Personalitas Kompetitif

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tipe personalitas ke 3 yang ingin saya bahas kali ini adalah tipe kompetitif. Tipe ini cenderung menunjukkan dirinya dengan aksi karena dengan aksi inilah yang akan membantu membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang terbaik, orang pertama melakukan, orang yang bisa melakukan, orang yang memenangkan, dan seterusnya. Orang kompetitif akan berusaha sekuat mungkin untuk menampilkan bahwa dirinya sukses dan menarik. Bahasa candaannya adalah bagaimana menjadi ter-anu di dunia lah. Orang kompetitif pengin menempatkan dirinya agar diperbincangkan orang lain, dikagumi orang lain, dan dipuji orang lain. Intinya adalah bagaimana menjadi sentra perhatian orang lain.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apakah sifat ini juga terkait dengan kisah pertumbuhan masa lalunya ? Tentunya. Orang kompetitif sebetulnya tidak hanya sekedar mengejar kesenangan dirinya semata bahkan dititik tertentu sebetulnya dirinya tidaklah senang dengan apa yang dilakukan dan apa yang dicapainya. Namun mereka ingin menyenangkan orang lain. Dan ini sudah terlatih semenjak masa pertumbuhannya. Lihatlah, di saat masa-masa pertumbuhan banyak anak sebetulnya menjadi korban keinginan orang tua. Banyak orang tuanya menginginkan anaknya juara 1 di sekolahan, juara 1 di kejuaraan tertentu, dan juara-juara 1 lainnya. Banyak diantara orang tua tidak menilai sang anak dari perkembangan minat anak namun minat orang tua. Para anak terpaksa mengikuti deskripsi sukses yang ditetapkan orang tua bukan deskripsi sukses yang diinginkannya. Sang anak mau nggak mau akhirnya berjuang memenuhi sukses orang tuanya dan lucunya saat sudah mencapai sukses tersebut —juara 1 ini dan itu, sang anak tidak terlalu bergembira dan bangga dengan posisinya tersebut namun sebaliknya orang tua bergembira luar biasa. Pujian mengalir dari orang tua dan orang-orang seputarnya terhadap sang anak. Pujian ini pada akhirnya dinikmatinya. Dipuji itu ternyata menyenangkan dan lain sebagainya. Motivasi bergeser, bukan menjadi nomer 1 namun bagaimana mendapat pujian. Nomer satu hanya dijadikan sebagai media untuk mendapatkan pujian, kekaguman, dan lain sebagainya. Dari sinilah sifat kompetitif yang menggebu-nggebu mulai tertanam. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bagaimana mendapatkan kekaguman orang lain akan menjadi sentra tujuan hidupnya. Seringkali secara tak sadar mereka menyatakan: bukankah diriku hebat ?, bukankah aku luar biasa ?, gimana bror … mantab ngga apa yang barusan aku lakukan, dan seterusnya. Fokus orang kompetitif bukanlah pada apa yang ingin dan apa yang sudah dicapainya namun lebih pada bagaimana mendapatkan kekaguman atas apa yang dicapainya. Seringkali sang kompetitif secara berulang-rulang melakukan konfirmasi akan kekaguman tersebut. Bilamana ternyata kekaguman terhadap didirina tidak didapatkan dan tidak berkembang maka yang bersangkutan akan merasa tersepelekan dan membuatnya berduka. Orang kompetitif seringkali menyimpan perasaan itu, bukan karena tersinggung namun lebih karena dirinya tidak mau mengungkapkan perasaan. Sang kompetitif terbiasa untuk menyimpan perasaan tersebut.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Daripada mengungkapkan perasaannya, akan lebih bila mencurahkan energi untuk mengalihkan ke aktivitas lain yang membantu dirinya untuk menunjukkan prestadi di aktivitas lain tersebut. Dan aktivitas lainnya tersebutlah yang bersangkutan kembali menguji kekaguman orang lain akan aktivitas baru dan pencapaiannya tersebut. Dan bila kekaguman belum juga didapatkan entah karena berhasil ataupun bahkan gagal maka yang bersangkutan akan beralih ke aktivitas lainnya. Dalam konteks di dunia kerja bahkan bisa dijumpai sebagian dari mereka tiba-tiba berhenti bekerja serta memulai karir yang kadangkala sama sekali beda dengan sebelumnya.  Dalam perlombaan kompetisi tertentu, dirinya kadang-kadang berhenti di tengah jalan. Sang kompetitif tidak mau melanjutkan kompetisi karena merasa tidak mungkin bisa menjuarai kompetisi dan berpikir bahwa apa yang dikerjakannya ternyata tidak berharga lagi bagi dirinya. Sepertinya tindakannya cukup irasional namun itulah yang terjadi. Sang kompetitif dengan mudahnya merubah lingkungan pertemanannya, lingkungan kerjanya, hobinya, bahkan merubah apa yang dipercayainya. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Di titik lain, walaupun sang tipe kompetitif sebetulnya sudah meraih ketenaran, memiliki pengikut yang setia, dan mendapatkan status sebagai idaman namun yang berangkutan masih penasaran apakah dirinya masih bisa mempertahankan hal-hal tersebut. Kepenasaran ini menimbulkan kegundahan yang amat sangat pada dirinya. Membayangkan dirinya kehilangan ketenaran dan sebagainya amatlah menakutkan. Orang kompetitif akan berusaha untuk tetap bisa tampil menunjukkan ketangkasannya dalam melakukan sesuatu agar dirinya tetap berada dalam kondisi ketenaran. Bila ada yang meragukan akan ketangkasannya maka yang bersangkutan akan dengan mudahnya merasa tersakiti. Orang kompetitif sangat tidak menyukai kegagalan. Membayangkan diirinya gagal saja sangatlah tidak menyenangkan apalagi benar-benar mengalami kegagalan. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Oleh karena itu, orang kompetitif lebih suka untuk berpura-pura tidak gagal daripada mengakui dirinya gagal. Dalam segala aspek kehidupan, sang kompetitif amat sangat sulit mengakui kegagalan termasuk dalam urusan cinta. Bila sang kompetitif gagal dalam bercinta atau bahkan ditinggalkan oleh orang yang amat dicintainya, dia tidak menunjukkan kesedihan ataupun kedukaan. Tak ada reaksi yang berarti dari sang kompetitif tersebut, respon <em>cool</em> - nya menjadi misteri tersendiri dari orang lain yang melihatnya. Respon cool dan tidak mau mendiskusikan <em>kegagalan/kedukaan</em> ini menyebabkan yang bersangkutan agak lambat untuk belajar dari kegagalan dan kedukaan yang dialaminya.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sisi-sisi positif dari sang kompetitif adalah orangnya supel, pandai bergaul, spontan, dan tentunya sangat kompetitif. Dan karena keinginan untuk menjuarai sesuatu sangat tinggi maka sang kompetitif rela berlatih dengan gigihnya selama label juara tersebut menurut persepsi dirinya bisa diraih. Sang kompetitif juga sangat menyukai tantangan baru, mudah mempelajari yang baru, dan mudah meleburkan diri ke dalam hal-hal yang baru sama sekali. Dengan kata lain sang kompetitif sangatlah adaptif. Sang kompetitif sangat mudah membuat orang lain menyenanginya. Rasa ingin tahunya besar terhadap segala sesuatu. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Bagi pemilik sifat kompetitif yang sudah berkembang positif, mereka sangat hangat dan terbuka. Mereka bisa menceritakan kegagalannya dengan enteng saja dan dengan mudahnya bisa menceritakan pembelajaran-pembelajaran yang didapatkannya agar orang lain tidak mengalami kegagalan yang sama seperti dirinya. Dirinya sangat berkeinginan untuk menjadi juara 1 namun bila tidak bisa diraihnya dan tidak mendapatkan kekaguman dari orang lain maka yang bersangkutan sudah bisa menerima hal ini sebagai kewajaran dan tidak menghindar lagi. Sang kompetitif rela untuk belajar lagi agar juara 1 tetap bisa diraihnya di periode berikutnya. Sang kompetitif tidak lagi menyandarkan ketenaran dirinya berdasarkan pada apa yang berhasil diraihnya namun berdasarkan <em>take and give</em> yang proporsional atau bahkan dengan banyak memberi.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"> </p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px"><strong>Bagaimana membantu sang kompetitif yang belum berkembang positif ?</strong></span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Tunjukkan bahwa kekaguman pada dirinya bukan karena dirinya meraih juara 1 saja. Berikan pujian-pujian terhadap hal-hal positif yang dilakukannya terlepas dia mendapatkan juara 1 ataukah tidak. Tunjukkan cinta tak bersyarat kita. Juara 1 penting namun jauh lebih penting lagi melihat dirinya terus berkembang. </span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Pada dirinya merasa gagal, dekati dan pelan tanyakan apa saja yang dirasakannya. Jangan menghakimi perasaan apapun yang diungkapkan, dengarkan dan tanyakan apakah dirinya sangat terganggu perasaan-perasaan tersebut. Tanyakan respon-respon orang lain yang mengkuatirkan dirinya termasuk respon kita. Katakan bahwa kekuatiran-kekuatiran itu tidaklah berdasar karena respon kitapun sebetulnya tidak sebagaimana yang dikatakan.   Sampaikan respon-respon positif kita terhadap apa yang sedang dialaminya:</span></span></p>

<ul>
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Apa yang kamu alami persis seperti yang aku alami sebelumnya, saya banyak mendapatkan pembelajaran dari kasus tersebut yakni …… dan sayapun berpikir bahwa kamu akan mendapatkan hal-hal positif sebagaimana diriku. Makanya tak ada secuilpun respon negatifku terhadap peristiwa yang sedang kamu alami.  Bagaimana menurutmu ? Apa yang bisa kamu rasakan setelah kamu tahu bahwa tak secuilpun respon negatifku terhadapmu ?</span></span></li>
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Juara 1 ataupun tidak, kamu tetap kesayanganmu. Aku memiliki banyak kekaguman terhadap dirimu walaupun juara tidak ada di tanganmu. Berbagai kekagumanku atasmu adalah ………</span></span></li>
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Masihkah kamu menginginkan juara 1 ? Bila masih, dukungan-dukungan seperti apakah yang diperlukan dariku ? Persiapan-persiapan diri seperti apakah yang akan lakukan agar kamu bisa meraihnya di kemudian hari ?</span></span></li>
	<li style="text-align: justify;"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dan seterusnya. </span></span></li>
</ul>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Sampaikan ke orang kompetitif bahwa indahnya kehidupan bukanlah terletak pada adanya kekaguman orang lain, ketenaran, dan lain sebagainya. Indahnya kehidupan terletak pada seberapa jauh seseorang bisa menikmati setiap momen perjalanan hidupnya tanpa harus dibebani ada orang senang ama kita ataukah tidak. Tanpa dibebani orang lain mengagumi kita ataukah tidak.</span></span></p>

<p style="text-align:justify"><span style="font-family:Verdana,Geneva,sans-serif"><span style="font-size:14px">Dan terakhir, apakah saat ini anda memerankan diri sebagai orang kompetitif ataukah sedang bersama orang kompetitif ?</span></span></p>

Tipe personalitas ke 3 yang ingin saya bahas kali ini adalah tipe kompetitif. Tipe ini cenderung menunjukkan dirinya dengan aksi karena dengan aksi inilah yang akan membantu membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang terbaik, orang pertama melakukan, orang yang bisa melakukan, orang yang memenangkan, dan seterusnya. Orang kompetitif akan berusaha sekuat mungkin untuk menampilkan bahwa dirinya sukses dan menarik. Bahasa candaannya adalah bagaimana menjadi ter-anu di dunia lah. Orang kompetitif pengin menempatkan dirinya agar diperbincangkan orang lain, dikagumi orang lain, dan dipuji orang lain. Intinya adalah bagaimana menjadi sentra perhatian orang lain.

Apakah sifat ini juga terkait dengan kisah pertumbuhan masa lalunya ? Tentunya. Orang kompetitif sebetulnya tidak hanya sekedar mengejar kesenangan dirinya semata bahkan dititik tertentu sebetulnya dirinya tidaklah senang dengan apa yang dilakukan dan apa yang dicapainya. Namun mereka ingin menyenangkan orang lain. Dan ini sudah terlatih semenjak masa pertumbuhannya. Lihatlah, di saat masa-masa pertumbuhan banyak anak sebetulnya menjadi korban keinginan orang tua. Banyak orang tuanya menginginkan anaknya juara 1 di sekolahan, juara 1 di kejuaraan tertentu, dan juara-juara 1 lainnya. Banyak diantara orang tua tidak menilai sang anak dari perkembangan minat anak namun minat orang tua. Para anak terpaksa mengikuti deskripsi sukses yang ditetapkan orang tua bukan deskripsi sukses yang diinginkannya. Sang anak mau nggak mau akhirnya berjuang memenuhi sukses orang tuanya dan lucunya saat sudah mencapai sukses tersebut —juara 1 ini dan itu, sang anak tidak terlalu bergembira dan bangga dengan posisinya tersebut namun sebaliknya orang tua bergembira luar biasa. Pujian mengalir dari orang tua dan orang-orang seputarnya terhadap sang anak. Pujian ini pada akhirnya dinikmatinya. Dipuji itu ternyata menyenangkan dan lain sebagainya. Motivasi bergeser, bukan menjadi nomer 1 namun bagaimana mendapat pujian. Nomer satu hanya dijadikan sebagai media untuk mendapatkan pujian, kekaguman, dan lain sebagainya. Dari sinilah sifat kompetitif yang menggebu-nggebu mulai tertanam. 

Bagaimana mendapatkan kekaguman orang lain akan menjadi sentra tujuan hidupnya. Seringkali secara tak sadar mereka menyatakan: bukankah diriku hebat ?, bukankah aku luar biasa ?, gimana bror … mantab ngga apa yang barusan aku lakukan, dan seterusnya. Fokus orang kompetitif bukanlah pada apa yang ingin dan apa yang sudah dicapainya namun lebih pada bagaimana mendapatkan kekaguman atas apa yang dicapainya. Seringkali sang kompetitif secara berulang-rulang melakukan konfirmasi akan kekaguman tersebut. Bilamana ternyata kekaguman terhadap didirina tidak didapatkan dan tidak berkembang maka yang bersangkutan akan merasa tersepelekan dan membuatnya berduka. Orang kompetitif seringkali menyimpan perasaan itu, bukan karena tersinggung namun lebih karena dirinya tidak mau mengungkapkan perasaan. Sang kompetitif terbiasa untuk menyimpan perasaan tersebut.

Daripada mengungkapkan perasaannya, akan lebih bila mencurahkan energi untuk mengalihkan ke aktivitas lain yang membantu dirinya untuk menunjukkan prestadi di aktivitas lain tersebut. Dan aktivitas lainnya tersebutlah yang bersangkutan kembali menguji kekaguman orang lain akan aktivitas baru dan pencapaiannya tersebut. Dan bila kekaguman belum juga didapatkan entah karena berhasil ataupun bahkan gagal maka yang bersangkutan akan beralih ke aktivitas lainnya. Dalam konteks di dunia kerja bahkan bisa dijumpai sebagian dari mereka tiba-tiba berhenti bekerja serta memulai karir yang kadangkala sama sekali beda dengan sebelumnya.  Dalam perlombaan kompetisi tertentu, dirinya kadang-kadang berhenti di tengah jalan. Sang kompetitif tidak mau melanjutkan kompetisi karena merasa tidak mungkin bisa menjuarai kompetisi dan berpikir bahwa apa yang dikerjakannya ternyata tidak berharga lagi bagi dirinya. Sepertinya tindakannya cukup irasional namun itulah yang terjadi. Sang kompetitif dengan mudahnya merubah lingkungan pertemanannya, lingkungan kerjanya, hobinya, bahkan merubah apa yang dipercayainya. 

Di titik lain, walaupun sang tipe kompetitif sebetulnya sudah meraih ketenaran, memiliki pengikut yang setia, dan mendapatkan status sebagai idaman namun yang berangkutan masih penasaran apakah dirinya masih bisa mempertahankan hal-hal tersebut. Kepenasaran ini menimbulkan kegundahan yang amat sangat pada dirinya. Membayangkan dirinya kehilangan ketenaran dan sebagainya amatlah menakutkan. Orang kompetitif akan berusaha untuk tetap bisa tampil menunjukkan ketangkasannya dalam melakukan sesuatu agar dirinya tetap berada dalam kondisi ketenaran. Bila ada yang meragukan akan ketangkasannya maka yang bersangkutan akan dengan mudahnya merasa tersakiti. Orang kompetitif sangat tidak menyukai kegagalan. Membayangkan diirinya gagal saja sangatlah tidak menyenangkan apalagi benar-benar mengalami kegagalan. 


Oleh karena itu, orang kompetitif lebih suka untuk berpura-pura tidak gagal daripada mengakui dirinya gagal. Dalam segala aspek kehidupan, sang kompetitif amat sangat sulit mengakui kegagalan termasuk dalam urusan cinta. Bila sang kompetitif gagal dalam bercinta atau bahkan ditinggalkan oleh orang yang amat dicintainya, dia tidak menunjukkan kesedihan ataupun kedukaan. Tak ada reaksi yang berarti dari sang kompetitif tersebut, respon cool - nya menjadi misteri tersendiri dari orang lain yang melihatnya. Respon cool dan tidak mau mendiskusikan kegagalan/kedukaan ini menyebabkan yang bersangkutan agak lambat untuk belajar dari kegagalan dan kedukaan yang dialaminya.

Sisi-sisi positif dari sang kompetitif adalah orangnya supel, pandai bergaul, spontan, dan tentunya sangat kompetitif. Dan karena keinginan untuk menjuarai sesuatu sangat tinggi maka sang kompetitif rela berlatih dengan gigihnya selama label juara tersebut menurut persepsi dirinya bisa diraih. Sang kompetitif juga sangat menyukai tantangan baru, mudah mempelajari yang baru, dan mudah meleburkan diri ke dalam hal-hal yang baru sama sekali. Dengan kata lain sang kompetitif sangatlah adaptif. Sang kompetitif sangat mudah membuat orang lain menyenanginya. Rasa ingin tahunya besar terhadap segala sesuatu. 

Bagi pemilik sifat kompetitif yang sudah berkembang positif, mereka sangat hangat dan terbuka. Mereka bisa menceritakan kegagalannya dengan enteng saja dan dengan mudahnya bisa menceritakan pembelajaran-pembelajaran yang didapatkannya agar orang lain tidak mengalami kegagalan yang sama seperti dirinya. Dirinya sangat berkeinginan untuk menjadi juara 1 namun bila tidak bisa diraihnya dan tidak mendapatkan kekaguman dari orang lain maka yang bersangkutan sudah bisa menerima hal ini sebagai kewajaran dan tidak menghindar lagi. Sang kompetitif rela untuk belajar lagi agar juara 1 tetap bisa diraihnya di periode berikutnya. Sang kompetitif tidak lagi menyandarkan ketenaran dirinya berdasarkan pada apa yang berhasil diraihnya namun berdasarkan take and give yang proporsional atau bahkan dengan banyak memberi.

 

Bagaimana membantu sang kompetitif yang belum berkembang positif ?

Tunjukkan bahwa kekaguman pada dirinya bukan karena dirinya meraih juara 1 saja. Berikan pujian-pujian terhadap hal-hal positif yang dilakukannya terlepas dia mendapatkan juara 1 ataukah tidak. Tunjukkan cinta tak bersyarat kita. Juara 1 penting namun jauh lebih penting lagi melihat dirinya terus berkembang. 

Pada dirinya merasa gagal, dekati dan pelan tanyakan apa saja yang dirasakannya. Jangan menghakimi perasaan apapun yang diungkapkan, dengarkan dan tanyakan apakah dirinya sangat terganggu perasaan-perasaan tersebut. Tanyakan respon-respon orang lain yang mengkuatirkan dirinya termasuk respon kita. Katakan bahwa kekuatiran-kekuatiran itu tidaklah berdasar karena respon kitapun sebetulnya tidak sebagaimana yang dikatakan.   Sampaikan respon-respon positif kita terhadap apa yang sedang dialaminya:

  • Apa yang kamu alami persis seperti yang aku alami sebelumnya, saya banyak mendapatkan pembelajaran dari kasus tersebut yakni …… dan sayapun berpikir bahwa kamu akan mendapatkan hal-hal positif sebagaimana diriku. Makanya tak ada secuilpun respon negatifku terhadap peristiwa yang sedang kamu alami.  Bagaimana menurutmu ? Apa yang bisa kamu rasakan setelah kamu tahu bahwa tak secuilpun respon negatifku terhadapmu ?
  • Juara 1 ataupun tidak, kamu tetap kesayanganmu. Aku memiliki banyak kekaguman terhadap dirimu walaupun juara tidak ada di tanganmu. Berbagai kekagumanku atasmu adalah ………
  • Masihkah kamu menginginkan juara 1 ? Bila masih, dukungan-dukungan seperti apakah yang diperlukan dariku ? Persiapan-persiapan diri seperti apakah yang akan lakukan agar kamu bisa meraihnya di kemudian hari ?
  • Dan seterusnya. 

Sampaikan ke orang kompetitif bahwa indahnya kehidupan bukanlah terletak pada adanya kekaguman orang lain, ketenaran, dan lain sebagainya. Indahnya kehidupan terletak pada seberapa jauh seseorang bisa menikmati setiap momen perjalanan hidupnya tanpa harus dibebani ada orang senang ama kita ataukah tidak. Tanpa dibebani orang lain mengagumi kita ataukah tidak.

Dan terakhir, apakah saat ini anda memerankan diri sebagai orang kompetitif ataukah sedang bersama orang kompetitif ?



Ulasan Pembaca



Silahkan LOGIN dan berikan ulasan atau diskusi yang positif.