Stres dunia kerja

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Stres diperlukan dalam dinamika kehidupan. Stres adalah reaksi fisik dan psikologis yang normal sebagai respon terhadap cepat derap perubahan yang dihadapi oleh seseorang dalam menjalani kehidupan. Stres memiliki 2 efek yakni efek positif dan efek negatif. Efek positif akan muncul bila stres tersebut  terkelola dengan baik dan justru mampu mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Sementara efek negatif terjadi bila stresnya tidak terkelola dengan baik dan menimbulkan berbagai efek lanjutan. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Efek lanjutan yang muncul adalah terjadinya gangguan pada kesehatan fisik seperti cepat lelah, susah tidur, otot menegang, pusing, jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, sakit perut, tekanan darah meningkat diatas normal, pelarian diri seperti minuman beralkohol, merokok, dan lain sebagainya. Hampir secara bersamaan selain gangguan kesehatan fisik, terdapat pula gangguan kesehatan mental seperti konsentrasi melemah, apatis atau sebaliknya yakni agresif, tidak antusias, menarik diri dari lingkungan sosialnya, kecemasan yang berlebihan, murung, suasana hati menjadi tidak stabil, dan seterusnya. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Bila berada di dunia kerja, efek negatif stres akan menimbulkan efek berantai. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Chartered Institute of Personnel Development, terdapat sejumlah dampak lanjutan akibat kesehatan mental yang tidak terkelola dengan baik yang disebabkan oleh stres:</font></p>

<ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">37% diantara mereka cenderung terlibat konflik dengan kolega-koleganya.</font></li></ul><ul>
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">57% diantara mereka sulit melakukan pekerjaan yang beragam dalam waktu yang bersamaan. Mereka lemah dalam <i>multi-tasking</i>.</font></li></ul><ul>
	<li style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">80% diantara mereka mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi.</font></li></ul><ul>
	<li style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">62% diantara mereka cenderung memperlambat pekerjaan. Mereka lebih suka menunda-nunda dalam melakuka pekerjaan.</font></li></ul><ul>
	<li style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">50% diantara mereka cenderung tidak sabar saat berinteraksi dengan konsumen atau klien.</font></li></ul><ul>
	<li style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Dan mayoritas diantara mereka seringkali telat masuk kantor. Kedisiplinan absensinya amburadul.</font></li>
</ul>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Bagi yang tidak memahami dunia stres dengan baik maka maka hal-hal tersebut diatas dengan segera akan menjadi <em>negative role model</em> atau contoh yang buruk bagi lingkungan seputarnya. Dan yang perlu diingat adalah bahwa contoh yang buruk jauh lebih cepat menular dibanding contoh yang baik, terlepas apakah yang mencontoh sedang mengalami stres ataukah tidak. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Yang harus menjadi fokus kita adalah bagaimana mengatasi stres agar efek negatif beserta efek lanjutan dan efek berantainya tidak terjadi.</font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Ada baiknya memahami terlebih dahulu beberapa penyebab stres di dunia kerja, diantaranya adalah :</font></p>

<ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Terlalu banyak lembur sebagai akibat banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan. </font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Terus menerus berada dalam tekanan yang super tinggi untuk menghasilkan kinerja tanpa diimbangi adanya kepuasan kerja.</font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Tak adanya kontrol dari diri sendiri atas apapun yang dikerjakannya.</font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Terjadinya <em>over and/or under promotion.</em></font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Minimnya rasa aman di pekerjaan.</font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Ambisi yang tergagalkan. </font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Relasi yang buruk dengan atasan, kolega, ataupun bawahan. </font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Dinamika politik di internal organisasi perusahaan.</font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Proses delegasi yang tidak berjalan dengan optimal.</font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Tiadanya media konsultasi di internal organisasi.</font></li></ul><ul style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Dan lain-lainnya.</font></li>
</ul>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana"> </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Kenalilah sumber stres dengan baik. Ada baiknya kita memperhatikan saran Charles Hobbes dalam menilai suatu peristiwa ataupun keadaan:</font></p>

<ol style="font-style: normal;">
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Mana keadaaan yang menurut kita tidak mampu kita kontrol dan memang sebetulnya keadaan tersebut tidak bisa kita kontrol.</font></li>
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Mana keadaan yang menurut kita tidak mampu kita kontrol walaupun sebetulnya keadaan tersebut mampu kita kontrol.</font></li>
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Mana keadaan yang menurut kita mampu kita kontrol namun sebetulnya tidak bisa kita kontrol.</font></li>
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Mana keadaan yang menurut kita mampu kita kontrol namun kita tidak melakukan apapun.</font></li>
	<li style="text-align: justify;"><font face="Verdana">Mana keadaan yang menurut kita mampu kita kontrol dan pada kenyataannya kita sudah menunjukkan kemampuan itu.</font></li>
</ol>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Supaya terhindar dari stres yang berefek negatif, jangan coba-coba terlalu menggebu-nggebu mengatasi keadaan yang berada di poin 1 dan 3. Sudah jelas-jelas keadaan tersebut berada diluar kontrol kok masih mencoba-coba untuk mengontrol, ini namanya cari penyakit. Dalam menghadapi keadaan yang tidak bisa kontrol, tugas kita bukanlah mengontrol namun berubah menjadi menyesuaikan diri. Ya, menyesuaikan diri dengan baik. Banyak pilihan untuk menyesuaikan diri, eksplorasilah dengan baik berbagai ragam pilihan penyesuaian diri tersebut. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Poin 2 dan 4, terjadi kesenjangan antara persepsi diri dan realitas diri. Kesenjangan ini seringkali tidak terlihat oleh diri kita sendiri bila kita mengandalkan penilaian diri hanya pada diri sendiri. Oleh karenanya jangan terlalu asyik menilai diri kita berdasarkan kaca mata sendiri. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Jangan biarkan gelas kita selalu terisi penuh, bila demikian maka saat orang lain menuangkan air ke gelas kita maka air tersebut akan selalu tumpah. Kosongkan isi gelas kita dan mintalah orang lain mengisi gelas kita. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Kesenjangan antara persepsi diri dan realitas diri tersebut bisa terlihat dengan baik dan jelas bila yang melakukan penilaian adalah orang lain. Diri kita telah dipenuhi banyak ego dan hal ini tentunya menghambat diri kita untuk melihat kesenjangan tersebut. Carilah pihak kedua —entah itu atasan, kolega, anak buah, ataupun pihak-pihak lain diluar organisasi yang kita percaya, untuk membantu kita melihat kesenjangan-kesenjangan antara persepsi diri dan realitas diri. Mari kosongkan gelas kita agar dengan mudahnya kita mendapatkan opini-opini ataupun pandangan-pandangan orang lain yang bisa kita manfaatkan. Kaji lebih mendalam tentang bagaimana cara merealisasikan opini-opini tersebut, dan selanjutanya mari kita implementasikan. Ada berbagai momentum dimana saat opini-opini tersebut bisa kita implementasikan, ternyata hasilnya justru mengagetkan diri kita sendiri hingga kitapun berkata: <em>kenapa tidak dari kemarin-kemarin kita lakukan</em> ? </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Jangan suka menunda-nunda pekerjaan yang sebetulnya mampu kita lakukan. Penundaan pekerjaan akan menghasilkan penumpukan pekerjaan. Dan penumpukan pekerjaan akan menjadi pencetus stres. Biasakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penting walaupun pekerjaan tersebut masih jauh dari <em>deadline</em> nya. </font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Selain itu, rajin-rajinlah identifikasi <em>self talk</em> (lebih jauh tentang hal ini, silahkan membaca e-book hasil karya George Rifai yang berjudul Pengelolaan dan Pengembangan Diri). Rubahlah <em>negative self talk </em>menjadi <em>positive self talk</em>.</font></p>

<p style="font-style: normal; text-align: justify;"><font face="Verdana">Dan terakhir, beristirahatlah dengan cukup serta konsumsilah makanan-makanan yang bergizi.</font></p>

<p style="font-style: normal;"><font face="Verdana"> </font></p>

Stres diperlukan dalam dinamika kehidupan. Stres adalah reaksi fisik dan psikologis yang normal sebagai respon terhadap cepat derap perubahan yang dihadapi oleh seseorang dalam menjalani kehidupan. Stres memiliki 2 efek yakni efek positif dan efek negatif. Efek positif akan muncul bila stres tersebut  terkelola dengan baik dan justru mampu mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Sementara efek negatif terjadi bila stresnya tidak terkelola dengan baik dan menimbulkan berbagai efek lanjutan. 

Efek lanjutan yang muncul adalah terjadinya gangguan pada kesehatan fisik seperti cepat lelah, susah tidur, otot menegang, pusing, jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, sakit perut, tekanan darah meningkat diatas normal, pelarian diri seperti minuman beralkohol, merokok, dan lain sebagainya. Hampir secara bersamaan selain gangguan kesehatan fisik, terdapat pula gangguan kesehatan mental seperti konsentrasi melemah, apatis atau sebaliknya yakni agresif, tidak antusias, menarik diri dari lingkungan sosialnya, kecemasan yang berlebihan, murung, suasana hati menjadi tidak stabil, dan seterusnya. 

Bila berada di dunia kerja, efek negatif stres akan menimbulkan efek berantai. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Chartered Institute of Personnel Development, terdapat sejumlah dampak lanjutan akibat kesehatan mental yang tidak terkelola dengan baik yang disebabkan oleh stres:

  • 37% diantara mereka cenderung terlibat konflik dengan kolega-koleganya.
  • 57% diantara mereka sulit melakukan pekerjaan yang beragam dalam waktu yang bersamaan. Mereka lemah dalam multi-tasking.
  • 80% diantara mereka mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi.
  • 62% diantara mereka cenderung memperlambat pekerjaan. Mereka lebih suka menunda-nunda dalam melakuka pekerjaan.
  • 50% diantara mereka cenderung tidak sabar saat berinteraksi dengan konsumen atau klien.
  • Dan mayoritas diantara mereka seringkali telat masuk kantor. Kedisiplinan absensinya amburadul.

Bagi yang tidak memahami dunia stres dengan baik maka maka hal-hal tersebut diatas dengan segera akan menjadi negative role model atau contoh yang buruk bagi lingkungan seputarnya. Dan yang perlu diingat adalah bahwa contoh yang buruk jauh lebih cepat menular dibanding contoh yang baik, terlepas apakah yang mencontoh sedang mengalami stres ataukah tidak. 

Yang harus menjadi fokus kita adalah bagaimana mengatasi stres agar efek negatif beserta efek lanjutan dan efek berantainya tidak terjadi.


Ada baiknya memahami terlebih dahulu beberapa penyebab stres di dunia kerja, diantaranya adalah :

  • Terlalu banyak lembur sebagai akibat banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan. 
  • Terus menerus berada dalam tekanan yang super tinggi untuk menghasilkan kinerja tanpa diimbangi adanya kepuasan kerja.
  • Tak adanya kontrol dari diri sendiri atas apapun yang dikerjakannya.
  • Terjadinya over and/or under promotion.
  • Minimnya rasa aman di pekerjaan.
  • Ambisi yang tergagalkan. 
  • Relasi yang buruk dengan atasan, kolega, ataupun bawahan. 
  • Dinamika politik di internal organisasi perusahaan.
  • Proses delegasi yang tidak berjalan dengan optimal.
  • Tiadanya media konsultasi di internal organisasi.
  • Dan lain-lainnya.

 

Kenalilah sumber stres dengan baik. Ada baiknya kita memperhatikan saran Charles Hobbes dalam menilai suatu peristiwa ataupun keadaan:

  1. Mana keadaaan yang menurut kita tidak mampu kita kontrol dan memang sebetulnya keadaan tersebut tidak bisa kita kontrol.
  2. Mana keadaan yang menurut kita tidak mampu kita kontrol walaupun sebetulnya keadaan tersebut mampu kita kontrol.
  3. Mana keadaan yang menurut kita mampu kita kontrol namun sebetulnya tidak bisa kita kontrol.
  4. Mana keadaan yang menurut kita mampu kita kontrol namun kita tidak melakukan apapun.
  5. Mana keadaan yang menurut kita mampu kita kontrol dan pada kenyataannya kita sudah menunjukkan kemampuan itu.

Supaya terhindar dari stres yang berefek negatif, jangan coba-coba terlalu menggebu-nggebu mengatasi keadaan yang berada di poin 1 dan 3. Sudah jelas-jelas keadaan tersebut berada diluar kontrol kok masih mencoba-coba untuk mengontrol, ini namanya cari penyakit. Dalam menghadapi keadaan yang tidak bisa kontrol, tugas kita bukanlah mengontrol namun berubah menjadi menyesuaikan diri. Ya, menyesuaikan diri dengan baik. Banyak pilihan untuk menyesuaikan diri, eksplorasilah dengan baik berbagai ragam pilihan penyesuaian diri tersebut. 

Poin 2 dan 4, terjadi kesenjangan antara persepsi diri dan realitas diri. Kesenjangan ini seringkali tidak terlihat oleh diri kita sendiri bila kita mengandalkan penilaian diri hanya pada diri sendiri. Oleh karenanya jangan terlalu asyik menilai diri kita berdasarkan kaca mata sendiri. 

Jangan biarkan gelas kita selalu terisi penuh, bila demikian maka saat orang lain menuangkan air ke gelas kita maka air tersebut akan selalu tumpah. Kosongkan isi gelas kita dan mintalah orang lain mengisi gelas kita. 

Kesenjangan antara persepsi diri dan realitas diri tersebut bisa terlihat dengan baik dan jelas bila yang melakukan penilaian adalah orang lain. Diri kita telah dipenuhi banyak ego dan hal ini tentunya menghambat diri kita untuk melihat kesenjangan tersebut. Carilah pihak kedua —entah itu atasan, kolega, anak buah, ataupun pihak-pihak lain diluar organisasi yang kita percaya, untuk membantu kita melihat kesenjangan-kesenjangan antara persepsi diri dan realitas diri. Mari kosongkan gelas kita agar dengan mudahnya kita mendapatkan opini-opini ataupun pandangan-pandangan orang lain yang bisa kita manfaatkan. Kaji lebih mendalam tentang bagaimana cara merealisasikan opini-opini tersebut, dan selanjutanya mari kita implementasikan. Ada berbagai momentum dimana saat opini-opini tersebut bisa kita implementasikan, ternyata hasilnya justru mengagetkan diri kita sendiri hingga kitapun berkata: kenapa tidak dari kemarin-kemarin kita lakukan

Jangan suka menunda-nunda pekerjaan yang sebetulnya mampu kita lakukan. Penundaan pekerjaan akan menghasilkan penumpukan pekerjaan. Dan penumpukan pekerjaan akan menjadi pencetus stres. Biasakan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penting walaupun pekerjaan tersebut masih jauh dari deadline nya. 

Selain itu, rajin-rajinlah identifikasi self talk (lebih jauh tentang hal ini, silahkan membaca e-book hasil karya George Rifai yang berjudul Pengelolaan dan Pengembangan Diri). Rubahlah negative self talk menjadi positive self talk.

Dan terakhir, beristirahatlah dengan cukup serta konsumsilah makanan-makanan yang bergizi.

 



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.