Mengelola kebencian

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Siapa yang tidak pernah merasakan benci di setiap fase kehidupannya ? Hampir semua orang pernah mengalaminya bukan ? Benci adalah teman hidup manusia. Layaknya sebagai teman, si benci juga datang dan pergi. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apa sesungguhnya yang menyebabkan si benci muncul ? Si benci mulai muncul dikala ada kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan realitas yang dihadapi. Terlepas apakah kesenjangan tersebut hanya berbasiskan persepsi saja ataukah berbasiskan kenyataan. Si benci muncul semata bukan karena adanya kesenjangan saja. Tidak semua kesenjangan menimbulkan kebencian. Bagi mereka yang bisa menerima dan bisa me-rasionalisasi adanya kesenjangan tersebut maka mereka tidak akan mudah dijangkiti oleh benih - benih kebencian. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Mereka memiliki kecermatan yang tinggi dalam menilai keadaan yang ada disekelilingnya dan semuanya dibalut dengan penilaian yang lebih mengedepankan pada muatan-muatan yang bernilai kebijakan dan kebajikan tingkat tinggi. Barangkali mereka menjiwai secara optimal sejumlah kalam Ilahi yang kurang lebih menyatakan: </span></span></p>

<ul style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt;">
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sesuatu yang buruk menurutmu belum tentu sebuah keburukan dan sebaliknya. </span></span></li></ul><ul style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt;">
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Janganlah memperolok orang lain, bisa jadi mereka yang diperolok lebih baik dari yang memperolok.</span></span></li></ul><ul style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt;">
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Jauhilah dari kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. </span></span></li>
</ul>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Pada akhirnya mereka memiliki ilmu maklum yang tinggi atas aneka kesenjangan yang ada. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Kehidupan mereka seolah-olah berlimpahkan dengan berbagai aneka pemakluman yang luar biasa. Pemakluman tersebut bagi mereka bukanlah berarti sebuah kepasrahan mutlak. Justru dengan berlimpahnya pemakluman yang ada pada diri mereka, mereka bisa mencari cara-cara yang lebih elegan dalam menyikapi, mengatasi, dan mengelola berbagai kesenjangan yang ada. Mereka pada akhirnya mampu menempuh jalan pemberdayaan yang pro aktif dalam suasana yang teduh dan tidak gaduh. Saya menyebut jalan ini adalah jalan yang dipenuhi dengan muatan pemakluman yang pro-aktif. Mereka bergerak dalam kesabaran dalam ketenangan yang luar biasa. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Hal yang sangat berbeda dialami oleh mereka yang belum sampai pada tahapan sebagaimana yang tersebut diatas. Mereka yang belum bisa menerima ataupun me-rasionalisasi atas kesenjangan yang ada akan jatuh pada satu situasi yang tentunya akan sangat berbeda. Bagi mereka, kesenjangan yang ada akan diiringi dengan adanya ketidakpuasaan. Ketidakpuasan yang ter-eskalasi akan mengakibatkan benih-benih kebencian tumbuh dengan suburnya. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dan kebencian akan menimbulkan efek lanjutan yang destruktif baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain. Seseorang yang dipenuhi dengan aroma kebencian akan terdorong untuk mencari si kambing hitam yang patut dipersalahkan atas kesenjangan yang ada. Si kambing hitam tidak sekedar di persalahkan saja namun dicari-cari kesalahannya dan apapun yang dilakukan si kambing hitam menjadi salah semua —pada tahapan inilah kebencian yang ada sudah menjadi kebencian yang membabi buta dimana batasan rasionalitas dan irasionalitas menjadi sumir. Ujung dari sebuah kebencian adalah menjatuhkan si kambing hitam dengan cara apapun hingga suasana menjadi hiruk pikuk penuh pekikan amarah. Inilah efek destruktif eksternal akibat terjangkit kebencian yang memuncak. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Yang lebih mengenaskan adalah bila Tuhan-pun dibawa-bawa sebagai tertuduh dalam kesenjangan yang ada. Dan bahkan menjadi tersangka ataupun menjadi kambing hitam dalam persoalan kesenjangan ini. Whew….. ironis sekali.</span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Selain efek destruksif eksternal sebagai tersebut diatas, kebencian juga memiliki efek destruksif internal. Efek destruktif internal terjadi bila yang menjadi sasaran kebencian adalah dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, si kambing hitam tentunya tidak berada di pihak lain namun ada pada dirinya sendiri. Kebencian pada diri sendiri juga akhirnya akan berujung pada penghakiman terhadap dirinya sendiri. Seseorang yang berada dalam tahapan ini akan sangat menyalahkan dirinya sendiri. Menurut yang bersangkutan, tidak ada kebenaran dalam dirinya sendiri. Menurut dirinya, apapun yang dilakukannya pasti akan berujung pada kesalahan. Kebencian akan dirinya sendiri tersebut tentunya akan menenggelamkan berbagai potensi yang ada pada dirinya. Seseorang yang terjangkit kebencian akan dirinya sendiri akan menjadi apatis, kehilangan gairah hidup, tidak responsif, dan pada tahapan tertentu akan berusaha melukai dirinya secara fisik.</span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam berteman dengan kebencian. Apalagi berteman dengan kebencian yang sifatnya hanyalah ikutan-ikutan. Disebut ikut-ikutan karena kita sebetulnya tidaklah punya kapasitas yang memadai dalam menilai kesenjangan yang ada ataupun sebetulnya kesenjangan yang ada tersebut amat jauh berada diluar lingkaran pengaruh kita. Akan jauh lebih mengenaskan lagi bila kebencian ikut-ikutan tersebut pada akhirnya terbawa masuk kedalam sebuah arena pertarungan kebencian yang tak berujung. Dalam kondisi seperti ini, posisi kita akan menjadi sangat rentan: apakah akhirnya sekedar akan dimanfaatkan belaka ataukah nantinya hanya akan dikorbankan saja. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Berhati-hatilah dalam menilai kesenjangan yang ada. Mari kita cermati dengan seksama penilaian yang sedang kita lakukan atas berbagai kesenjangan yang ada —baik di lingkup kantor ataupun di lingkup sosial lainnya. Kelola dengan baik ketidakpuasaan atas kesenjangan tersebut. Jangan biarkan ketidakpuasaan tersebut menjadi liar yang akan berujung pada kebencian yang membabi buta hingga berefek pada irasionalitas dalam bertutur kata dan bertindak. Toh saat tiba giliran kita diberi kesempatan mengatasi kesenjangan tersebut belum tentu kita bisa memberikah hasil yang lebih baik ataupun lebih optimal. </span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sebagai penutup… memiliki kebencian adalah hal yang sangat manusiawi. Bila kita terpaksa sedang berada dalam alam kebencian, ingatlah akan kalam Ilahi yang kurang lebih mengatakan: jangan kebencianmu atas suatu kaum membuatmu bertindak dzolim pada kaum tersebut. Jangan kebencianmu pada orang lain membuatmu bertindak dzolim pada orang tersebut.</span></span></p>

<p style="font-family: Arial, Verdana; font-size: 10pt; text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Akan jauh lebih baik bila kita memilih jalan alternatif yang jauh lebih sulit namun jalan tersebut adalah jalan yang lebih baik yakni jalan yang dipenuhi dengan muatan permakluman yang pro-aktif. Inilah jalan yang bebas dari muatan benci. Jalan yang penuh dengan nuansa obyektivitas, konstruktivitas, proses pembelajaran yang tenang, dan kaya akan pemberdayaan.</span></span></p>

Siapa yang tidak pernah merasakan benci di setiap fase kehidupannya ? Hampir semua orang pernah mengalaminya bukan ? Benci adalah teman hidup manusia. Layaknya sebagai teman, si benci juga datang dan pergi. 

Apa sesungguhnya yang menyebabkan si benci muncul ? Si benci mulai muncul dikala ada kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan realitas yang dihadapi. Terlepas apakah kesenjangan tersebut hanya berbasiskan persepsi saja ataukah berbasiskan kenyataan. Si benci muncul semata bukan karena adanya kesenjangan saja. Tidak semua kesenjangan menimbulkan kebencian. Bagi mereka yang bisa menerima dan bisa me-rasionalisasi adanya kesenjangan tersebut maka mereka tidak akan mudah dijangkiti oleh benih - benih kebencian. 

Mereka memiliki kecermatan yang tinggi dalam menilai keadaan yang ada disekelilingnya dan semuanya dibalut dengan penilaian yang lebih mengedepankan pada muatan-muatan yang bernilai kebijakan dan kebajikan tingkat tinggi. Barangkali mereka menjiwai secara optimal sejumlah kalam Ilahi yang kurang lebih menyatakan: 

  • Sesuatu yang buruk menurutmu belum tentu sebuah keburukan dan sebaliknya. 
  • Janganlah memperolok orang lain, bisa jadi mereka yang diperolok lebih baik dari yang memperolok.
  • Jauhilah dari kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Pada akhirnya mereka memiliki ilmu maklum yang tinggi atas aneka kesenjangan yang ada. 

Kehidupan mereka seolah-olah berlimpahkan dengan berbagai aneka pemakluman yang luar biasa. Pemakluman tersebut bagi mereka bukanlah berarti sebuah kepasrahan mutlak. Justru dengan berlimpahnya pemakluman yang ada pada diri mereka, mereka bisa mencari cara-cara yang lebih elegan dalam menyikapi, mengatasi, dan mengelola berbagai kesenjangan yang ada. Mereka pada akhirnya mampu menempuh jalan pemberdayaan yang pro aktif dalam suasana yang teduh dan tidak gaduh. Saya menyebut jalan ini adalah jalan yang dipenuhi dengan muatan pemakluman yang pro-aktif. Mereka bergerak dalam kesabaran dalam ketenangan yang luar biasa. 


Hal yang sangat berbeda dialami oleh mereka yang belum sampai pada tahapan sebagaimana yang tersebut diatas. Mereka yang belum bisa menerima ataupun me-rasionalisasi atas kesenjangan yang ada akan jatuh pada satu situasi yang tentunya akan sangat berbeda. Bagi mereka, kesenjangan yang ada akan diiringi dengan adanya ketidakpuasaan. Ketidakpuasan yang ter-eskalasi akan mengakibatkan benih-benih kebencian tumbuh dengan suburnya. 

Dan kebencian akan menimbulkan efek lanjutan yang destruktif baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain. Seseorang yang dipenuhi dengan aroma kebencian akan terdorong untuk mencari si kambing hitam yang patut dipersalahkan atas kesenjangan yang ada. Si kambing hitam tidak sekedar di persalahkan saja namun dicari-cari kesalahannya dan apapun yang dilakukan si kambing hitam menjadi salah semua —pada tahapan inilah kebencian yang ada sudah menjadi kebencian yang membabi buta dimana batasan rasionalitas dan irasionalitas menjadi sumir. Ujung dari sebuah kebencian adalah menjatuhkan si kambing hitam dengan cara apapun hingga suasana menjadi hiruk pikuk penuh pekikan amarah. Inilah efek destruktif eksternal akibat terjangkit kebencian yang memuncak. 

Yang lebih mengenaskan adalah bila Tuhan-pun dibawa-bawa sebagai tertuduh dalam kesenjangan yang ada. Dan bahkan menjadi tersangka ataupun menjadi kambing hitam dalam persoalan kesenjangan ini. Whew….. ironis sekali.

Selain efek destruksif eksternal sebagai tersebut diatas, kebencian juga memiliki efek destruksif internal. Efek destruktif internal terjadi bila yang menjadi sasaran kebencian adalah dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, si kambing hitam tentunya tidak berada di pihak lain namun ada pada dirinya sendiri. Kebencian pada diri sendiri juga akhirnya akan berujung pada penghakiman terhadap dirinya sendiri. Seseorang yang berada dalam tahapan ini akan sangat menyalahkan dirinya sendiri. Menurut yang bersangkutan, tidak ada kebenaran dalam dirinya sendiri. Menurut dirinya, apapun yang dilakukannya pasti akan berujung pada kesalahan. Kebencian akan dirinya sendiri tersebut tentunya akan menenggelamkan berbagai potensi yang ada pada dirinya. Seseorang yang terjangkit kebencian akan dirinya sendiri akan menjadi apatis, kehilangan gairah hidup, tidak responsif, dan pada tahapan tertentu akan berusaha melukai dirinya secara fisik.

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam berteman dengan kebencian. Apalagi berteman dengan kebencian yang sifatnya hanyalah ikutan-ikutan. Disebut ikut-ikutan karena kita sebetulnya tidaklah punya kapasitas yang memadai dalam menilai kesenjangan yang ada ataupun sebetulnya kesenjangan yang ada tersebut amat jauh berada diluar lingkaran pengaruh kita. Akan jauh lebih mengenaskan lagi bila kebencian ikut-ikutan tersebut pada akhirnya terbawa masuk kedalam sebuah arena pertarungan kebencian yang tak berujung. Dalam kondisi seperti ini, posisi kita akan menjadi sangat rentan: apakah akhirnya sekedar akan dimanfaatkan belaka ataukah nantinya hanya akan dikorbankan saja. 

Berhati-hatilah dalam menilai kesenjangan yang ada. Mari kita cermati dengan seksama penilaian yang sedang kita lakukan atas berbagai kesenjangan yang ada —baik di lingkup kantor ataupun di lingkup sosial lainnya. Kelola dengan baik ketidakpuasaan atas kesenjangan tersebut. Jangan biarkan ketidakpuasaan tersebut menjadi liar yang akan berujung pada kebencian yang membabi buta hingga berefek pada irasionalitas dalam bertutur kata dan bertindak. Toh saat tiba giliran kita diberi kesempatan mengatasi kesenjangan tersebut belum tentu kita bisa memberikah hasil yang lebih baik ataupun lebih optimal. 

Sebagai penutup… memiliki kebencian adalah hal yang sangat manusiawi. Bila kita terpaksa sedang berada dalam alam kebencian, ingatlah akan kalam Ilahi yang kurang lebih mengatakan: jangan kebencianmu atas suatu kaum membuatmu bertindak dzolim pada kaum tersebut. Jangan kebencianmu pada orang lain membuatmu bertindak dzolim pada orang tersebut.

Akan jauh lebih baik bila kita memilih jalan alternatif yang jauh lebih sulit namun jalan tersebut adalah jalan yang lebih baik yakni jalan yang dipenuhi dengan muatan permakluman yang pro-aktif. Inilah jalan yang bebas dari muatan benci. Jalan yang penuh dengan nuansa obyektivitas, konstruktivitas, proses pembelajaran yang tenang, dan kaya akan pemberdayaan.



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.