun demikian dalam dunia kehidupan, sesuatu yang semestinya tidaklah menjadi yang seharusnya bukan ? Ehm…

Saat seorang kontestan politik berupaya men-diferensiasi-kan dirinya maka mereka akan berupaya membuat pembedaan antara dirinya dan lawannya agar bisa mendapatkan perhatian dan sekaligus bisa menjadi pilihan. Model pembedaan yang dilakukan seringkali bukan berbasiskan aturan baku seperti yang berlaku pada praktek diferensiasi di dunia pemasaran namun lebih kearah membuat pembedaan dari perspektif segregasi. Semangat segregasi adalah semangat AKU dan KAMU harus beda. Harus dibuat pemisah antara diriku beserta kelompokku dengan dirinya beserta kelompoknya. 

Akhirnya muncullah berbagai ungkapan kontestan politik dimana ungkapan tersebut lebih bersemangatkan segregasi daripada diferensiasi: partai Allah dan partai syetan, poros Mekah dan poros Cina, poros pilihan ulama dan poros bukan pilihan ulama, poros pro aseng dan poros non aseng, poros kontestan bukan penduduk asli dan poros kontestan penduduk asli, poros kontestan pencari kerja dan poros kontestan non pencari kerja, dan seterusnya. Ungkapan segregasi ini seringkali bukan merupakan realitas sebagaimana yang juga pernah terjadi di Afrika Selatan: kaum kulit putih adalah sebenar-benarnya manusia sementara kaum kulit hitam adalah binatang… —apakah realitasnya memang demikian ? Tidak kan ?

Yang meng-klaim dirinya kontestan non pekerja apakah benar dirinya bukan pencari kerja ? Kalau memang bukan pencari kerja kenapa harus ikut kontestasi supaya terpilih dan menduduki kerjaan yang diincarnya —apakah sebagai gubernur, bupati, walikota, dan sebagainya ? Demikian juga yang terjadi pada klaim-klaim yang lainnya. 

Dalam kehidupan sehari-haripun, saat ini semangat men-segregasikan dirinya juga demikian gencar: kami beserta kelompok kami sudah nyunnah sementara kamu beserta kelompokmu sama sekali jauh dari sunnah, kamu beserta kelompokmu pendosa sementara kami beserta kelompok kami telah suci dan mensucikan, kami dan kelompok kami adalah pembela kebenaran sementara kamu beserta kelompokmu adalah pembela kebusukan, dan seterusnya. Astagfirullahaladzim…. Dalam sejumlah kasus semangat segregasi ini dilakukan secara membabi buta sehingga menimbulkan berbagai kegalauan bahkan friksi antar teman, keluarga, dan berbagai komunitas. Semangat segregasi yang berlebihan memudarkan nilai-nilai saling asuh, saling asah, saling hormat diantara kita.

Sungguh merepotkan dan mulai memilukan semangat segregasi yang saat ini terjadi. Apalagi semangat segregasi yang ada tersebut di branding dengan luar biasa. Untunglah branding berbasis hoax sudah mendapatkan penanganan hukum. Semoga branding yang terjadi semakin obyektif, relevan, dan bisa dipertanggung jawabkan.

Semoga semangat segregasi yang lagi marak saat ini tidak mengarah pada segregasi yang ekstrim karena segregasi ekstrim akan melahirkan konflik yang menyengsarakan semua pihak. Apa itu semangat segregasi yang ekstrim ? Yakni bila ada salah satu pihak mengkampanyekan secara masif dan sangat intens bahwa pihak lawan adalah musuh dan wajib dimusuhi. Salah satu pihak secara intens dan masif membentuk opini bahwa pihak lawan adalah musuh bersama yang harus dibumihanguskan. Ehm seraaam.

Semoga para pemilih juga semakin bijak dalam menanggapi permainan segregasi para kontestan politik -terlepas apakah permainan segregasinya ekstrim ataukah tidak. Semoga para pemilih dan pendukung kontestan tidak larut dalam permainan segregasi yang ada. Semoga pengikut kontestan politik menyadari bahwa para elit konstestan politik seringkali berantem sengit via segregasi dalam kontestasi namun setelahnya mereka makan-minum bersama, berpelukan, bercipika-cipiki, bermaaf-maafan, dan lain sebagainya…oleh karenanya semoga pengikut kontestan politik tidak baper berlebihan saat menjadi pengikut kontestan. Semoga para kontestan politik dalam membedakan dirinya kembali ke konsep pembedaan dengan model diferensiasi dan tidak dominan memainkan permainan segregasi yang berlebihan. Semoga permainan segregasi hanyalah euphoria sesaat dalam berkontestasi. Dan semoga - semoga lainnya…

Di dunia kerja, hampir semua pekerja di level apapun mendapatkan pesan yang berkesinambungan: Bila menilai seseorang janganlah melihat siapa orang  tersebut namun lihatlah ide-ide, gagasan-gagasan, cara kerja, dan kinerjanya.  Jangan melihat dan menilai seseorang dari orang-nya namun berfokuslah pada ide-ide nya. Konflik akan mudah diatasi bila kita berfokus pada ide bukan berfokus pada orang. Berfokus pada ide akan meningkatkan produktivitas sementara berfokus pada orang akan menghancurkan tim dan tentunya menurunkan produktivitas. Mari kita bawa nilai-nilai yang sudah kita praktekkan di dunia kerja pada dunia kehidupan kita yang lainnya termasuk saat berdemokrasi. 

Dalam dunia ke-agama-an, Islam telah memiliki 4 madzab namun pencetus 4 madzab tersebut tetap mengedepankan nilai-nilai saling asah, saling asuh, dan saling hormat. Kita sebagai pengikut salah satu madzab, tidak bisakah kita  mencontoh apa yang telah kita ikuti ?



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.